"Kata Aji aku cantik, tapi kata Mila aku culun."
Happy reading :)
Satu semester sudah Silla menjadi murid SMA Purnawijaya. Hari ini adalah ujian akhir semester satu. Silla siap? Tentu saja. Semalaman dia sudah belajar semua mata pelajaran sekaligus. Mencoba berbagai latihan soal, sampai-sampai membuat ringkasan materi untuk dia baca lagi di sekolah.
Sekarang, di sekolah pun dia masih membaca ringkasan yang semalam dia tulis. Mimin dan Tini menatap Silla.
"Sil lo ga cape belajar terus?" Tanya Mimin sambil menarik bangku mendekati meja Silla.
"Iya Sill, niat lagi buat catetan." Sahut Tini.
"Ssttt kalian jangan berisik, aku lagi fokus." Ucap Silla yang masih terfokus pada buku catatan.
Mimin dan Tini menggeleng-geleng tidak habis pikir melihat betapa ambisnya temannya ini.
Walaupun Silla sudah belajar semalaman, tapi dia tetap belajar dan membuat catatan. Katanya agar hasilnya tidak mengecewakan. Tapi dari nilai sehari-hari saja Silla selalu bisa menjawab pertanyaan dan kuis yang diberikan setiap guru mapel dengan benar dan hasil yang di atas rata-rata dari murid lainnya.
Lain halnya dengan Ello. Jika kalian melihatnya dia adalah orang yang pemalas. Ya, itu benar. Tapi... Walaupun pemalas prestasi Ello tidak pernah mengecewakan. Dia selalu masuk peringkat tiga besar dan selalu terpilih untuk mengikuti seminar dan berbagai perlombaan menjadi perwakilan sekolah.
Berbeda lagi dengan Aji. Dia rajin belajar kalo inget . Aji termasuk kedalam golongan orang yang bodo amat terhadap pelajaran. Dia mengisi jawaban tiap tugas dan ujian berdasarkan logika, bukan berdasarkan stigma orang-orang dan sumber-sumber buku yang dipelajari. Walaupun Aji jarang belajar, tapi hasil yang ia peroleh cukup bagus. Makannya sampai sekarang kenaikan kelas dia tidak ada hambatan apapun.
***
Ello yang baru saja datang ke kelas dengan tatapan dinginnya berjalan menuju bangkunya. Ello menggunakan jaket dengan lengan jaket yang ia tarik sampai sikutnya membuat aura-aura cogan semakin terlihat jelas dalam diri Ello.
"Awas!!" Ucap Ello dingin kepada Tini dan Mimin, karena bangku yang mereka seret di dekat bangku Silla menghalangi jalan.
"Bisa sopan dikit ga sih. Permisi kek atau apa kek. Ini mah ngusir." Ucap Mimin sambil mengembalikan bangku ke tempat semula.
Ello tidak menyahut. Ello langsung menuju bangkunya begitu saja, setelah Mimin dan Tini membenarkan bangkunya.
"Dasar kutub." Ledek Tini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Kita¿?
Teen FictionSahabat jadi cinta Cinta jadi benci Benci jadi cinta Lucu, cinta serumit itu ternyata. Tapi dari cinta banyak pelajaran yang bisa diambil. Persahabatan yang sudah terjalin dari kecil, harus hancur begita saja karena timbulnya rasa ingin memiliki leb...