Sepulangnya Harsa dari hotel, cepat-cepat ia menghubungkan beberapa orang yang dapat dijadikan bantuan.
Dan dia memutuskan untuk bertemu dengan—
Jaki.
Pintu rumahnya seperti biasa tidak dikunci, dengan sangat mudah ia bisa masuk begitu saja hingga akhirnya ia sampai didepan pintu kamar Jaki.
Ia tak peduli rasanya ingin disangka seperti apa sama Jaki, tapi ini penting banget.
"Ki kita harus selesaiin sekarang." Ujarnya langsung ketika membuka pintu kamar Jaki.
Tak disangka ia melihat Jaki sedang duduk dipinggiran kasur sembari memegang album keluarganya.
Namun terlihat jelas cepat-cepat Jaki menyembunyikan album itu.
Harsa langsung nyelonong masuk kemudian mulai mengeluarkan smartwatch Jia yang ia colong tadi dan beberapa foto yang ia jepret dari ponsel Jia.
Dia juga mulai menjelaskan panjang lebar namun Jaki malah memotongnya.
"Sa gue minta maaf." Pintanya tulus namun tak digubris dengan Harsa sama sekali, ia masih meneruskan strateginya.
"Sa gue serius minta maaf..." Dua kali namun tetap dengan respon yang sama.
"Sa ayolah maafin gue dong." Tiga kali dengan respon yang sama juga.
"SA! DENGER GUE DONG! GUE MINTA MAAF!"
Akhirnya Harsa merespon Jaki, ia menatap sohibnya itu dalam-dalam, mungkin anak itu memang konyol dan tidak tahu diri, tapi dilubuk hatinya yang paling dalam ternyata ia masih sangat peduli dengan anak itu.
"Ok." Jawabnya singkat, padat, dan jelas.
Sebenarnya ia masih sok jual mahal, padahal mah dalem hati udah pingin ngobrol hal-hal sepele kaya biasa.
"Dih serius kek lu," Protes Jaki yang merasa kurang suka dengan responnya.
"Ya." Jawab Harsa sok dingin.
"Najis sok ganteng." Celetuk Jaki berniat meledek.
Bibir Harsa perlahan membuat senyum simpul, senang rasanya bisa berbincang dengan Jaki lagi.
"Gantenglah gue." Jawabnya enteng dan menatap Jaki tengil.
Jaki tersenyum manis dan membalas dengan tatapan tengil, "Lu jelek Sa."
"Pas lagi marah sama gue." Sambungnya dengan wajah penuh penyesalan.
Harsa kemudian memegang bahu Jaki, "Gue tau Ki lo kangen kan sama gue." Katanya kepedean.
Tapi lucunya Jaki malah mengangguk kaku, dan itu membuat Harsa juga senang karna Jaki mengakui kerinduannya—lalu ia memeluk Jaki secara tiba-tiba.
"Sorry." Katanya kemudian melepaskan pelukan itu.
Namun Jaki malah menarik Harsa kedalam pelukannya lagi, "Sumpah maafin gue waktu itu ngomong yang engga-engga ke lo, gue soalnya lagi—"
"Gapapa gue paham, sekarang kita fokus buat nyari Jaka, sebelum keduluan Kakak lo yang udah bikin rencana gila ini." Cela Harsa cepat.
"Dia gimana Sa sama lo?" Tanya Jaki kemudian.
"Biasa aja sih. Tadi gue juga baru ngobrol lagi sama dia."
"Trus tadi dia lagi sakit." Sambung Harsa lagi.
"Kok lo tinggal?"
"Kalo gue tungguin nanti bikin strateginya kelamaan."
Jaki mendekat dan mulai membuka telinga lebar-lebar untuk menyimak apa yang sohibnya katakan.
"Ki gue harap lo gak kaget."
KAMU SEDANG MEMBACA
J Sibling's
FanfictionEmpat bersaudara-Jia, Jaka, Jaki, dan Jio-hidup di bawah satu atap dengan sejuta dinamika keluarga. Meski terlihat seperti keluarga sempurna, setiap dari mereka menyimpan luka dan keinginan yang tak terucap.
