Jangan lupa follow, vote, komen dan share yaaaaaaa 🌻🌻🌻🌻
***
Hilangnya Mahasa merupakan sebuah pukulan telak bagi Widya. Semakin hari kesehatan Widya semakin menurun karena ia sulit sekali makan dan minum. Jika tidak dipaksa maka wanita paruh baya itu akan membiarkan perutnya tetap kosong sampai Mahendra datang lalu memaksanya untuk menelan makanan.
Seperti sore ini ketika hujan di luar mengguyur sangat deras, Widya tampak tengah melamun di atas ranjang dengan raut wajah sangat kuyu, tidak terawat. Ia seolah menciptakan penjaranya sendiri di dalam kamar.
Ketukan sepatu terdengar menggema di setiap penjuru kamar. Widya tentu tahu siapa pemilik dari sepatu yang memiliki suara khas itu. Di setiap ketukannya seperti mengantarkan kesakitan bagi Widya.
“Setidaknya minumlah air, jika kamu tidak mau makan,” ujar Mahendra memecah keheningan yang terjadi di dalam kamar.
Widya sama sekali tidak mau menoleh ke arah Mahendra yang tidak menampilkan raut wajah bersalah atau sedih sedikit pun atas kehilangan satu anaknya.
“Bagaimana bisa saya makan. Sedangkan anak saya di luaran sana belum tentu mendapatkan makanan ...,” sahut Widya dengan suara yang terdengar lirih, pandangannya menatap ke arah luar jendela yang menampilkan rintikan hujan.
Ia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berbicara keras kepada Mahendra. Toh, meski ia berbicara keras, Mahendra tetap tidak akan mendengar ucapannya.
“—mendapatkan minum ... dan tempat untuk berteduh ....” Mata Widya kembali terlihat berkaca kaca ketika membayangkan nasib Mahasa yang hilang di negara orang.
“Di luar hujan, Mahasa pasti kedinginan ....”
“Jangan sampai dia kehujanan, nanti sakit ....”
“Mahasa anak kesayangan Mama, harus tetap hidup. Harus kuat, jangan sakit ....”
Widya terus saja meracau di depan Mahendra. Wanita itu tidak lagi memperdulikan jika saat ini dirinya terlihat sangat lemah.
Memang kenyataannya ia tengah lemah. Kehilangan sang anak bukanlah berita yang sangat mudah untuk diterima.
“Widya.” Mahendra akhirnya mau membuka suara setelah bungkam beberapa saat.
Pun dengan Widya yang langsung menoleh ke arah suaminya.
“Ayo kita jemput Mahasa, dia pasti senang liat kita datang menjemput.” Bukan lagi raut wajah sendu yang Widya berikan. Semuanya mendadak berubah seratus delapan puluh drajat. Widya mengajak Mahendra seraya tersenyum lebar dengan pekikan yang tertahan.
Menyadari adanya keanehan dengan Widya sontak membuat Mahendra mengernyitkan keningnya.
“Widya?”
Widya menggelengkan kepalanya seolah tidak ingin mendengar suara Mahendra. Raut wajahnya kini berubah kembali menjadi sendu bersama air mata yang mengalir tanpa henti.
“Mahasa masih kecil. Kalau berbuat salah jangan dipukul.”
“Widya? Jangan seperti ini.” Mahendra hendak menyentuh bahu Widya namun dengan segera wanita itu menghindar.
“JANGAN SENTUH SAYA! DASAR LAKI-LAKI BIADAB!” Widya tiba-tiba saja langsung berteriak marah seraya memberikan tatapan nyalang kepada Mahendra.
“KAMU PANTAS MATI, MAHENDRA! SAYA HARAP TUHAN SEGERA AMBIL NYAWA KAMU! MANUSIA HINA SEPERTI KAMU SANGAT TIDAK PANTAS MENGINJAK TANAH INI!” Widya berteriak seperti orang kesetanan.
Setelah itu bantal, guling serta selimut, semuanya ia lempar ke arah Mahendra yang masih kokoh berdiri.
Merasa kurang, layaknya binatang buas yang tengah kelaparan, Widya berdiri hendak mencabik-cabik wajah Mahendra yang selalu terlihat angkuh.
“MATI KAMU! SAYA MAU KAMU MATI MAHENDRA!”
Sebelum tangan Widya mencapai wajahnya, maka dengan sigap Mahendra mencengkram tangan itu.
“Diam, Widya! Sadar!” Mahendra balik berteriak seraya mengguncang tubuh Widya.
Sepertinya tidak hanya fisik, kesehatan mental Widya pun ikut terganggu.
Akhirnya jalan satu-satunya untuk membuat Widya diam yaitu dengan cara menyuntikan obat penenang. Setidaknya untuk beberapa jam kedepan Widya tidak akan mengamuk.
“Saya harap anda bisa merahasiakan semua ini,” ujar Mahendra kepada dokter pribadi yang ia hubungi untuk menangani Widya.
Dokter laki-laki yang sudah mengabdi selama belasan tahun di keluarga Argajati itu lantas mengangguk. “Baik, Pak.”
Setelah perginya sang dokter, Mahendra memutuskan untuk kembali masuk ke dalam kamar.
Ia duduk di tepi ranjang. “Kenapa kamu sebodoh itu, Widya?” gumamnya seraya memperhatikan wajah Widya yang tengah terlelap.
***
Hilangnya Mahasa akhirnya menyebar luas di seantero jagat maya.
Den besar-besaran berita Mahasa dimuat sampai hal itu melibatkan ke berbagai bisnis milik Argajati. Di mana tercatat hampir 20% nilai saham perusahaan menurun dalam kurun waktu beberapa jam, dan nilai itu diprediksi akan terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Maka dari itu, dari dulu Argajati sangat anti dengan yang namanya skandal baik besar atau pun kecil, karena hal itu sudah pasti akan berdampak kepada perusahaan.
Di dalam ruang kerjanya Mahendra tampak sibuk menghubungi beberapa anak buahnya untuk segera meminta portal-portal berita mentakedown berita terkait Mahasa.
“Saya tidak mau tau, tarik semua berita itu. Atau kalau perlu naikan skandal-skandal besar untuk menutupi kasus ini,” ujar Mahendra melalui sambungan telpon.
Selama berbicara Mahendra terlihat mengepalkan tangannya dengan sangat kuat. Laki-laki itu benar-benar sangat emosi. Pokoknya sudah cukup berita hilangnya Mahasa sampai di sini saja.
“Dan juga tolong sampaikan kepada Juna untuk segera menghubungi saya.”
“Baik, Pak. Akan saya laksanakan,” sahut orang di seberang sana sebelum telpon resmi di tutup.
Brak!
Mahendra melempar ponselnya ke atas meja yang tengah menampilkan pesan teakhir yang dikirimkan oleh Mahasa beberapa hari sebelum anak pertamanya itu dinyatakan hilang.
Mahasa Argajati :
Saya bersumpah akan membuat Papa menyesal karena telah berani-beraninya mengusik keluarga kecil saya. Sekali pun saya harus mati.
“Mahasa, sampai ke lubang semut pun akan saya cari kamu,” gumam Mahendra dengan sangat geram.
Matanya tampak memerah dengan urat leher yang timbul ke permukaan ketika si pemiliknya tengah berada di dalam kondisi emosi yang berlebihan.
***
TBC
03-11-22
Maaf ya sedikit bgt, nanti sewaktu waktu bab ini akan diperbaiki lagi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Rempong
General FictionKinanti Wijaya atau orang-orang sering memanggilnya Kiwi merupakan mantan 3rd runner-up Miss Universe perwakilan dari Indonesia, semenjak menorehkan prestasi itu namanya semakin melambung di dunia hiburan Indonesia apalagi ketika dia dipercaya menja...
