RUNA
Satya memang tidak pandai berbohong. Ia bukan aku yang bisa menyimpan banyak rahasia dalam waktu yang lama.
Ia sempat tercekat ketika aku mengatakan apa yang Kak Rio telah ceritakan kepadaku. Kak Rio hanya khawatir bahwa hal tersebut justru akan membahayakan hubungan kami ke depannya.
"Kenapa? Kenapa kamu mau aja diminta Ayah buat mengerjakan proyek itu? Tanggung jawab kamu udah besar sekali di sini, jangan ditambah-tambah lagi, Satya."
Dia tampak sulit berkata-kata. Aku bisa melihat cekungan hitam di bawah matanya, pada wajah yang terlihat letih, dengan rambut yang tidak serapi biasanya.
"It's ok, Runa. Dengan cara ini aku bisa membuktikan ke beliau kalau—"
"Kamu nggak perlu membuktikan apa-apa!" potongku dengan cukup emosional. "Kamu itu udah cukup. Ayahku harusnya tahu itu. Dia hanya perlu menilai perilaku dan keseriusan kamu. That's it! Nggak perlu ada proyek-proyekan kayak gini."
Kami pun saling bertatapan dengan penuh asa dan rasa.
"Sekali ini aja, Runa. Aku harus menyelesaikan apa yang aku mulai. Enam bulan lagi mungkin udah bisa handover."
Ya Tuhan! Enam bulan bukan waktu yang sebentar. Bayangkan kalau selama 180 hari dia bekerja dari pagi sampai malam, Senin sampai Minggu seperti ini. Sekarang saja dia udah kelihatan capek luar biasa.
Tapi ya sudah, kalau memang itu keinginan dia, aku cuma bisa mempersilahkan. Toh Satya sudah dewasa, sudah bisa mengambil keputusan sendiri.
"Kasih aku waktu sebentar buat menuruti permintaan ayah kamu supaya aku dapat restu. Setelah itu baru kita bakalan menentukan jalan kita sendiri."
"Tapi aku udah nggak peduli lagi dengan restu Ayah."
"Tapi beliau punya power, Runa. Kita nggak tahu apa yang bakalan terjadi kalau beliau nggak setuju dengan aku."
Pemikiran Satya ada benarnya juga. Aku nggak lagi bisa mendebatnya. Huft.
"Kayaknya yang lebih perlu dikirimin makanan itu kamu ya? Pasti sering telat makan."
"Aku selalu makan kok," balasnya sambil tersenyum tipis. "Tapi kalau kamu mau kirimin aku makanan, aku bakalan senang."
Mendengarnya membuatku tertawa malu-malu. "Dih, ge-er."
Aku melihat ke sekeliling ruangan ini yang baru pertama kalinya aku lihat. Dulu aku hanya pernah ke lantai ini sekali ketika dipanggil oleh Pak Rusdi, di mana beliau memberhentikanku secara mendadak akibat ulah Ayah. Ruangan beliau sepertinya hampir sama dengan ruangan yang ditempati Satya ini.
Di salah satu sudut, aku menemukan sebuah benda yang tidak asing.
"Itu sama dengan yang dulu?" tanyaku sambil menunjuk ke arah benda tersebut.
Satya pun menoleh ke arah yang sama. "Iya. Kamu masih ingat?"
"Masih lah," jawabku sambil tersenyum. Gimana nggak ingat, mesin espresso itu pernah membuat aku lumayan panik di hari pertama bekerja di sini dan menjadi saksi bisu pertemuan yang canggung di antara kami beberapa kali. "Memangnya masih berfungsi? Kirain kamu udah ganti yang baru." I mean... buat orang kayak dia kalau mau ganti mesin kopi setiap tahun kan bisa aja.
"Masih. Dan nggak bakalan pernah diganti juga."
"Oh, kenapa?"
"Banyak kenangannya," ucapnya dengan hangat, nggak tahu apa maksudnya.
"Anyway, kamu perlu istirahat. Eh, gimana kalau Tante Dian lihat keadaan kamu kayak gini? Pasti dia bakalan khawatir."
Satya memandangku sejenak sambil menopang dagu. "Jadi kamu peduli dengan mamaku atau sama anaknya?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Runa
ChickLitSeorang Runa Hariadi seharusnya menjalani hidup dengan begitu mudah dan serba mewah. Namun sesuai dengan sifatnya yang lembut tapi rebel, ia justru mengambil jalan hidup yang lebih sulit. Runa memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan fast-moving c...
