Harga Diri

17.7K 1.8K 40
                                        

Berhubung tadi ada yang minta lanjut, nih aku kasih bab baru! :D

***

SATYA

Molaf duduk di depan gue dengan wajah sangat, sangat menyebalkan. Tentu saja dia sudah mendengar berita tadi pagi dan melihat foto yang tersebar.

"Punya apartemen luas kok malah sempit-sempitan di lift sih, Sat?" ujar si tengil Molaf.

"Hey, lo jangan sampai diberhentiin di hari pertama kerja ya!" balas gue gusar.

Setelah kejadian di lift semalam, gue bahkan nggak sempat pulang ke rumah buat ganti baju dan mandi segala macam. Yang ada gue terbangun sekitar pukul 8.30 pagi ketika semua orang sudah pada berdatangan ke kantor. Menurut informasi yang gue dapat, petugas berhasil membuka pintu lift secara paksa di lantai dasar.

Namun sialnya, gue sama si Runa sedang dalam posisi kayak gitu dan sudah banyak orang yang menunggu di depan lift. Ingatan gue yang terakhir adalah Runa tertidur dalam posisi menyandarkan kepalanya ke balakang, dan nggak lama kemudian gue pun juga menyandarkan kepala ke belakang untuk tidur. Tapi nggak tahu gimana, paginya posisi kepala kami malah saling menyandar satu sama lainnya.

Gara-gara lift keparat itu pula reputasi gue tiba-tiba jatuh ke dasar jurang. Semua orang di perusahaan ini pasti akan membicarakan kami berdua sepanjang hari.

"Dia korban pertama lo di kantor ini ya?"

"Mol, please. Jangan sampai gue menyesal udah bawa lo ke perusahaan ini."

Molaf tertawa. "Iye, iye ... Gue bercanda. Gue tahu kok lo itu jarang dekat sama perempuan. Seujung kuku pun nggak ada apa-apanya dibanding si Alan."

Gue pun menghela napas panjang.

"Tapi ceweknya cantik sih, Sat—"

Dengan cepat gue melempar pulpen ke arahnya supaya dia bisa berhenti membicarakan topik sialan ini. Sepertinya percuma saja dari awal gue bercerita panjang lebar mengenai kejadian semalam dengannya, termasuk soal gue yang bahkan nggak dekat sama sekali dengan perempuan itu. Ngobrol pun juga baru sekali-dua kali.

***

Semua orang sudah berkumpul di area tengah sesuai dengan instruksi. Sekarang gue udah berdiri di depan mereka semua, berdua dengan Molaf.

"Selamat siang semuanya. Terima kasih sudah berkumpul di sini. Langsung saja, saya ingin memperkenalkan Assistant Brand Manager kita yang baru, Molaf Sudirman. Mulai hari ini Molaf akan bergabung dengan kita dan akan report langsung ke saya."

Gue pun mempersilakan Molaf untuk memberi kata sambutan sekaligus memperkenalkan diri sebagai orang baru di perusahaan ini. Molaf adalah sepupu jauh dari Alan dan gue udah kenal dia dari SMA. Gue dan Alan satu kelas ketika SMA dan Molaf adalah adik kelas kami. Karena gue dekat dengan Alan, dan Alan cukup dekat dengan Molaf, jadilah kami bertiga sering ngumpul bareng dulu. Tetapi setelah gue lulus SMA, gue sama Molaf sudah jarang berkomunikasi, tidak sesering antara gue dan Alan yang masih tetap dekat karena kami juga kuliah S1 di kota yang sama, yaitu Boston.

Beberapa waktu yang lalu gue mengobrol dengan Alan mengenai Molaf yang pengin pindah kerja karena nggak cocok sama bosnya yang lama. Akhirnya gue pun berpikiran untuk mengajaknya bergabung sebagai Assistant Brand Manager yang kebetulan memang masih kosong dan cukup sesuai dengan pengalamannya. Tengil-tengil gini dia juga lulusan cum laude Teknik Industri ITB.

Molaf pun selesai memberi kata sambutan yang disambut dengan tepuk tangan. Sekilas di kerumunan, gue melihat sosok Runa, anak Marketing yang terjebak dengan gue malam tadi. Ia berdiri di bagian belakang, sepertinya memang tidak berani untuk maju ke depan.

Rahasia RunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang