🌼 Follow akunku sebelum membaca!
🌼 Dilarang plagiat karena ide itu MAHAL!
🌼 Status cerita sudah end, jadi bisa marathon sampai akhir.
🌼 Jangan lupa vote dan komen saat membaca, agar Author tahu kalian benar-benar ada dan nyata.
Blurb :
Apa jadin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Bercak-bercak darah Sahara menempel jelas di dalam mobil, terutama di kursi tempat gadis itu duduk. Matanya masih terpejam sejak tadi, deru nafasnya terdengar sangat melemah.
Rasa bingung dan ketakutan memporak-porandakan hati Sagara. Ia mengendarai mobil begitu cepatnya tanpa memedulikan alunan klakson yang sedari tadi menerobos kaca mobilnya.
Yang ada di pikirannya saat ini, ia harus segera membawa Sahara agar segera mendapat pertolongan.
Lelaki itu mengelus lembut pipi gadis di sebelahnya, dengan lembut ia menyeka sisa-sisa air mata yang ada.
Perasaannya hancur sekali. Melihat Sahara seperti ini benar-benar membuatnya gila. Air matanya tidak berhenti keluar sedari tadi. Jika sampai terjadi hal buruk pada Sahara dan calon anaknya, maka orang pertama yang bersalah adalah dirinya.
"Ra, bangun! Jangan bikin aku ketakutan seperti ini."
"Kamu harus kuat, demi calon anak-anak kita. Aku yakin mereka juga kuat seperti kamu. Bertahan, ya? Sebentar lagi kita sampai di rumah sakit."
Lelaki itu terus mengoceh sendirian. Ia berbicara dalam tangisnya yang terus menggema. Sagara sudah tidak tahu lagi apa yang harus ia perbuat. Lelaki itu hanya ingin Sahara baik-baik saja, begitu juga dengan calon anaknya.
Setelah mengemudi dengan begitu cepatnya, akhirnya mobil mereka sampai di rumah sakit. Buru-buru ia keluar dari dalam mobil dan segera berlari ke arah pintu mobil Sahara.
Tangannya langsung menggendong tubuh gadis itu, lalu berjalan secepat mungkin dengan posisi tangan Sahara yang berayun-ayun ke bawah karena lelaki itu berjalan cukup cepat.
"DOKTER, TOLONG! SIAPAPUN TOLONG SELAMATKAN ISTRI DAN CALON ANAK SAYA."
Sagara berteriak begitu kerasnya, hingga perhatian seluruh penghuni rumah sakit teralihkan padanya. Beberapa perawat yang melihat langsung berlarian dan membawa brankar dorong untuk menampung tubuh Sahara yang sudah berlumuran darah.
Dengan cepat Sagara melepas pelukan dan meletakkan tubuh sang istri disana. Kedua tangannya sudah berlumuran darah, ia tidak peduli. Sagara bahkan menggenggam jemari istrinya kemudian menciuminya beberapa kali.
Seorang perawat lelaki mencoba membuka jalan dan memberitahu orang-orang di depannya agar menepi sebentar. Kepanikan terus menghiasi wajah Sagara, ia bahkan berlarian bersama dengan beberapa perawat yang mendorong brankar.
"Bertahan, Ra. Aku mohon," lirihnya penuh harapan.
Brankar tempat Sahara di letakkan sudah berhasil memasuki ruang UGD. Segera para dokter dan perawat berdatangan untuk menyiapkan alat-alat dan keperluan yang di gunakan dalam pengoperasian. Melihat tubuh Sahara yang sudah banyak mengeluarkan darah, ini tidak bisa di biarkan lebih lama. Akibatnya akan fatal.
"Kamu tunggu di luar saja, Dokter akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkan pasien," ucap salah seorang perawat kepada Sagara.
Bukannya mendengarkan, lelaki itu malah semakin erat memeluk dan mencium dahi Sahara tanpa henti. Sagara tidak mau pergi, ia akan tetap disini untuk menemani Saharanya.