BAB 34 : Permintaan Maaf

105K 11.7K 1.4K
                                        

Jangan lupa, follow, vote dan komen gais
Bentar lagi 1 juta pembaca loh 🌻🌻🌻

***

Tok

Tok

Tok

Terdengar pintu berwarna coklat itu diketuk dari arah luar. Meskipun begitu si pemilik ruangan tidak kunjung menyahut. Ia masih fokus mempelajari data-data yang dikirim oleh staffnya.

Tok

Tok

Tok

“Permisi, Pak?” Lagi, pintu terdengar diketuk namun kali ini disusul oleh suara panggilan.

Mendengar suara tangan kanannya, mau tidak Mahasa menyahut meskipun matanya tetap fokus ke arah laptop.

Tepat dua hari sebelum keberangkatannya ke Lombok, Mahasa menyempatkan diri untuk kembali ke kantor guna mempersiapkan dengan matang apa yang ia dan timnya butuhkan ketika hendak perjalanan bisnis ke luar kota. Jangan sampai keberangkatannya ke Lombok menjadi hal yang sia-sia. Kalau bisa Mahasa ingin semuanya berjalan lancar dan singkat mengingat dirinya turut serta membawa istri dan anaknya yang telihat sangat tidak sabar untuk liburan keluarga.

“Masuk, Jun.”

Setelah Mahasa mengatakan itu tidak lama kemudian munculah sosok Juna dari balik pintu. Dengan wajah yang terlihat tegang ia menghampiri bosnya. Biasanya jika ada hal-hal yang tidak terlalu penting laki-laki itu hanya akan menghubungi Mahasa via telpon, dan masuk ke dalam ruangan jika diperintah. Perlu diketahui meja kerja Juna berada tepat di dekat pintu masuk ruang kerja Mahasa.

Mendapati Juna yang sudah berdiri di dekat meja kerjanya, Mahasa sudah mempersiapkan pendengarannya dengan baik.

Karena sudah terbiasa, Juna langsung mengutarakan maksud dan tujuannya tanpa harus diperintah karena ia sangat tahu betul bahwa bosnya ini tidak menyukai basa-basi.

“Begini, Pak. Tadi saya mendapat telpon dari Anggun kalau ada tamu yang ingin bertemu dengan Bapak, tapi beliau belum memiliki janji.”

“Siapa?” tanpa menoleh Mahasa bertanya.

“Ibu Vernanda, Pak.”

Mendengar nama itu seketika Mahasa langsung membeku. Jari yang sudah bersiap mengetik di atas keyboard kini sudah berubah menjadi sebuah kepalan. Rahangnya mengeras dan urat tampak terlihat menjalar dikedua tangannya.

Saat ini kepalanya tengah pusing dan sekarang malah ditambah dengan kedatangan sosok yang benar-benar tidak ingin ia jumpai. Rasanya ia ingin meledak sekarang juga lalu menghancurkan orang-orang yang ia anggap sebagai bencana. Mungkin dulu kabar kedatangan sosok Vernanda adalah hal yang ia tunggu-tunggu dan membahagiakan tapi kini Mahasa benar-benar ingin melenyapkannya.

Sejak kedatangan wanita itu ke Indonesia, tidak henti-hentinya ia menghubungi Mahasa dan mengajaknya bertemu namun selalu Mahasa abaikan. Dan kali ini dengan beraninya Nanda menginjakkan kaki di kantornya.

“Mau saya usirkan, Pak?” tanya Juna karena Mahasa tidak kunjung menjawab.

Sosok laki-laki yang lebih muda dari Mahasa beberapa tahun itu tentu saja mengetahui hal apa yang terjadi di masa lalu antara Mahasa dengan Nanda. Dan ia juga beberapa kali diutus oleh Mahasa untuk membantu menjauhkan wanita itu dari sekitarnya.

Miss Rempong Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang