SATYA
Bruh...
Bohong banget lah kalau gue nggak gugup. Diterima aja belum, tapi udah disuruh datang ke acara keluarganya. Mana reputasi gue kayaknya udah jelek di mata sepupunya, si Rio. Belum lagi bokapnya yang terkenal angker itu.
Tapi demi mempertahankan nama baik keluarga dan Adipa, terutama nama baik seorang Gana Wiranegara, gue nggak boleh gentar dan gagal dalam urusan ini. Apapun bakalan gue lalui demi mendapatkan Runa kembali. Dan gue juga setuju kami nggak perlu buang-buang waktu lagi seperti anak SMP baru pacaran, kami harus langsung masuk ke ranah keluarga.
Kata Runa malam ini Tante Soraya mengadakan acara kumpul keluarga untuk menyambut anak bungsunya yang baru selesai S2 di Bern. Nah, gue bingung ini acara formal, semi-formal, atau santai? Acaranya skala kecil apa besar? Masalahnya gue jadi bingung mau pakai baju apa. Pas gue nanya Runa dia cuma jawab, "pake yang kamu nyaman aja."
Lah? Nyaman tapi kalau salah kostum gimana? Kalau gue datang pake t-shirt terus ternyata di sana pada pakai black tie, apa nggak bakalan di-blacklist gue sama keluarganya?
Yaudah lah, gue memutuskan buat pakai yang standar aja: kemeja tangan panjang digulung sesiku dan celana chino warna netral. Tampilan yang sangat pas buat persidangan keluarga nanti.
Jam 18.30 tepat gue pun menjemput Runa di apartemennya. Selama di perjalanan kami nggak banyak mengobrol. Sepertinya dia juga gugup, atau mungkin belum nyaman berduaan sama gue kayak gini. Tapi nggak apa-apa, gue juga lagi terlalu grogi buat ngobrol basa-basi dengan dia.
Kepada Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, tolong berikanlah kekuatan dan kemenangan buat gue malam ini.
***
Begitu sampai di rumah Tante Soraya, terlihat beberapa mobil diparkir di sekitar rumahnya. Sepertinya beberapa orang tamu sudah datang.
Gue mengekori Runa di belakang ketika memasuki rumah Tante Soraya. Pertama-tama kami melewati area foyer yang terdapat sebuah meja bundar besar di tengahnya, dan sebuah vas bunga segar (maybe) di atasnya. Lalu akhirnya kami tiba di sebuah ruang keluarga besar yang sudah diduduki beberapa orang. Namun gue belum melihat satupun sosok yang gue kenal.
"Runa!" sapa sesosok wanita paruh baya dengan wajah ceria sambil mendekati kami.
"Tante..." Runa dan wanita tersebut pun berpelukan. Gue menduga wanita ini adalah Tante Soraya.
"Tante senang sekali kamu bisa datang!"
"Pasti Runa datang dong kalau Tante ngundang," balas Runa dengan senyum ramah. "Oya, Tante," Runa menoleh ke belakang. Alright, this is my time to shine. "Kenalin ini Satya."
Dengan pembawaan terbaik, gue pun tersenyum ramah dan mengulurkan tangan, sembari menyembunyikan rasa gugup. Bagaimana pun gue harus terlihat percaya diri di depan keluarganya.
Tante Soraya memperhatikan gue sejenak dengan pandangan takjub, lalu mengulurkan tangan ke arah gue sehingga kami bersalaman. "Udah lama kenal Runa?" tanyanya dengan lembut.
Gue pun melirik Runa sekilas karena takut salah ngomong. Namun dia tidak bereaksi sama sekali.
"Lumayan, Tante..." jawab gue rada kikuk.
Apa gue harus cerita kalau Runa pernah kerja di Adipa sama gue? Apa beliau perlu tahu kami pernah pacaran sebelum Runa berangkat ke—
Pikiran gue terhenti seketika begitu melihat sosok Rio turun dari tangga, diikuti seorang laki-laki yang kemungkinan adalah Redi, adiknya yang baru selesai S2 itu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Runa
Chick-Lit-TAMAT- Seorang Runa Hariadi seharusnya menjalani hidup dengan begitu mudah dan serba mewah. Namun sesuai dengan sifatnya yang lembut tapi rebel, ia justru mengambil jalan hidup yang lebih sulit. Runa memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan fast...
