Hai aku kembali....
Sebelum baca jangan lupa, follow, vote, komen dan share 🔥🔥
***
Kinanti mendengar semuanya. Semua hal yang diucapkan oleh Widya.
Tanpa sepengetahuan Mahasa diam-diam Kinanti menangis.
Hal jahat apa yang telah ia perbuat sampai ibu mertuanya sebenci itu? Apakah sebuah kesalahan besar dirinya menikahi Mahasa? Sesalah itu kah ia? Sesalah itu kah profesinya?
Keesokan harinya Kinanti mencoba untuk terlihat biasa saja. Ia harus tetap waras. Widya tidak boleh merasa menang meskipun ucapannya sangat menyakitkan dan membuatnya hampir goyah.
Jika Widya ingin membuat hidup Kinanti seperti di dalam neraka, maka dengan senang hati ia akan turut serta menyeret wanita itu untuk bergabung dengannya.
“Aku gak jadi punya adik ya, Mi?” tanya Megan yang saat ini dierbolehkan bermain di ruangan Kinanti.
Dengan raut wajah yang masih pucat Kinanti mengangguk. “Iya. Keinginan kamu akhirnya terkabul. Kamu akan jadi anak satu-satunya sampai batas waktu yang tidak dapat ditentukan. Selamat ya?”
Mendengar hal itu membuat Mahasa yang tengah duduk di sofa seketika menoleh. “Kinanti,” tegurnya dengan suara yang pelan.
Menurutnya ucapan Kinanti barusan terdengar seperti menyalahkan Megan. Hal itu terlalu kejam bagi anak seusia Megan yang tidak mengerti apa-apa.
Kinanti yang merasa tidak ada yang salah dengan ucapannya lantas balas menatap Mahasa. “Emang bener kan, Mas? Doa anak kecil ternyata semanjur itu,” sahutnya seraya terkekeh meski pun sorot matanya tidak memancarkan kebahagiaan.
Mahasa menggelengkan kepalanya. Mood Kinanti masih belum stabil. Mau tidak mau Mahasa harus memaklumi hal itu, karena tidak mudah bagi seorang ibu yang baru saja kehilangan anaknya untuk menerima kenyataan pahit ini.
Mahasa kemudian melihat ke arah Mbak Ela yang tampak terkejut mendengar ucapan Kinanti.
“Mbak Ela, boleh saya minta tolong untuk bawa Megan bermain di tempat lain sebentar? Ibunya mau istirahat dulu,” ujar Mahasa.
Mbak Ela mengangguk patuh lantas ia langsung membujuk Megan untuk bermain di luar. Megan yang belum mengerti dengan situasi saat ini hanya menurut saja.
“Nanti main sama Papa, ya?” ujar Mahasa setelah memberikan kecupan di kedua pipi Megan meskipun dengan berat hati ia harus menyuruh Megan bermain di tempat lain. Kalau tidak begitu, ia khawatir Kinanti akan mengucapkan hal-hal yang tidak pantas di dengar oleh sang anak.
Megan hanya mengangguk saja setelah itu ikut keluar bersama Mbak Ela.
“Kenapa kamu usir Megan, Mas? Nanti dia nangis loh, terus abis itu ngadu sama Ibu kamu.”
Mahasa tidak langsung menyahut, ia terlebih dahulu menurunkan sedikit ranjang Kinanti.
“Kamu masih butuh waktu untuk istirahat,” ujarnya seraya memperbaiki selimut Kinanti yang sedikit turun.
Dengan tatapan yang kosong Kinanti terlihat tersenyum tipis. “Andai dengan cara istirahat bisa bikin anakku balik lagi. Aku mau istirahat setiap saat.”
“Kinanti ...,” gumam Mahasa yang tampak lelah. Ia tidak tahu harus memberi pengertian seperti apa lagi kepada Kinanti. Jika dirinya banyak bicara, ia takut diantara perkataannya ada hal yang tidak sengaja menyinggung Kinanti meski sedikit pun ia tidak bermaksud melukai wanita itu.
“Jangan kasih aku pengertian atau kalimat-kalimat supaya aku tetap tabah. Aku gak butuh itu sekarang.”
Mahasa terdengar menghela nafas lelah. “Istirahat, saya cuma mau suruh kamu untuk istirahat.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Miss Rempong
Narrativa generaleKinanti Wijaya atau orang-orang sering memanggilnya Kiwi merupakan mantan 3rd runner-up Miss Universe perwakilan dari Indonesia, semenjak menorehkan prestasi itu namanya semakin melambung di dunia hiburan Indonesia apalagi ketika dia dipercaya menja...
