RUNA
2 tahun kemudian
Seharian tadi aku demam dan badanku terasa cukup lemah setelah kemarin mendapatkan vaksin Tdap. Jadilah aku hanya berbaring di kamar dan tidak melakukan banyak aktifitas. Satya yang seharusnya berangkat ke kantor pun jadi mengurungkan niat sehingga tetap berada di rumah saja seharian ini.
Sekarang sudah jam 9.16 malam. Demamku sudah mulai reda dan tubuhku rasanya sudah kembali segar. Aku pun pergi ke dapur untuk membuat air madu hangat dan mengambil potongan buah dari kulkas. Setelah menyelesaikan urusan di dapur, aku berniat untuk mencari keberadaan Satya.
Dari ruang kerjanya, aku bisa mendengar suaranya samar-samar. Aku pun mendekat dan dari luar pintu yang terbuka, aku melihat ia sedang duduk menghadap layar komputer sambil menggendong putri kecil kami, Elara, yang sedang tertidur. Berhubung aku belum mau memperkerjakan baby sitter, seharian tadi dia lah yang mengurus Elara, mengurusku juga, dan mungkin sambil curi-curi waktu untuk menangani pekerjaan secara daring. Aku sebetulnya sudah menyarankan supaya meminta bantuan salah satu di antara mama kami berdua, tetapi Satya menolak. Katanya ia ingin dan mampu untuk mengurus baby Ela sendiri.
Seperti biasa di jam segini, ruangannya cukup temaram karena hanya disinari lampu meja. Tampaknya ia sedang berkutat dengan pekerjaan atau mungkin juga sedang trading seperti yang kerap dilakukannya pada malam hari. Selain itu sepertinya dia juga sedang berbicara di telepon dengan temannya secara hands-free.
"Same here. Gue masih nge-hold NVIDIA. Seharusnya gue jual pas 850 kemaren sih..."
Oh, pasti dia sedang mengobrol dengan Jeremy, teman lamanya di Amerika sana yang juga merupakan saudara kandung teman lamaku, Fiora. Percakapan pun terus berlangsung dan aku hanya memperhatikan Satya dari luar pintu. Entah sudah berapa lama ia mengerjakan tiga hal sekaligus seperti itu: trading, mengobrol di telepon, dan juga menggendong Elara dengan tangan kirinya.
Tiba-tiba aku menitikkan air mata melihat pemandangan ini.
Sebagai seorang perempuan yang fatherless, bisa saja aku berakhir jatuh cinta dengan laki-laki berengsek hanya karena aku tidak punya panutan yang layak dalam menilai pria. Bisa saja aku mudah tertarik dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab atau menyerahkan diri kepada siapapun yang mendekatiku karena tangki cinta yang aku punya tidak pernah penuh sebagai seorang anak.
Namun Tuhan ternyata masih berbaik hati kepadaku dengan memberikan seorang Satya yang hadir begitu saja untuk mengisi tangki yang masih setengah kosong itu. Walaupun jalan yang kami lalui cukup terjal, tetapi akhirnya kami bisa memperbaiki semuanya dan bersatu dalam pernikahan. Kemudian Tuhan pun kembali berbaik hati dengan menghadirkan anak pertama kami, Elara Putrihati Wiranegara, tiga bulan yang lalu. Elara membuatku kembali jatuh cinta dari awal aku memeluk tubuh mungilnya setelah proses melahirkan yang cukup panjang.
Ketika Satya sudah mematikan sambungan telepon dengan Jeremy, aku pun bersuara pelan. "Kayaknya dia udah bisa ditaruh di bassinet, deh. Ngapain masih digendong? Tangan kamu nggak pegal?"
Satya pun menoleh ketika menyadari kehadiranku, lalu tersenyum. "Nggak apa-apa, pengen aja. Dia juga lebih lelap kalau aku gendong. Kamu kok nggak istirahat?"
"Udah mendingan. Lagian pusing kalau tiduran terus."
Aku mendekati mereka perlahan untuk mengecek keadaan malaikat kecil kami. Wajahnya terlihat begitu tenang dan aku pun mengelus kepalanya yang ditumbuhi rambut tipis.
"Sayang..."' Aku pun mengangkat wajahku untuk menatap Satya. "Kalau sesuatu terjadi sama aku, jangan tinggalkan Elara ya. Tolong selalu sayangi dan lindungi dia. Please set the bar high for her. Aku mau dia tumbuh dengan penuh kasih sayang dan kamu adalah cinta pertamanya."
KAMU SEDANG MEMBACA
Rahasia Runa
ChickLitSeorang Runa Hariadi seharusnya menjalani hidup dengan begitu mudah dan serba mewah. Namun sesuai dengan sifatnya yang lembut tapi rebel, ia justru mengambil jalan hidup yang lebih sulit. Runa memilih untuk bekerja di sebuah perusahaan fast-moving c...
