🌼 Follow akunku sebelum membaca!
🌼 Dilarang plagiat karena ide itu MAHAL!
🌼 Status cerita sudah end, jadi bisa marathon sampai akhir.
🌼 Jangan lupa vote dan komen saat membaca, agar Author tahu kalian benar-benar ada dan nyata.
Blurb :
Apa jadin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
PRAK
Gelas berisi susu hangat lolos begitu saja dari genggaman Sahara. Serpihan gelas berserakan dimana-mana. Begitu juga dengan air susu yang nampak muncrat dan menjangkau area sekitarnya.
Gadis itu syok, masih bingung mengapa gelas itu bisa jatuh padahal ia sudah menggenggamnya dengan baik. Tubuhnya mulai ia tundukkan ke bawah. Perlahan, jemarinya memunguti pecahan kaca itu untuk di kumpulkan dan kemudian di singkirkan.
"Awww." Kucuran darah segar keluar dari jari telunjuknya. Sahara mengibas-ngibas jemarinya karena kaget dan merasa perih. Kemudian, ia langsung menghisap darah itu agar tidak mengalir semakin banyak.
Sejak kemarin malam, perasaan Sahara gusar. Tidurnya tidak tenang, ia bahkan hanya tidur sekitar dua jam karena dadanya terus merasa cemas. Berulang kali ia memejamkan mata, tetap saja akan kembali terbuka. Tubuhnya berkali-kali mencari posisi yang nyaman agar bisa tidur, namun tetap saja gagal.
"Fokus, Sahara. Mungkin ini karena kamu kurang tidur kemarin malam."
Tangannya mengambil tong sampah usai mengumpulkan semua pecahan. Lalu, ia memasukkan gelas yang sudah hancur berantakan itu ke dalam sana. Setelahnya, ia mengambil kain pel lalu membersihkan area lantai yang terkena tumpahan susu.
Setelah berkutat dengan pekerjaan mendadak itu, Sahara kembali ke dapur untuk membuat susu yang baru. Kemudian, ia beralih ke ruang tengah untuk menonton televisi mini di kontrakannya.
Saat hendak mendudukkan bokongnya, seketika ponselnya berdering. Ada panggilan masuk untuknya.
"Halo, sayang."
"Iya, Ma. Ada apa?"
"Mama, papa, dan adik kamu. Kami sedang dalam perjalanan pulang ke rumah. Kamu ada waktu hari ini? Main ke rumah, ya? Mama kangen sama kamu. Udah lama banget kita nggak ketemu. Mama takut nggak bisa ketemu lagi nanti."
"Mama ngomong apasih, nanti kita bakalan sering ketemu kalau Mama udah sampe rumah. Yaudah, nanti Sahara main kesana ya. Kabari Sahara kalau kalian udah sampai di rumah."
"Iya, sayang. Mama tutup dulu ya teleponnya. I love you."
"Love you too, Ma."
Sahara menjauhkan benda pintar itu dari telinganya. Gadis itu mengendikkan bahu, setelahnya menggelengkan kepalanya sebentar. "Ada-ada aja Mama."
Aktivitasnya menjadi membosankan sekarang. Sejak pergi dari apartemen Sagara, ia tidak lagi pergi kuliah. Rencana hidupnya ke depan, ia ingin mencoba membuka jasa menjahit seperti ibunya.
Gadis itu mengarahkan remote ke arah televisi, memilih stasiun TV mana yang hendak di lihat. Setelah berulang kali layar berganti, akhirnya berhenti karena tangannya sudah lelah mencari.
Akhirnya, televisi itu berbicara sendiri. Sahara tidak lagi menontonnya. Matanya justru lebih memilih untuk menggeser-geser aplikasi TokTok. Sesekali gadis itu tertawa. Sesekali ia kesal. Sesekali ia bersedih. Seolah setiap postingan VT yang ia lihat menyentuh perasaannya.