Jangan lupa follow, vote, komen dan share🌻
***
“Megan, ayo bangun. Jam 9.30 kita udah take off.”
Dengan kesabaran penuh, Kinanti mencoba sedikit mengguncang bahu mungil Megan terlepas dari anak itu yang semakin menyembunyikan tubuhnya di balik selimut berwana pink tersebut.
“Ih sabar.” Megan terdengar berguman dengan mata tertutup.
“Gimana mau sabar, sekarang udah jam delapan. Belum lagi nanti kamu harus mandi terus sarapan. Emang mau kalo ketinggalan pesawat?”
Megan terlihat mengucek-ngucek matanya lalu menatap Kinanti dengan kesal.
“Kan bisa naik pesawat punya Kakek,” ujarnya.
“Gak ada, udah dijual,” sahut Kinanti terdengar cukup kesal.
Megan yang hidupnya dari bayi sudah bergelimang harta selalu saja menganggap gampang apapun. Mungkin sekali-kali anak itu harus merasakan hidup susah pikir Kinanti.
“Kok dijual? Kan Kakek orang kaya, gak mungkin jual pesawat!”
Terlihat Kinanti memutarkan kedua bola matanya seraya berdecak. Astaga, kenapa Megan senang sekali berbicara hal-hal yang sialnya adalah fakta. Keluarga Argajati memang sangatlah kaya raya, mungkin jika kehilangan salah satu aset yang menurut orang-orang sangat berharga mereka tidak akan sadar.
“Udah ah ayo.” Kinanti hendak merengkuh tubuh Megan yang masih terbaring di atas kasur empuknya.
“Nanti dulu tante Kiwi! Ih, lepas!”
Seperti pagi-pagi sebelumnya, tidak mudah untuk membangunkan Megan dari atas tempat tidur. Pasti akan selalu terjadi drama pemberontakan dimulai dari lemparan bantal, tendangan dan cakaran.
Dengan sigap Kinanti menahan tangan Megan ketika anak yang sudah berada di dalam gendongannya hendak menjambak rambutnya.
“Megan, udah!” dengan sedikit kesulitan akhirnya Kinanti menurunkan Megan di depan wastafel.
“Aku bilang nanti dulu!” jeritnya dengan wajah yang sudah memerah.
Kinanti berjongkok mensejajarkan wajahnya dengan Megan.
“Nanti sampai kapan? Sekarang udah jam delapan. Kalo kamu gak mau ikut liburan ya udah bilang dari awal biar kamu bisa tidur nyenyak gak ada yang bangunin,” ujarnya dengan intonasi yang sedikit meninggi. Megan ini memang benar-benar sangat menguji kesabarannya.
Terdengar nafas Megan memburu, pertanda bahwa sebentar lagi anak itu akan menangis. Matanya tidak lekang untuk terus menatap Kinanti.
Seolah tidak memiliki rasa iba, Kinanti lantas berdiri hendak meninggalkan Megan sendirian di dalam kamar mandi.
Ketika Kinanti hendak membuka pintu tiba-tiba terdengar suara Megan yang setengah menjerit.
“Mau ikut tante Kiwi!”
“Udah beberapa kali dibilangin kalo ngomong sama orang yang lebih tua jangan pake nada tinggi.”
Terlihat Megan yang masih berdiri di tempatnya dengan air mata yang sudah bercucuran menatap Kinanti dengan wajah yang memelas.
“Mau ikut,” cicitnya sambil berusaha menyeka air mata yang jatuh di pipi kemerahannya.
Bagaimana bisa Kinanti masih berkeras hati setelah melihat wajah memelas Megan.
“Ya udah ayo mandi,” Kinanti menggiring Megan ke arah bath up yang sudah terisi oleh air hangat.
“Katanya Papa mau nganter kita sampe bandara. Makanya jangan bikin Papa kesel karena lama nunggu,” ujar Kinanti seraya melepas piyama yang Megan kenakan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Rempong
Ficción GeneralKinanti Wijaya atau orang-orang sering memanggilnya Kiwi merupakan mantan 3rd runner-up Miss Universe perwakilan dari Indonesia, semenjak menorehkan prestasi itu namanya semakin melambung di dunia hiburan Indonesia apalagi ketika dia dipercaya menja...
