Tetap up di era gempuran readers hanya membaca tapi nggak mau vote, apalagi komen :(
Bela-belain up padahal tubuh lagi nggak fit. It's oke deh, mengisi kekosongan hati. Eh hari maksudnya, maap author nggak bermaksud curhat 😶

Seorang gadis terlihat saling menautkan jemarinya dengan perasaan cemas. Sedari tadi mondar-mandir tak jelas di dalam kamar.
Kadang berjalan ke arah pintu, lalu kembali lagi menatap cermin. Begitu saja aktivitas yang sudah ia lakukan selama kurang lebih lima belas menit.
Sahara terlihat sangat cantik mengenakan dress putih dengan seutas tali tipis yang bergantung di pundaknya. Rambutnya di biarkan tergerai, wajahnya sedikit di tambah polesan agar lebih cerah.
Gadis itu kemudian menatap lekat ke arah cermin, memperhatikan setiap detail penampilannya. "Apa aku harus melakukan ini?" Gumamnya dengan tatapan kosong dan perasaan hati yang berat.
Sahara kemudian mengambil liptint dengan warna yang tidak terlalu terang, agar senada dengan wajahnya. Ia mengoleskan benda cair itu pada bibirnya, melalui bantuan kuas khusus yang sengaja di desain. Setelah selesai, gadis itu lalu mengatup-ngatupkan bibirnya berulang kali agar liptint di bibirnya lebih merata.
"Kamu sudah yakin dengan keputusan kamu, Nak?" Tanya Helen berhasil mengambil alih fokus Sahara.
Gadis itu kemudian menoleh ke belakang, ke arah sang ibu. Helen kemudian mendatangi anaknya yang sedang duduk di meja rias. Ia memegangi kedua pundak anaknya, seolah menyalurkan kekuatan melalui tiap usapan lembutnya.
Wajah teduh itu menampilkan senyuman, entah sama atau tidak dengan hatinya. "Sahara yakin, Ma. Sahara siap, kok," ucapnya dengan raut wajah sumringah.
Tak berapa lama, terlihat seorang remaja lelaki memasuki kamar dan membuat kerusuhan. Dengan hebohnya, lelaki itu mengoceh tanpa henti.
"Kakak benar mau tunangan? Sama siapa, Kak? Kok Ghafi baru tahu sekarang. Nggak seru ih main rahasia-rahasiaan," celetuknya dengan raut wajah cemberut.
Kedua wanita itu hanya tersenyum ceria melihat tingkah aktif Ghafi. Lelaki itu memang pandai sekali mencairkan suasana. Pemikirannya pun tidak bisa di sepelekan. Masih SMP, tapi pemikirannya luar biasa sudah seperti orang dewasa.
"Belum tunangan. Baru mau pertemuan keluarga dulu, Nak. Kakak kamu kan masih sekolah,"sahut sang ibu menjelaskan dengan bahasa yang bisa di mengerti oleh Ghafi.
"Masih sekolah kok udah mau nikah. Liat tuh bang Ilham, anaknya Tante Siska. Tamat kuliah, udah kerja, tapi kok belum menikah, Ma? Berarti Kak Sahara udah ngebet, ya? Hayo ngaku Kakak," godanya membuat Sahara menjawab seketika.
"Enak aja. Bukan gitu! Kamu masih bocil, nggak boleh tahu."
"Tuh, Ma. Lihat Kak Sahara, selalu aja main rahasia-rahasiaan dari Ghafi. Nggak berbakti banget jadi Kakak."
KAMU SEDANG MEMBACA
180° [END]
Novela Juvenil🌼 Follow akunku sebelum membaca! 🌼 Dilarang plagiat karena ide itu MAHAL! 🌼 Status cerita sudah end, jadi bisa marathon sampai akhir. 🌼 Jangan lupa vote dan komen saat membaca, agar Author tahu kalian benar-benar ada dan nyata. Blurb : Apa jadin...
![180° [END]](https://img.wattpad.com/cover/293822827-64-k221377.jpg)