Punishment?

3.5K 355 5
                                        

Suatu hari setelah libur semester, Sahara berlari-lari kecil untuk menjangkau gerbang sekolah

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Suatu hari setelah libur semester, Sahara berlari-lari kecil untuk menjangkau gerbang sekolah. Deru nafasnya terengah-engah karena tenaga yang cukup terkuras banyak.

Gadis itu memegangi kedua lututnya, kemudian satu tangannya di daratkan pada dada yang gerakannya sangat cepat berdetak. Pelipisnya sudah dibanjiri keringat dan bagian punggungnya sudah nampak sedikit basah.

Sedikit merasa lega, karena Sahara berhasil sampai di halaman sekolah sebelum gerbang benar-benar di tutup.

"Huft, cape banget. Untungnya belum telat," ucapnya pelan seraya kembali berusaha menetralkan nafasnya.

Setelah di rasa cukup beristirahat, Sahara kembali melanjutkan langkahnya menuju ke kelas.

Hari ini, Sahara memasuki semester tiga di sekolahnya. Tahun ajaran baru untuknya yang berarti saat ini ia sudah duduk di bangku kelas dua SMA.

SMA Highlight, dari namanya saja bisa dipastikan bahwa sekolah tersebut sangat tersohor dan kerap menjadi sorotan. Orang-orang yang bersekolah disana, pastilah dengan latar belakang perekonomian yang tinggi. Para ekonom kelas menengah ke bawah, sepertinya hanya bisa bermimpi dan menelan ludah saja.

Sahara berjalan seraya memegangi tali tote bag yang bertengger di pundak kanannya. Ada yang aneh, dan Sahara merasakan itu. Hampir keseluruhan siswa dan siswi menyoroti dirinya dengan tatapan yang tidak biasa. Tak jarang mereka juga saling berbisik satu sama lain lalu menampilkan tatapan yang sinis.

Gadis itu bingung, apa ada yang salah dengan penampilannya? Ia kemudian menelisik tiap detail tubuh dan penampilannya. Sayangnya, ia tidak menemukan keanehan apapun.

"NGAPAIN LO LIAT-LIAT HA?" Bentak Sahara pada salah satu siswi di dekatnya.

"Welcome, cewek miskin! Upssss."

Suara seorang wanita menerobos paksa telinga Sahara. Suara yang sangat tidak asing, dan Sahara mengenali suara gadis itu.

"Maksud lo, apa? Udah berani lo sama gue?" Tanya Sahara dengan nada kesal.

Prakkk

Satu telur busuk mendarat dan pecah di kepala Sahara. Menyebabkan bau yang sangat menyengat dan menusuk hidung. Cairan telur itu menempel di rambut dan berjatuhan mengenai bajunya. Sahara geram, ia mengepalkan kedua tangannya kesal. Emosinya mendadak memuncak. Sahara benar-benar sudah habis kesabaran.

"SIALAN. MAKSUD LO APA HA?" Bentaknya seraya berjalan ke arah Zara, teman sekelas yang sering kali ia bully.

"Anjir! Jauh-jauh lo dari gue! Bau lo busuk, sama kayak hati lo," gadis itu mendorong kuat tubuh Sahara, hingga Sahara jatuh ke tanah.

"Asal lo tau, ya, sekarang gue udah nggak takut lagi sama lo. Lo nggak akan bisa bully gue lagi, karena sekarang lo udah nggak punya kekuasaan apapun. Satu sekolahan udah pada tahu kalau orang tua lo bangkrut dan jatuh miskin. Lo sekarang nggak ada apa-apanya di banding gue. Jadi, lo nggak usah sok berkuasa. Lo itu cuman anak penjual lontong. Lo miskin dan nggak punya apapun!"

180° [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang