Lelah dan Kalah

7.2K 748 67
                                        

Para penumpang yang terhormat, mohon tetap duduk dan kencangkan sabuk pengaman Anda, karena kita akan mengalami turbulensi sesaat lagi. Terima kasih.

Haiii, ketemu lagi nih sama Runa-Satya! Please comment and vote ya! Kasih tahu aku apa ada yang masih mau baca lanjutan cerita ini apa nggak :D Karena semakin banyak yang komen, semakin semangat aku nulis kelanjutannya.

Selamat membaca!

~

"Mas Arwin meminta saya untuk mengeluarkan kamu dari perusahaan ini secepatnya. Kalau tidak, hal buruk bisa terjadi di antara Adipa dan Tarama. Saya sebagai VP juga tidak bisa membiarkan ini terjadi," jelas Pak Rusdi di hadapan Runa.

Perempuan muda dengan masa depan yang seharusnya cemerlang itu hanya bisa berdiri lesu. Berbagai pikiran buruk pun mulai hinggap di kepalanya.

"Tapi, Pak... Apa tidak ada cara lain?" tanyanya memelas.

"Ini bukan di tangan saya, Runa. Ayah kamu yang memberikan ancaman. Saya bisa apa?"

"Apa saya bisa tunggu sampai sore nanti, Pak? Ada beberapa pekerjaan yang belum-"

"Orang suruhan Papa kamu sudah menunggu di bawah. Saya nggak ada masalah kalau kamu tetap bekerja di sini, tapi Papa kamu mengancam. Saya tidak ingin ada masalah lebih besar lagi di masa yang akan datang. So, let's do this quietly, okay?"

"Tapi manajer saya masih di luar negeri, Pak. Saya harus minta izin dan pamit dulu ke Sat-"

"Tidak usah." Sekali lagi ucapan Runa dipotong oleh Pak Rusdi. "Soal Satya bisa saya bereskan nanti. Saya yakin dia akan mengerti. Ini kan demi kepentingan perusahaan juga. Untuk sekarang sebaiknya jangan diganggu dulu karena dia dan timnya punya banyak agenda penting selama di Belanda."

Pada detik ini Runa sudah tidak bisa lagi melawan. Perlahan ia rasakan harapan dan cita-citanya mulai hancur menjadi serpihan-serpihan kecil di atas tanah.

Dengan lesu ia pun undur diri dari hadapan Pak Rusdi menuju ke lantai yang baru ia tempati selama beberapa bulan terakhir.

Kebetulan tidak ada siapa-siapa di sekitar kubikelnya saat ini. Sepertinya mereka semua sedang ada meeting berjamaah di lantai bawah. Tidak ada Mas Roni, tidak ada Aghni, tidak ada Angga, tidak ada siapapun juga. Pasti sudah menjadi takdir untuknya pergi tanpa dilepas siapa-siapa, seakan dia tidak punya harganya di perusahaan ini.

Dalam perjalan ke arah lift sambil membawa barang-barangnya, Runa juga melewati sebuah ruangan yang tampak lengang dan gelap. Di depan pintu, terpampang sebuah nama yang selalu ada di dalam pikiran dan hatinya setiap waktu.

Satya Wiranegara

Brand Manager

PT Adipa Cipta Berkarya

Berbagai kenangan muncul di benaknya seperti flashbacks. Dari mulai ketika pertama kali mereka bertemu di pantri , saat Satya menemaninya lembur sampai membuatkan kopi, hingga hari-hari berikutnya di mana kedekatan mereka semakin terjalin secara sembunyi-sembunyi di kantor ini.

Runa menghela napas dengan berat, seberat langkahnya ketika kembali beranjak untuk pergi ke arah elevator. Begitu sampai di lantai bawah, ia bisa melihat dua orang pria berseragam safari yang mengamatinya dengan lekat. Runa yakin dua orang tersebut adalah orang suruhan ayahnya, sesuai dengan yang disebutkan Pak Rusdi tadi. Tanpa perlawanan sama sekali, Runa pun mengikuti arahan dua pria tersebut yang membawanya masuk ke dalam sebuah minivan mewah berwarna hitam.

Rahasia RunaTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang