Alan vs Molaf

10.6K 1.1K 46
                                        




Makasih ya yang masih nungguin dan masih mau baca cerita ini. Kemaren-kemaren ini lagi mode liburan bangett T_T

Tapi mulai sekarang aku rencana mau nulis rutin setiap minggu, jadi mudah-mudahan bisa update rutin juga.

Happy reading!

-


RUNA

Cerita cintaku saat ini bisa dibilang sempurna. Sejak pertemuan di rumah keluarga Satya, hubungan kami pun semakin dekat. Dengan keluarganya pun juga semakin akrab. Jujur aku belum pernah membayangkan sebelumnya sosok laki-laki seperti apa yang bisa membuatku bahagia. Lalu seorang Satya hadir sebagai sosok itu yang melengkapi semuanya.

Layaknya seseorang yang sedang jatuh cinta, hampir setiap menit aku memikirkannya. Hampir setiap saat aku merindukannya bahkan ketika wujudnya berada hanya sejengkal dan wangi tubuhnya begitu jelas di indera penciumanku. Untung saja hampir setiap hari kami bertemu, baik di kantor maupun di luar kantor.

Seperti saat ini, kami sedang menonton sebuah film di bioskop dan kepalaku bersandar di bahunya yang terasa begitu nyaman. Tangan kami saling menggenggam dan sesekali saling berbisik untuk mengomentari cerita yang mengalir di dalam layar. Di bioskop ini ada puluhan penonton lainnya yang menempati bangku mereka masing-masing, tapi bagiku rasanya di ruangan ini hanya ada kami berdua sebagai tamunya.

"Sayang, aku ke toilet dulu ya..." ucapku ketika film sudah selesai dan kami baru saja keluar dari dalam teater. Satya pun mengangguk, "oke, aku tunggu di sini ya."

Namun sebuah malapetaka terjadi setelahnya. Begitu aku keluar dari toilet, aku melihat Satya sedang mengobrol dengan seseorang yang aku kenal baik tapi kehadirannya tidak pernah aku harapkan. Kurasakan tanganku mulai berkeringat dingin dan jantungku terpompa lebih cepat. Ada laki-laki bajingan itu di antara kami berdua saat ini.

"Runa..." Satya tersenyum ketika melihatku datang. "Kenalin ini sahabat aku, Alan," lanjutnya sambil merangkul bahuku. Iya, aku sudah tahu kok dia siapa...

Tanpa kusangka, Alan justru menjulurkan tangan sambil tersenyum ramah. "Alan," ucapnya. Aku pun terpaksa membalas uluran tangannya, padahal aku sebetulnya enggan untuk menyentuhnya. "Runa," balasku dengan senyum tipis. Sepertinya saat ini kami sedang melakukan permainan akting siapa yang paling terbaik. Sungguh melelahkan.

"Selamat ya buat kalian berdua. Gue nggak nyangka sahabat gue akhirnya punya pacar juga. Padahal dari dulu banyak banget temen cewek gue yang pengin dikenalin ke dia. Lucky you, Runa..." ucap Alan sambil tersenyum ramah. Namun rasanya ada nada sinis tersembunyi di balik kata-katanya. Entahlah.

"No, gue yang lebih lucky bisa dapetin dia, Lan," sahut Satya lugas yang membuat mood-ku sedikit membaik. Nadanya biasa saja, tidak seperti sedang sengaja merayu atau menyanjungku, tapi justru itu yang membuatku merasa dicintai dengan tulus olehnya.

"Kok lo baru kenalin sekarang sih? Ini juga kita nggak sengaja ketemu."

Satya pun tersenyum mendengar protes dari Alan. "Sori. Gue tahu lo sibuk banget pacaran. Ini aja lo lagi mau nonton sama cewek yang mana nih?"

Alan pun mendecakkan lidah. "Ada lah, baru kemaren ketemu di Kemang."

Tidak berapa lama kemudian muncul lah seorang perempuan cantik dari arah luar sambil menenteng sekantong popcorn. Alan mengenalkannya kepada kami. Setelah itu kami pun saling berpamitan karena Alan dan teman kencannya harus segera masuk ke dalam teater. Tidak lupa sebelumnya Satya dan Alan berbasa-basi untuk kembali bertemu di kemudian hari, entah hanya untuk sekedar nongkrong atau ngopi bareng.

Rahasia RunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang