BAB 12 : Rencana

95.7K 10K 535
                                        

Jangan lupa, follow, vote, komen dan share gais 😘

***

Akhirnya setelah mendapatkan izin cuti selama empat hari dari pekerjaannya, hari ini Kinanti langsung membereskan semua perlengkapan yang dibutuhkan selama berlibur di pulau dewata.

Waktunya memang sangat singkat tapi hal ini jauh lebih baik daripada dia terus-terusan menunggu Mahasa yang entah kapan memiliki waktu untuk pergi liburan.

Karena dari sebelum menikah Kinanti memiliki cita-cita ingin bebas traveling kemanapun, berbelanja barang-barang mewah tanpa melihat harga dan wara-wiri menggunakan kendaraan yang berbeda setiap harinya. Dan sekarang ketika dia telah memiliki segalanya, karir cemerlang dan memiliki suami yang mapan, apa salahnya jika dia mewujudkan semua itu.

Landasan paling dasar Kinanti memutuskan untuk menikah dengan Mahasa juga salah satunya karena harta. Sedangkan tujuan Mahasa yaitu ingin memberikan keluarga yang sempurna untuk anaknya dimana di dalamnya ada sosok Ayah dan Ibu. Anggaplah pernikahan ini merupakan sebuah simbiosis mutualisme dimana kedua pihak sama-sama diuntungkan.

Dibantu oleh Amar, Kinanti memisahkan beberapa barang endorse yang hendak dibawa. Rencananya di sana dia ingin mengambil beberapa foto dan video ketika mengenakan barang-barang tersebut.

“Dua koper ya, sis. Yey kayak mau minggat deh.” Amar menutup koper kedua yang berasal dari salah satu brand terkenal dunia yang isinya khusus untuk barang-barang endorse. Niat awal sih hanya akan membawa lima atau enam barang nyatanya semua barang yang Amar pilihkan ternyata Kinanti setujui alhasil dia harus menambah satu koper lagi.

By the way anyway busway, laki lo udah dikasih tau belum kalo besok langsung meluncur?”

Kinanti yang tengah menutup pintu lemari lantas menggeleng.

“Belum, nanti aja kalo dia udah pulang.”

Dengan dramatis Amar memijat kepalanya. “Aduh, alemong. Apa gak ngeri kalo gak dikasih izin?”

“Gue udah packing masa gak dikasih izin? Lagian minggu lalu gue udah bilang mau liburan kok,” sahut Kinanti yang terdengar kalau semuanya akan baik-baik saja. Lantas dia melihat ke arah jam yang menempel di dinding walk in closetnya.

Waktu tanpa disadari sudah menunjukkan pukul lima sore, seharusnya saat ini Mahasa sudah berada di rumah atau dalam perjalanan pulang kalau sedang tidak lembur.

Namun tiba-tiba saja Kinanti membelalakan mata ketika teringat akan sesuatu yang seharusnya sudah dia lakukan ketika pulang dari studio Artv.

“Astaga, gue belum ngecek Megan,” ujarnya terdengar panik seraya menepuk kening.

Semenjak kejadian beberapa hari yang lalu ketika dirinya dan Megan terjebak di dalam mobil dikarenakan menghindari wartawan, semenjak saat itu Megan tidak ingin lagi ikut ke tempat kerjanya. Namun terkadang anak itu menampilkan raut wajah masam ketika dirinya berpamitan untuk pergi seolah menandakan bahwa dia ingin ikut akan tetapi masih takut.

Dengan setengah berlari Kinanti pergi ke kamar Megan namun ternyata tidak ada siapa-siapa di dalam sana. Mungkin Megan berada di lantai satu bersama Mbak Ela lantas Kinanti langsung pergi ke sana.

Dan benar saja, setelah mencari ke beberapa ruangan yang telah kembali tertata rapi setelah selesai di cat Kinanti mendapati Megan yang tengah bermain bersama Mbak Ela dan beberapa asisten rumah tangganya di ruangan yang ada di bagian paling belakang. Mungkin bisa dibilang sebagai tempat santai seluruh pekerja di rumah ini yang terdapat kursi pijat dan televisi berukuran besar.

Miss Rempong Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang