BAB 58: Gak Mau Lepas

78K 5K 432
                                        

Haiii naks, aku kembali, sebelum baca cerita ini jangan lupa follow, vote dan komen yang buanyaaaak yaaa, makasiii 🌻🌻🌻

***

Esok paginya, mentari baru saja mengintip di balik jendela, membiaskan sinarnya ke seluruh sudut rumah. Di kamar utama, Mahasa terbangun lebih awal, kepalanya masih terasa sedikit berat akibat perjalanan panjang. Namun, kehangatan yang ada di sampingnya—Kinanti yang masih terlelap dalam pelukannya—membuat semua rasa lelah perlahan memudar. Dia menatap wajah istrinya yang damai, sesekali menyentuh pipi Kinanti dengan lembut, dia merasa bersyukur bisa kembali ke dalam pelukannya.

Tanpa ada niatan untuk membangunkan Kinanti, lantas Mahasa beranjak dari tempat tidur. Dia keluar dari kamar dengan langkah tenang, empat pegawai yang pagi-pagi sekali sudah melakukan tugasnya sontak dibuat terkejut ketika tidak sengaja berpapasan dengan sang pemilik rumah. Mereka jelas tak menyangka sosok Mahasa yang dikabarkan menghilang selama beberapa waktu kini tiba-tiba berdiri di hadapan mereka.

“Ba ... Bapak?” salah satu dari mereka tergagap, matanya masih tak percaya.
Dengan sigap Mahasa menempelkan jari telunjuk di permukaan bibirnya, sebagai kode supaya mereka tidak berisik.

Empat orang itu pun mengangguk kaku meski masih memandang Mahasa dengan tidak percaya, bahkan mereka sampai mengikuti ke arah mana Mahasa pergi.

Mahasa melangkahkan kaki menuju kamar Megan. Perlahan, dia membuka pintu dan menemukan putrinya yang masih terlelap di balik selimut. Megan tampak begitu kecil di tengah ranjang besar itu, rambut hitamnya berantakan di atas bantal. Tanpa berpikir panjang, Mahasa mendekatinya lalu mengisi ruang kosong di tepi tempat tidur. Tangannya yang besar dan hangat menyentuh kepala anak itu seolah mencoba menyalurkan semua kerinduannya dalam satu sentuhan.

Hanya saja sapuan hangat dari tangannya ternyata mampu membuat Megan terusik. Perlahan mata Megan terbuka meskipun terlihat sekali kalau dia masih setengah mengantuk. Kernyitan di dahi menandakan bahwa dia bersiap untuk mengamuk karena tidurnya diganggu, akan tetapi begitu matanya mulai jelas menangkap siapa sosok yang mengganggu tidur nyenyaknya, sontak kedua bola itu langsung terbuka lebar penuh keterkejutan.

"Papa?!" pekiknya hampir tak percaya.

Mahasa tersenyum lebar. "Hai, Papa pulang."

“Ini beneran Papa?!” Megan mengucek matanya berulang kali, seakan memastikan dirinya tidak sedang bermimpi.

Mahasa tertawa kecil, mengangguk sambil merentangkan tangannya. Tak perlu menunggu lama, Megan langsung meloncat dan memeluknya erat. "Papa! Aku kangen banget sama Papa!"

Mahasa mengusap punggungnya dengan lembut, merasa haru bercampur bahagia. “Papa juga kangen banget sama Megan.”

Suara ini, akhirnya dia bisa lagi mendengarnya.

“Papa ke mana aja sih?! Lama banget perginya! Telpon aku juga gak pernah diangkat!” Megan mulai protes dengan wajah cemberut namun mata berkaca-kaca.

“Papa gak sayang lagi sama aku, iya?! Makanya mau ninggalin aku kayak Mama?” Nada Megan berubah sendu, penuh kekecewaan yang selama ini dia tahan.

Mahasa menggeleng sambil memeluknya lebih erat. “Papa sayang banget sama Megan, buktinya Papa pulang, kan? Maafin Papa, ya?”

“Gak mau!” Megan menolak dengan drama kecil yang khas. Tangannya mulai memukul-mukul bahu Mahasa, setiap pukulan seolah menandakan penantian, rasa rindu, dan kekesalan karena dibuat menunggu lama. “Papa nyebelin! Mana gak bawa oleh-oleh lagi!”

Miss Rempong Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang