Setelah kejadian buruk yang menimpa mereka. Masing-masing dari mereka mulai menjalani kehidupan sehari-harinya lagi. Sementara Jaka, Jaki, dan Jio terus bolak-balik dari Jakarta ke Banten karna kondisi Jia yang masih harus dirawat di rumah sakit disana.
Sekarang sedang jam besuk, meskipun mereka hanya bisa melihat Kakaknya terbaring lemah dirumah sakit tapi mereka tetap konsisten menjenguknya. Dan berharap Kakaknya segera tersadar dari komanya.
Dua belas hari tak terasa telah berlalu dengan sangat cepat dan begitu berliku. Dalam waktu dua belas hari mereka mampu mendapatkan begitu banyak masalah yang bertubi-tubi.
Namun dibalik seluruh masalah buruk itu, ada satu hal baik yang datang dan menutupi seluruh masalah itu.
Jaka pulang.
Dua kata namun sangat berarti, tak dapat dipungkiri betapa canggungnya Jaki dan Jio harus satu atap lagi dengan Jaka setelah insiden Jaka kabur dari rumah sampai hampir empat bulan, tapi perlahan mereka semakin membaik setelah beberapa kejadian yang membuat mereka banjir air mata.
Untungnya, Jaka juga gak dapat hukuman. Katanya, karena dia cuma jadi petinju bayaran dan gak terlibat hal-hal berat. Entah karena mereka kasian, atau ada "orang dalam" yang bantu. Tapi Jaka benar-benar dibebaskan.
Seperti biasa, setiap habis sekolah mereka bertiga menjenguk Jia. Bedanya, cuma Jaki dan Jio yang masih sekolah. Jaka... sekolah memutuskan untuk gak lanjutkan dia ke perguruan tinggi karena terlalu lama bolos.
Tahun ajaran baru nanti, Jaka bakal sekelas lagi sama kembarannya.
Suasana rumah sakit masih sama: sunyi, dan selalu punya hawa yang nggak enak. Mereka bertiga pun ngerasa begitu setiap datang ke sana.
Jio jadi yang pertama masuk ke ruangan Jia. Biasanya dia yang paling excited dan paling duluan nyamperin kakaknya, meskipun Jaka dan Jaki juga sama kangennya.
Tapi... si bungsu harus diutamakan.
Sudah jadi rutinitas Jio nulis surat setiap hari buat Jia. Dibacain langsung sambil megang tangan dingin kakaknya. Awalnya dia doang yang nulis surat. Tapi dua hari terakhir, teman-teman Jia juga mulai nitipin surat. Mungkin Jia nggak bisa dengar sekarang, tapi nanti... ketika dia sadar, dia pasti akan baca semuanya. Dan tahu—betapa banyak orang yang sayang dan nunggu dia bangun.
"...terus tadi Adek dapet nilai ulangan pjok seratus, dan sisanya juga diatas sembilan puluh semua, kecuali nilai bahasa indonesia Adek dapet empat puluh. Lagian opsinya bisa buat dijawab semua kan Adek jadi bingung eh dapet empat puluh? Ya bukan salah Adek jugalah." Jio mengakhiri ceritanya dengan senyuman pahit, sebenarnya dia sangat sedih tapi setidaknya ia bisa melihat Kakaknya dengan dekat.
"Kak ayo bangun aku kangen banget dipeluk kamu." Ia menutup surat itu dan meletakannya dikotak yang berisi surat dari kerabat lainnya.
Ponselnya berbunyi—Jaka nelpon. Waktunya gantian.
Sebelum keluar, Jio mencium kening kakaknya. Sama seperti biasa. Dengan doa yang selalu sama.
Setiap hari Jio belajar untuk kuat. Dia gak mau nangis tiap lewat kamar Jia yang kosong, meskipun rasanya sesak. Bahkan dia rela bangun tiap adzan subuh demi mendoakan kakaknya.
Keluar ruangan, Jio langsung dipeluk hangat oleh Jaki. Gantian. Kali ini giliran Jaka.
Jujur aja... sebenarnya Jio kangen banget sama abang yang satu itu. Bahkan beberapa hari lalu, mereka bertiga—Jaka, Jaki, dan Jio—nangis bareng. Jio peluk Jaka, Jaki peluk Jaka, dan mereka semua jadi emosional karena satu hal.
KAMU SEDANG MEMBACA
J Sibling's
FanfictionEmpat bersaudara-Jia, Jaka, Jaki, dan Jio-hidup di bawah satu atap dengan sejuta dinamika keluarga. Meski terlihat seperti keluarga sempurna, setiap dari mereka menyimpan luka dan keinginan yang tak terucap.
