🌼 Follow akunku sebelum membaca!
🌼 Dilarang plagiat karena ide itu MAHAL!
🌼 Status cerita sudah end, jadi bisa marathon sampai akhir.
🌼 Jangan lupa vote dan komen saat membaca, agar Author tahu kalian benar-benar ada dan nyata.
Blurb :
Apa jadin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Tujuh hari usai kepergian gadis itu, apartemen Sagara terlihat sangat berantakan. Sampah berserakan dimana-mana. Ruang tamu nampak sangat kacau dengan plastik sampah yang berceceran di lantai.
Botol minuman terlarang berjejer asal di meja ruang tamu. Benar-benar tidak ada pemandangan yang apik di sana.
Sagara masih tertidur pulas, setelah kemarin malam mabuk berat. Rupanya tak cuma sekali, lelaki itu sudah melakukannya beberapa hari usai istrinya pergi.
Lelaki itu harus bekerja hari ini. Dengan malas dan terpaksa, ia mengangkat tubuh lalu terduduk di kasur. Kepalanya meringis dengan tangannya yang pelan memijat pelipis. Pusing sekali. Mungkin efek minuman yang kemarin ia teguk tanpa ampun.
"Awww," ringisnya sembari berusaha bangkit.
"Bikinin gue sarapan, buruan!"
Lelaki itu berucap secara spontan. Setelahnya ia sadar, tidak ada siapapun di sana kecuali dirinya. Sahara sudah pergi, mengapa ia masih bersikap seolah gadis itu ada disana?
Sagara menggelengkan kepala, ada yang tidak beres dengan pikirannya. Kemudian ia berjalan gontai ke arah kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai sudah ritual mandi, lelaki itu keluar dengan bertelanjang dada dan balutan handuk yang menutup bagian bawahnya.
Matanya melirik ke arah kasur. Lelaki itu merasa ada yang kurang di sana. "Ra, mana baju gue? Kenapa belum di siapin? Gue mau kerja."
Lagi-lagi ia berbicara omong kosong. "Arghh." Sagara memukuli kepala dengan tangannya.
Mengapa gadis itu terus ada di kepalanya? Sahara yang menyiapkan bajunya. Sahara yang menyiapkan sarapannya. Sahara yang mengurus segala keperluannya. Seolah-olah hidupnya sudah bergantung dengan gadis itu.
Kini, saat Sahara sudah tidak ada, mengapa ia mulai merasa kehilangan?
Tidak. Sagara selalu menepis pemikiran itu. Setiap mengingat Sahara, justru kebenciannya akan kembali bergejolak. Amarahnya, emosinya, kebenciannya seolah terkuak tiba-tiba.
"Please, jauhkan perempuan itu dari pikiran gue. Gue muak," kesalnya.
Aroma pertengkaran keduanya, mulai tercium oleh Damar dan Amara. Hal itu di ketahui karena panggilan telepon yang selalu mereka layangkan, tapi Sahara tidak pernah mau berbicara. Sagara selalu beralasan gadis itu sedang pergi, sedang tidur, sedang mandi, dan lain sebagainya.
Firasat seorang ibu sepertinya enggan meleset. Pagi ini, wanita itu nekat mendatangi apartemen Sagara untuk memastikan semuanya.
Ting nong
Bunyi bel apartemen mulai menerobos telinga Sagara. "Siapa lagi yang bertamu pagi-pagi gini, nggak tau gue lagi pusing apa!"
Lelaki itu berjalan dengan sangat terpaksa. Tangannya membuka pintu dengan sangat malas. Namun, wajah kusutnya mendadak menegang saat mengetahui siapa yang datang berkunjung ke rumahnya.