Sebelum baca jangan lupa vote dan komen yaaa ♡♡♡
****
Rapat pagi ini baru saja selesai.
Kursi-kursi mulai kosong, suara langkah sepatu pelan terdengar meninggalkan ruangan. Kini hanya tersisa denting jam dinding yang ritmis. Di ujung meja panjang, Mahasa masih duduk tegak sambil membuka beberapa halaman laporan yang tadi sempat terlewat, wajahnya tenang seperti biasa, tapi jemarinya mengetuk meja perlahan—tampak sedang berpikir.
Di sisi lain, Juna sibuk menatap layar tabletnya, mengetik cepat sambil menandai agenda, sementara Anggun membereskan tumpukan dokumen presentasi yang berserakan di meja.
“Pak,” ujar Juna tanpa menoleh, matanya masih fokus pada layar. “Agenda siang ini lanjut rapat sama tim cabang Bandung. Setelah itu, malamnya ada undangan dinner sama Mr. Yusuke di Langham.”
Mahasa menutup map di tangannya, lalu bersandar ke kursi kulit hitam di ruang rapat itu disertai satu helaan napas panjang. Tatapannya jatuh ke arah langit-langit ruangan yang disinari cahaya putih lembut. “Jun,” panggilnya pelan. “Jadwal yang saya minta kosongin buat bulan depan, gimana?”
Nada suaranya terdengar tenang, tapi cukup membuat Juna berhenti mengetik. Dia menelan ludah pelan. Sebenarnya permintaan Mahasa beberapa hari lalu untuk merombak seluruh agenda bulan depan benar-benar membuatnya dan Anggun kewalahan. Hampir semua jadwal itu penting. Seperti berbagai rapat, kunjungan investor, bahkan agenda luar negeri yang sudah dikonfirmasi sejak lama. Apalagi kalau ada klien yang tidak bisa diajak kerjasama untuk reschedule.
Anggun yang turut serta merasa kewalahan oleh permintaan Mahasa, spontan ikut bersuara. “Pak, maaf,” ujarnya pelan, berusaha terdengar setenang mungkin. “Emang harus bulan depan banget, ya? Nggak bisa bulan depannya lagi?” Nada suaranya teramat hati-hati.
Mahasa tidak langsung menjawab. Dia hanya memejamkan mata sebentar, lalu memijat pangkal hidungnya perlahan. Tampak garis tipis kelelahan di wajahnya. “Istri saya sudah uring-uringan terus, Mbak,” ujarnya akhirnya. “Butuh liburan.”
Setiap ada jeda, ingatannya selalu memutar ulang ucapan Kinanti setiap harinya yang menanyakan perihal liburan. Dan itu membuat kepalanya seperti hendak pecah.
Lalu dia menatap Juna dan Anggun bergantian. “Kalau gagal lagi,” ujarnya pelan, memberi jeda sejenak sebelum melanjutkan, “bisa-bisa saya dapet silent treatment. Atau bahkan ditinggal liburan sendiri.” Dia mengembuskan napas kecil. “Kalian yang belum menikah mana paham rasanya didiemin pasangan.”
Juna dan Anggun sontak saling bertatapan. Pandangan mereka sama—antara iba dan prihatin terhadap diri sendiri.
“Masalahnya, Pak …,” Juna akhirnya angkat bicara lagi, nadanya terdengar hati-hati. Dia menggulir layar tabletnya yang penuh warna-warni blok jadwal Mahasa, dimulai dari yang penting dan penting banget. “Bulan depan agenda Bapak padat banget. Ada kunjungan ke luar kota, terus agenda luar negeri juga. Semuanya penting dan sudah dikunci tanggalnya.”
Mahasa mendecak pelan. “Makanya saya minta kalian,” suaranya kini terdengar lebih tegas. Lalu menatap Juna. “Terutama kamu, Jun. Sebisa mungkin kosongin jadwal saya minimal dua minggu. Kalau bisa, sebulan.” Dia berhenti sebentar, lalu kembali membuka suara kali ini dengan nada datar. “Nanti saya kasih kalian bonus. Dua kali lipat.”
Alih-alih senang, wajah Juna dan Anggun justru tampak semakin kusut. Baru kali ini, kata bonus terasa seperti hukuman.
“Kalau Bapak minta sebulan,” gumam Juna sambil menutup tabnya pelan.“Mending saya resign ajalah, Pak.” Nada pasrahnya terdengar sungguh-sungguh.
Mendengar itu Mahasa langsung menatapnya tajam. Seolah memberi peringatan.
Dan tatapan itu cukup membuat Juna langsung menunduk, buru-buru menyalakan kembali tabletnya sambil menelan ludah.
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Rempong
Aktuelle LiteraturKinanti Wijaya atau orang-orang sering memanggilnya Kiwi merupakan mantan 3rd runner-up Miss Universe perwakilan dari Indonesia, semenjak menorehkan prestasi itu namanya semakin melambung di dunia hiburan Indonesia apalagi ketika dia dipercaya menja...
