Di dalam perjalanan, tiba-tiba perut Andin bunyi. "Krukk, kruk" anggap saja begitu bunyinya ya.
"Kamu lapar?" Tanya Al. "Iya mas" jawab Andin. "Yaudah kita cari makan dulu"ucap Al. Andin pun mengangguk. "Kita makan mie rebus aja mas dipinggir jalan" ucap Andin. "Enggak, saya gak mau nanti kamu sakit lagi" larang Al. "Enggak bakalan mas, kemarin aja waktu kita makan sate dipinggir jalan aku gak apa-apa kan" jelas Andin. "Huft, yaudah iya" jawab Al.
"Mba, pesan mie rebus 2 ya" ucap Al. "Baik pak" jawabnya. Tak lama pesanan mereka pun datang, mereka pun langsung memakannya. "Makannya pelan-pelan Ndin nanti keselek" ucap Al. "Iya mas" jawab Andin.
Setelah, mereka makan Al dan Andin pun kembali ke hotel.
"Istirahat" pinta Al. "Iya mas" jawab Andin. "Aduh" ucap Andin yang merasakan tendangan dari perutnya. "Kenapa Ndin? Apa yang sakit?" Tanya Al panik.
Andin pun menggeleng. "Anak kita nendang mas" ucap Andin. "Anak kita nendang? Sini saya mau lihat" ucap Al. Andin pun mendekat ke Al, lalu Al meletakkan telinganya ke perut buncit Andin. Dan tendangan itu pun terjadi lagi.
"Dia nendang ndin" ucap Al. "Iya mas" jawab Andin. "Sayang, anak papa nendangnya jangan kuat-kuat ya nanti mama kamu kesakitan. Kan kasihan" ucap Al ke perut Andin. Sementara Andin hanya tersenyum.
"Ndin, kamu jaga anak kita ya" pinta Al. "Iya mas" jawab Andin. "Yaudah sekarang tidur, istirahat" ucap Al. "Peluk mas" ucap Andin. Al pun memeluk Andin, dan mengelus rambut dan perut buncit Andin. "Selamat tidur ndin" ucap Al lalu mencium Andin.
Besok paginya adalah hari terakhir mereka di Bandung. Al yang sudah siap dengan setelan jas nya mau berangkat jumpa klien. "Mas, kamu kok gak bangunin aku. Kan aku mau ikut" ucap Andin yang baru bangun. "Enggak, hari ini kamu istirahat saja di sini" pinta Al. "Tapi mas, aku mau ikut" paksa Andin. "Enggak usah ndin, kamu harus istirahat baru aja sembuh semalam" ucap Al. "Yaudah deh, aku gak ikut" jawab Andin ngambek.
Al yang melihat Andin ngambek pun mendekatinya. "Andin, kamu baru sembuh. Kamu harus banyak istirahat, jaga anak kita ndin" ucap Al. "Hmm, iya mas" jawab Andin. "Yaudah, saya pergi dulu. Kamu selama saya belum pulang, jangan pergi kemana-mana tetap di kamar. Jangan bukakan pintu ke siapa pun, kecuali pelayan hotel mengerti" ucap Al. "Iya mas" jawab Andin.
"Ndin, saya sudah bilang ke pihak hotel untuk mengantarkan sarapan dan makan siang kamu ke kamar" ucap Al. "Iya mas" jawab Andin.
"Yaudah, saya kerja dulu" ucap Al. "Loh kamu gak makan mas?" Tanya Andin. "Enggak, nanti saya makan diluar aja" jawab Al. "Yaudah hati-hati mas" ucap Andin lalu mencium tangan Al. "Iya, kamu baik-baik di sini" jawab Al lalu mencium kening Andin.
Sementara di sisi lain, ada seseorang yang memperhatikan mereka. "Bos, dia udah pergi bos" ucapnya. "Bagus, sekarang kerjakan tugas kamu" pintanya. "Baik bos" jawabnya. Dia pun melaksanakan tugasnya.
Dia mengetuk pintu kamar Andin. "Permisi" ucapnya. "Iya, siapa?" Tanya Andin. "Saya mau mengantarkan sarapan mba" ucapnya. "Oh ya, bentar" jawab Andin.
Andin pun membuka pintu kamar nya. "Permisi mba, saya mau mengantarkan sarapan" ucapnya. "Iya silahkan masuk" jawab Andin.
Pelayan itu pun masuk, dan tiba-tiba mengunci pintu kamarnya. "Kok dikunci mas" ucap Andin. Pelayan itu pun tersenyum dibalik maskernya. Lalu dia mengikat tangan Andin dan menutup mulutnya dengan kain. Dan Andin pun memberontak dan meminta tolong tetapi nyaris tidak terdengar karena kamarnya kedap suara.
"Tolong-tolong, tolong lepasin saya" teriak Andin. "Teriaklah sekuatnya nyonya Aldebaran" ucapnya.
"Halo bos semua udah beres, sekarang dia ada sama saya" ucapnya di telepon. "Bagus, kamu bawa dia ke sini. Tapi harus hati-hati jangan sampai ada orang yang mengetahuinya. Kamu pakai masker kan?" Tanyanya. "Iya bos. Kalau gitu serahkan semuanya ke saya" jawabnya.
Sementara Andin yang dari tadi memberontak mulai kelelahan dan dia pun pingsan. "Udah, pingsan aja ini nyonya Aldebaran. Tenang aja saya gak akan macam-macam kok paling cuma satu macam nona" ucapnya sambil mengelus pipi Andin.
"Selamat mimpi indah nona" ucapnya lalu menyuntikkan obat tidur ke Andin. "Cantik banget ya kalau lagi tidur nona" ucapnya. Lalu menggendong Andin, lalu membawa nya ke bosnya. Sebelum itu, dia melepaskan ikatan tali dan kain yang di mulut Andin dan menggantinya dengan masker supaya orang lain tidak curiga kalau dia sedang menyekap Andin.
"Ini dia bos" ucapnya sambil menggendong Andin. "Bagus, cepat kamu ikat tangannya dan bekap mulutnya biar kalau dia udah sadar gak berisik" pintanya. "Iya bos" jawabnya.
Lalu bosnya yang tak lain adalah Farel Aditya rekan bisnis Al yang dendam ke Al karena dulu pernah membuat perusahaan hancur.
Farel pun mendekat ke Andin dan memandanginya. "Ternyata istri lo cantik juga Al" ucapnya.
Di sisi lain Al sedang meeting bersama rekan kerjanya. Al tiba-tiba saja kepikiran Andin, dia tidak bisa fokus ke kerjaannya.
"Kok gue kepikiran Andin ya, Andin udah sarapan gak ya? Andin udah istirahat gak ya?" Batin nya. "Kenapa pak Al, sepertinya anda sedang tidak fokus?" Tanya Rekan bisnisnya. "Saya kepikiran istri saya, istri saya itu lagi sendirian di hotel dan lagi sakit" jawab Al. "Semoga istri bapak cepat sembuh ya" ucapnya. "Iya, oh ya meeting kita sampai sini dulu ya" ucapnya. "Iya pak, senang berbisnis dengan anda" jawabnya. "Iya pak" jawabnya.
Mereka pun berjabat tangan, setelah itu Al langsung pergi. Di dalam mobil Al mencoba menghubungi Andin, tetapi tidak ada jawaban dari Andin.
"Angkat dong ndin" ucap Al sambil menelpon Andin. Al menghubungi Andin beberapa kali, tetap juga gak ada jawaban.
"Kok gak diangkat sih, angkat dong ndin. Kamu kemana sih?" Ucap Al.
"Kok perasaanku gak enak ya. Gue harus cepat ke hotel untuk memastikan Andin baik-baik saja" batin Al. Lalu Al menambah kecepatan mobilnya diatas rata-rata. Setelah sampai hotel, Al langsung menuju kamarnya.
"Loh kok gak dikunci? Tadi kan saya suruh Andin kunci pintu" batin Al lalu masuk ke kamarnya.
"Ndin, Andin" teriak Al.
"Andin kemana?" Tanya Al bingung. Lalu Al melihat ke seluruh ruangan tetapi dia tidak menemukan Andin.
"Andin kemana ya? Coba aku telepon lagi deh" batin Al lalu menelpon Andin. Handphone Andin pun bunyi di kamar. "Loh, handphone nya ini. Tapi Andin kemana ya?" Batin Al.
____________________________________
Jangan lupa vote, semoga kalian suka dengan ceritaku. Maaf kalau masih banyak typo.
KAMU SEDANG MEMBACA
Ikatan Cinta
Cerita PendekTokoh: Aldebaran Alfahri Andini Kharisma Putri El Nino Prasetya Elsa Anindita Seorang CEO PT Aldebaran Sejahtera yang bernama Aldebaran Alfahri telah salah paham dan terlanjur membalaskan dendamnya ke Andini Kharisma Putri seorang dosen di salah s...
