Takdir Terakhir

9.4K 578 29
                                        


RUNA

Tiba-tiba listrik padam, sedangkan hari sudah mulai gelap dan petir mulai menggelegar. Aku sendirian di dalam rumah yang begitu senyap. Semua pekerja di rumah ini sedang izin ke luar kota. 

Sebagai seorang anak berumur 6 tahun, aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Apakah aku harus berusaha keluar? Atau hanya mendekam di dalam tanpa kepastian?

"Ayah... Ayah..." panggilku dalam ketakutan.

Lalu aku teringat perkataannya sebelum dia pergi meninggalkanku tadi siang. "Jangan mencari saya. Nanti saya akan pulang kalau sudah waktunya."

Ternyata ia tidak pernah datang hingga keesokan harinya, seakan-akan aku tidak membutuhkannya, dan ia meninggalkanku bersama hujan yang menemani seorang Runa di umur dini agar tidak beradu sendiri dalam sunyi.

***

Cahaya perlahan masuk ke dalam mataku. Entah sudah berapa lama aku tertidur karena aku bahkan tidak tahu di mana aku terbaring saat ini. Kali ini tidak ada hujan lebat yang terlihat di luar jendela. Ruangan ini begitu asing sekaligus begitu dingin dengan pencahayaan minim.

Apakah aku baru terbangun dari menunggu Ayah di dalam rumah sendiri? Oh, tentu tidak. Hari itu sudah berlalu puluhan tahun yang lalu. Hanya secuil masa lalu yang kerap terbawa mimpi sesekali.

Sekelebat aku melihat sosok beberapa orang yang menunggu di luar pintu kaca. Aku tidak sanggup memanggil mereka, namun akhirnya seorang perawat menyadari bahwa aku telah bangun lalu memanggil dokter yang sedang berjaga.

Badanku terasa kaku dan kepalaku terasa berat. Aku tidak ingat apa yang telah terjadi dan bagaimana aku bisa di sini. Tapi yang aku tahu pasti aku tidak lagi sendiri di dalam rumah yang gelap dengan hujan lebat di luar sana.

"Runa..." panggil Mama dari samping tempat tidur. Wajahnya terlihat begitu sedih. Apakah keadaanku seburuk itu? Padahal yang aku ingat terakhir kali kami bertemu, Mama berjanji untuk memasak sop buntut kesukaanku pagi itu dengan wajah ceria. Aku tidak bisa berkata-kata dengan mulut yang masih dipasang masker oksigen. Ia hanya memegang tanganku dengan erat seakan-akan aku tidak boleh pergi lagi ke mana-mana.

Lalu setelahnya giliran Tante Soraya dan Kak Rio yang masuk. Wajah mereka juga menunjukkan ekspresi yang sama. Apa yang sebetulnya terjadi padaku? Apakah aku tiba-tiba sakit atau pingsan? Apakah aku mengalami kecelakaan yang menyebabkanku tidak sadarkan diri dan amnesia? Sayang sekali aku belum sanggup untuk bersuara dan bertanya.

5 menit kemudian giliran Satya masuk. Ekspresinya mengingatkanku ketika aku terserang asma hingga dibawa ke rumah sakit waktu itu. Apakah kali ini aku kembali terserang asma akut? Kalau iya, bagaimana dan di mana hal itu terjadi?

Tunggu...

Rasa sakit itu... di leherku yang begitu menyiksa oleh tangan kuat dari seorang pria yang telah membenciku sedemikian rupa. Hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri dan entah apa yang terjadi setelahnya.

"Runa..." panggilnya lirih.

Entah bagaimana tiba-tiba aku menangis. Ternyata aku telah selamat dari peristiwa mengerikan itu. Dan entah bagaimana laki-laki ini bisa ada di sampingku dan mau menunggu. Satya memegang tanganku sambil terus menatapku. Sepertinya ia terlihat lebih letih dibanding yang terakhir kali aku temui di kantornya waktu itu.

Aku belum bisa bersuara namun aku berharap ia bisa membaca dari pandangan mataku bahwa aku tidak ingin ditinggalkan. Aku hanya tidak ingin sendiri setelah apa yang aku lalui dan aku terlalu takut untuk ditelantarkan seperti yang terjadi dalam mimpi tadi. Dan kalaupun hanya ada satu orang yang boleh menemaniku, maka orang itu haruslah laki-laki ini.

Rahasia RunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang