Sebelum Badai Menerpa

6.7K 713 23
                                        


Dengan menggunakan taksi online, pagi ini Runa Hariadi berangkat ke kantor dengan suka cita. Di pangkuannya sudah ada sekotak tuna sandwich yang khusus ia buat untuk sarapan Satya. Makanan yang memang sederhana, tapi rasanya tidak mungkin juga kalau ia sampai memasak lontong sayur atau nasi uduk misalnya, berhubung kemampuannya dalam masak-memasak tergolong mengkhawatirkan.

Ia tahu Satya memang suka dengan berbagai jenis sandwich, salah satunya dengan filling tuna yang cukup sehat dan mengenyangkan. Tidak lupa ia juga mencampurkannya dengan berbagai bahan lain seperti batang seledri, daun bawang, bawang merah, dan juga jagung pipil. Untuk itu semua, Runa rela bangun satu jam lebih awal dari biasanya.

Malam tadi ia juga sudah memberi tahu Satya kalau ia akan membawakan sarapan untuknya. Begitu sampai di kantor, Runa pun langsung menuju ruangan Satya. Namun begitu pintu dibuka, tidak ada orang di dalamnya.

"Nyari siapa?" tanya Pinkan, sekretaris Satya yang baru saja ditempatkan minggu lalu.

"Satya belum datang, Mbak?"

"Udah kok. Tapi barusan keluar lagi. Katanya mau breakfast meeting, tapi nggak bilang dengan siapa."

"Oh..." Runa pun hanya bisa menanggapi seadanya sambil menyembunyikan rasa kecewa. Kalau begitu bukankah sia-sia ia sudah membuat dan membawakan Satya tuna sandwich untuk pagi ini?

Begitu kembali ke meja, Runa mencoba mengirim pesan ke Satya untuk menanyakan keberadaannya. Setelah lama menunggu, baru pukul 2 siang Satya membalas pesan singkatnya di WhatsApp.

Satya
Hey, sori bgt aku lagi banyak urusan di luar.
Nanti sore bisa ke apartemen?

Runa

Apartemen siapa? Kamu atau aku?

Satya
Mine.

Runa
Bisa.

Satya
Ok, see you soon.

***

Waktu berlalu dengan cepat. Sekitar pukul 5.30 petang mereka sudah bertemu di apartemen Satya.

"Lusa mungkin aku harus ke Amsterdam sama Molaf. Diajak Kemendag untuk acara FMCG summit," ucap Satya membuka percakapan.

"Berapa lama?"

"Sekitar seminggu. Sekalian mau mengunjungi kerabat juga yang tinggal di sana."

"Umm, oke." Runa terlihat sedikit sedih yang malah membuat Satya terkekeh ringan.

"Seminggu doang, Runa, bukan sebulan."

"Entar anak kantor pasti pada kangen ngelihat kamu ngomel sama misuh-misuh sendiri di kantor."

"Ck." Satya pun langsung memasang muka pura-pura bete. "Oya, mau minum apa?"

"Apa aja-"

"Wine?"

Belum sempat Runa selesai menjawab, Satya sudah mengeluarkan dua gelas berkaki tinggi dari dalam kabinet. Dibukanya sebotol Adrianna Vineyard dari dalam wine cooler kecil di ujung dapur untuk dituangkan ke dalam masing-masing gelas.

Satya memberikan satu gelas kepada Runa dan kini mereka pun duduk berdekatan di atas sofa sambil memegang gelas masing-masing.

Runa mulai mencicipi minuman di dalam gelasnya.

"Suka nggak?" tanya Satya.

Runa mengangguk. Namun sebetulnya ia berbohong. Runa tidak pernah suka wine dan minuman alkohol apapun. Sebagai seorang penggemar teh sejati, rasa alkohol sangat aneh dan terlalu keras untuk lidahnya.

Rahasia RunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang