BAB 2 : Malam Pertama (Revisi)

140K 11.5K 404
                                        

Setelah serangkaian acara akad dan resepsi yang berhasil digelar secara mewah serta meriah, kini saatnya pasangan suami istri baru itu menikmati malam pertamanya, sepertinya tidak akan ada hal-hal yang dipikirkan semua orang saat ini karena kedua pasangan itu cukup kelelahan, belum lagi ada Megan yang memaksa ingin tidur bersama ayahnya. Sepertinya anak itu tidak rela kalau Mahasa dikuasai oleh Kinanti seorang.

Saat ini mereka sudah berada di dalam kamar hotel tempat di selenggarakannya resepsi.

Kinanti menaruh ponselnya di atas nakas setelah melihat jam yang sudah menunjukkan pukul dua belas malam.

“Udah jam dua belas, main tabnya udahan dulu, sekarang waktunya tidur. Dan besok Mami mau batasin kamu main game,” ujar Kinanti kepada Megan yang saat ini berada diantara dirinya dan Mahasa. Dia hendak mengambil tab milik Megan namun dengan cepat anak itu sembunyikan.

“Ngapain sih tante ngatur aku terus? Tante bukan Mama aku,” protes Megan seraya menatap Kinanti dengan alis yang menukik, setelah itu mengguncang tangan ayahnya yang sudah memejamkan mata.

“Papa, aku gak suka tante itu atur-atur aku terus,” rengeknya mengadu.

“Ih kok ngadu?”

“Papa ....” Megan kembali merengek, mengabaikan ibu tirinya.

Mendengar rengekan Megan membuat Mahasa mau tidak mau kembali terjaga. Raut lelah sangat terpancar sekali di wajah rupawan itu.

“Kinanti, pelan-pelan aja, jangan dipaksa. Megan bukan tipe anak yang gampang diatur seenaknya. Sejak kecil saya tidak pernah memaksakan dia untuk melakukan apa yang tidak dia sukai,” tegur Mahasa guna meredakan rengekan sang anak.

Kinanti yang mendengar itu lantas memberengut tidak suka apalagi ketika melihat Megan yang mendelik puas karena telah berhasil mendapatkan pembelaan dari ayahnya.

“Aku kan mau belajar jadi ibu yang baik, Mas. Ibu yang baik berarti harus mendidik anak supaya menjadi lebih baik lagi. Kamu mending serahin aja sama aku.”

Mendengar itu membuat Megan kembali merengek kepada Mahasa yang lagi-lagi langsung membelanya. “Kalau ada sikap Megan yang menurut kamu kurang baik, tolong diingat kembali kalau dia masih anak-anak, jadi wajar. Sekarang tidur, saya tidak suka berdebat di malam hari.”

Mahasa sadar betul bahwa dirinya sangat memanjakan Megan, karena hanya itulah yang bisa dia beri setelah sebelumnya gagal memberikan keluarga yang utuh.

Memang buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, cibir Kinanti di dalam hati. 

Karena ini sudah tengah malam dan badannya terasa remuk, akhirnya dia memilih tidur sambil memunggungi Megan yang saat ini semakin merapatkan tubuhnya kepada sang ayah.

***

Kinanti terpaksa bangun pada pukul tujuh dengan keadaan tubuh yang sakit semua setelah teringat bahwa masih ada keluarga Mahasa yang menantinya untuk sarapan bersama. Dia mengerjapkan mata kemudian melihat ke arah tangan kecil yang melingkari tubuhnya. Dia mendecih seraya menyunggingkan bibir. Coba saja si iblis kecil ini sadar siapa yang tengah dipeluknya saat ini, pasti dia akan langsung mencak-mencak sampai membuat heboh seisi ruangan.

“Kalau udah bangun cepat ke kamar mandi, orang-orang udah nunggu di bawah.” Suara bariton Mahasa terdengar di pagi hari yang sangat cerah ini.

Miss Rempong Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang