Pertanyaan

14.9K 1.8K 49
                                        

RUNA

Aku masih ingat kegugupan yang aku rasakan sebulanan yang lalu ketika menjalani wawancara kerja. Tapi ketegangan saat itu tidak ada apa-apanya dibanding yang aku rasakan saat ini. Satya sudah berdiri di depanku dengan wajah penuh pertanyaan dan meminta penjelasan.

Kami berdua berada di luar area ballroom yang sepi, hanya terdengar sayup-sayup suara musik dari dalam yang berdentum halus.

"Jadi?"

"Jadi?" Aku membeo.

"Ada hubungan apa kamu sama Tarama?"

Aku seharusnya tahu pertanyaan ini akan tiba cepat atau lambat di dalam hidupku. Tapi aku tidak pernah mengira datangnya akan secepat ini.

Aku pun menundukkan kepala. "Umm, nemenin Tante," jawabku ragu.

"Tante kamu?"

"Iya, yang duduk di sebelah saya tadi."

Satya seperti sedang membaca ekspresi di wajahku. "Kamu nggak jawab pertanyaan saya. Hubungannya apa dengan Tarama? Saya bisa lihat dengan jelas tadi kamu duduk di mejanya Tarama."

Kepalaku berusaha keras untuk mempertimbangkan segala opsi jawaban yang aku punya. Bisakah aku berbohong? Tapi aku yakin tidak ada kebohongan yang cukup canggih untuk menutupi identitas asliku untuk seterusnya. Satya cukup pintar untuk bisa mencari fakta sendiri walaupun aku tidak berterus terang kali ini.

"Saya cucunya Aslan Hariadi... Founder Tarama." Aku pun menjawab dengan suara bergetar dan kepala yang sedikit menunduk.

Hening. Satya tidak berkata apa-apa hingga aku pun mengangkat kepala karena penasaran dengan reaksinya saat ini.

Ternyata Satya sedang melihat ke arah lain dengan mata yang menyipit dan kedua tangan yang disematkan ke dalam kantong celananya. Terlihat jelas bahwa ia cukup kaget dan sedang memproses informasi baru yang aku katakan barusan.

Lalu ia kembali menoleh ke arahku. "Saya tahu nama belakang kamu Hariadi, tapi nggak pernah terpikirkan sedikit pun bahwa kamu ada hubungannya dengan Hariadi clan dari Tarama International."

Glek. Aku merasa semakin tersudut dengan tatapan dan intonasi bicara Satya yang semakin tegas.

"Jadi karena itu kamu nggak punya social media?"

"Huh?"

"Saya pernah googling nama kamu, tapi nggak muncul apa-apa. Nggak ada Facebook, nggak ada Instagram, atau LinkedIn sekalipun. Is that why?"

"Kamu googling nama saya? Buat apa?"

Satya memandangku dengan wajah yang tidak bisa aku artikan. "Menurut kamu kenapa?"

Aku terdiam, bingung dengan maksudnya.

"Saya punya Instagram, tapi nggak pakai nama yang jelas. Jadi cuma teman-teman dekat aja yang follow saya," jawabku jujur.

"Kamu juga jarang ke party ya?"

Aku mengernyitkan dahi. Pertanyaan macam apa ini?

"Saya juga nggak pernah melihat nama kamu di berita atau artikel majalah lifestyle manapun. Bukannya Tarama International sering bikin acara?"

"Oh... Yeah. I hate it. Saya nggak suka acara-acara sosial nggak penting kayak gitu. Malam ini saja saya terpaksa datang karena-"

"Runa!"

Aku menoleh. Kak Rio sedang berjalan mendekatiku. Mendekati kami lebih tepatnya. Sial!

"Tante nyariin tuh. Mau dikenalin sama temannya."

Rahasia RunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang