🌼 Follow akunku sebelum membaca!
🌼 Dilarang plagiat karena ide itu MAHAL!
🌼 Status cerita sudah end, jadi bisa marathon sampai akhir.
🌼 Jangan lupa vote dan komen saat membaca, agar Author tahu kalian benar-benar ada dan nyata.
Blurb :
Apa jadin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Usaha Sagara untuk terus meyakinkan istrinya, nampaknya tidak membuahkan hasil apa-apa. Setelah berkali-kali ia menyesal dan mengatakan akan memperbaiki semuanya, Sahara tetap saja kukuh pada keputusannya untuk bercerai.
Hati gadis itu sudah terlanjur sakit. Bagaimana pun Sagara berjanji tidak akan mengulanginya, tetap saja Sahara tidak bisa membuang bayang-bayang yang terus menghantui kepalanya.
Saat ini, Sahara tengah mempersiapkan diri untuk pergi ke pasar. Seperti biasa, pemilik nama Sagara sudah berada di sana untuk bertemu Sahara.
"Udah selesai? Ayo pergi," tawar lelaki itu.
Gadis itu melengos pergi begitu saja tanpa menjawab pertanyaan Sagara. Ia benar-benar sudah muak dengan Sagara.
Lelaki itu menarik pergelangan tangan Sahara saat gadis itu melaluinya.
"Lepas," seru Sahara dengan nada rendah.
"Ayo pergi sama gue."
"Aku bisa sendiri, kamu pulang aja."
"Kapan sih lo mau dengerin omongan gue?" Celetuk lelaki itu.
"Kapan sih kamu pergi dari hidup aku? Nggak ganggu aku dan biarin aku hidup tenang? Aku capek," keluh Sahara bertanya balik.
Lelaki itu menghela nafas, sakit sekali rasanya mendengar kalimat itu keluar dari mulut Sahara. Namun, ia juga mengerti semua yang terjadi sekarang adalah konsekuensi atas perbuatannya.
"Berkali-kali gue bilang, gue nggak akan tinggalin lo. Apalagi, lo sedang hamil anak gue. Mana mungkin gue biarin lo dan calon anak gue gitu aja. Nggak mungkin!"
"Kamu lucu, ya. Saat aku kasih kabar ke kamu kalau aku hamil, dengan seenaknya kamu bilang kalau ini bukan anak kamu. Kamu keluarin semua kata kasar dan dengan gampangnya kamu usir aku dari hidup kamu. Sekarang, kamu ngomongin masalah anak yang ada di perut aku dan kamu bilang khawatir sama keadaan aku dan calon anak aku. Maksud kamu apa, sih?"
Kalimat yang di ucapkan Sahara sukses membuat lelaki itu kembali menelan pahit perbuatannya. Bodoh sekali. Entah setan apa yang merasuki otaknya sampai-sampai bertingkah gila seperti itu.
"Iya, gue akui gue bodoh karena melakukan hal yang serendah itu. Bukannya gue udah minta maaf? Gue udah bilang kan kalau gue akan berubah dan menebus semua kesalahan. Jadi, gue nggak akan berhenti sampai gue benar-benar bisa dapatin maaf dari lo!"
"Percuma. Kamu mau lakuin apapun aku nggak akan perduli. Aku tetap mau cerai dari kamu. Kemarin, aku dapat panggilan dari pengadilan. Mereka bilang suratnya udah hampir selesai. Kamu tinggal tunggu aja, nanti surat itu juga bakal sampai ke apartemen kamu."
"Gue nggak akan pernah tanda tangani surat itu. Nggak akan!"
"Terserah. Aku punya bukti yang kuat, video kamu dan Gracia yang bakal bantu aku di pengadilan."