RUNA
"Nak, sarapannya yang bener, dong. Jangan sambil main hape." Seperti biasa Mama menegurku karena makan sambil memusatkan perhatian ke layar ponselku. Buat beliau makan sambil melakukan hal lain sama saja tidak menghargai makanan. Aku pun meletakkan ponselku daripada Mama terus mengomel.
"Susah lagi, Ma, kalau nggak main hape. Kan buat kerjaan juga, aku mesti riset segala macem."
"Nak, Mama cuma bisa masak buat kamu. Cuma bisa menghidangkan makanan buat kamu. Yang lain-lain Mama nggak bisa ngasih. Jadi kalau bisa jangan sampai nggak dinikmati. Mama bukan Ayah kamu yang bisa ngasih apa aja—"
"Ma," tidak kuasa aku memotong Mamaku berbicara. "Runa kan udah bilang berkali-kali, nggak usah bawa-bawa soal harta. Runa sekarang udah mandiri, udah kerja. Mama jangan banding-bandingin diri sama Ayah gitu dong." Aku berusaha berkata setenang mungkin, padahal dalam hati aku gemas dengan pembicaraan ini.
Mama menatapku sejenak. Raut wajahnya sedikit berubah.
"Iya, Mama senang kamu udah mulai mandiri sekarang. Tapi kamu tetap nggak boleh seakan-akan kamu nggak butuh Ayahmu dan keluarganya. Kita kan nggak tahu apa yang akan terjadi," ucap Mama dengan lembut.
Aku pun berusaha mengalah dan tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini. Jangan sampai pagi ini aku sudah bad mood dan berdampak ke rutinitasku seharian nanti.
***
Hari ini berjalan sangat lambat. Project yang kami jalani mulai berjalan dan intensitas pekerjaanku juga bertambah drastis. Dari mulai market research sampai menentukan strategi digital marketing yang sesuai dengan target pasar kami.
Sampai sore kerjaanku tidak juga selesai, yang ada malah semakin menumpuk. Hingga akhirnya pukul 8 malam aku sudah bisa pulang ketika kantor sudah benar-benar sepi.
Namun ketika di depan lift aku bertemu dengan Satya yang sepertinya juga akan pulang. Aku baru tahu kalau ia juga masih ada di kantor. Kebetulan ruangannya memang tidak begitu dekat dari meja kerjaku. Aku sempat melemparkan senyum sopan kepadanya, yang hanya dibalasnya dengan senyuman kecil.
Lift pun tiba dan kami berdua masuk ke dalamnya. Di dalam lift aku membuat jarak dengan Satya, berhubung kami tidak begitu akrab. Aku berdiri di depan sedangkan Satya berdiri lebih di belakang.
Di dalam keheningan, tiba-tiba lift berhenti bergerak dan menghentak yang membuatku sempat oleng. Tadinya aku kira lift ini berhenti untuk mengangkut penumpang di lantai lain. Tetapi setelah beberapa saat, lift ini tidak juga terbuka atau menunjukkan pergerakan apapun. Layar digital kecil di dalam lift ini hanya menunjukkan bahwa kami sedang berada di lantai 11.
Spontan aku melihat ke arah Satya di belakang. Kami pun lihat-lihatan dengan wajah bingung. Lalu ia berinisiatif untuk memencet tombol 'Open'.
Masih tidak ada pergerakan. Pintu lift ini tidak terbuka sama sekali.
Kemudian ia pun memencet tombol 'Emergency'. Terdengar ada bunyi sambungan telepon selama beberapa detik. Namun entah kenapa setelah beberapa saat, tidak ada yang menyahut sama sekali. Ia pun mencoba lagi dan lagi. Hasilnya masih sama.
Di waktu yang bersamaan aku meraih ponsel dari dalam tas. Benar saja, tidak ada sinyal sama sekali. Aku pun mulai tidak mempercayai apa yang sedang terjadi.
AM I REALLY STUCK IN THIS LIFT WITH MY OWN BOSS?! REALLY??
"Gimana ini?" tanyaku dengan muka cemas.
Satya tampak terdiam sambil melihat ke arah tombol. Sepertinya ia sedang berpikir keras harus melakukan apa. Sejenak kemudian ia memegang pangkal hidungnya dengan mata terpejam. Sama sepertiku, ia pasti juga tidak percaya dengan situasi yang sedang menimpa kami.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Runa
ChickLitSeorang Runa Hariadi seharusnya menjalani hidup dengan begitu mudah dan serba mewah. Namun sesuai dengan sifatnya yang lembut tapi rebel, ia justru mengambil jalan hidup yang lebih sulit. Runa memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan fast-moving c...
