🌼 Follow akunku sebelum membaca!
🌼 Dilarang plagiat karena ide itu MAHAL!
🌼 Status cerita sudah end, jadi bisa marathon sampai akhir.
🌼 Jangan lupa vote dan komen saat membaca, agar Author tahu kalian benar-benar ada dan nyata.
Blurb :
Apa jadin...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Saat ini, akan berlangsung mata pelajaran matematika di kelas 11 IPA-A. Kelas yang di diami oleh Sahara, Sagara dan juga teman lainnya.
Indra sudah bersiap-siap untuk memberikan pelajaran hari ini. Sejak ia masuk tadi, raut wajah siswa maupun siswi mendadak murung. Banyak juga yang terlihat menidurkan kepalanya di meja. Belum mulai belajar saja sudah pusing. Dasar, kelakuan anak sekarang.
Rasanya, hidup akan lebih menyenangkan tanpa matematika. Matematika adalah satu mata pelajaran yang cukup di benci oleh sebagian banyak siswa. Menurut mereka, belajar matematika hanya akan membuat otaknya gelisah galau merana. Lebih baik berlari keliling lapangan ketimbang harus belajar matematika.
Indra terlihat membuka buku absen yang ada di meja. Seperti biasa, pria itu akan memulai pembelajaran usai mengabsen para siswa. Satu persatu ia panggil, tak lupa para siswa mengacungkan tangan pertanda kehadiran di kelas.
Sekitar delapan menit, akhirnya ia selesai memanggil nama terakhir yang ada di absen. Pria itu langsung mengerahkan para siswa untuk membuka buku.
"Anak-anak, silakan buka buku kalian halaman dua puluh tiga. Itu yang akan kita pelajari hari ini," perintahnya seraya berjalan dan sedikit menyandarkan bokongnya di meja guru.
Para siswa yang mendengar itu mendadak malas. Tangannya terpaksa membuka halaman yang di perintahkan. Andai buku itu bisa berbicara, mungkin sudah merintih kesakitan karena sebagian besar dari mereka membuka halaman dengan sangat kasar.
"Bagi liat bukunya, gue lupa bawa," Sagara berbicara pelan seperti berbisik pada teman sebangkunya.
"Derita lo. Mana gue peduli!" Ketus Sahara, selaku teman sebangku pria itu.
"Ya-elah, pelit amat lo! Pinjam bentaran doang," serunya sembari menarik buku Sahara agar posisinya lebih ke tengah.
Sahara yang melihat itu menarik kembali bukunya. Terjadi adegan tarik menarik di sana, sampai-sampai suaranya menimbulkan kegaduhan.
"Sahara, Sagara. Apa yang kalian lakukan?" Tanya Indra saat menyoroti aktivitas sejoli itu yang sedikit rusuh.
"Nggak apa-apa kok, Pak. Lanjut menjelaskan saja, Pak," dalihnya dengan melayangkan senyum lebar yang terpaksa.
Sahara berdecak sebal, daripada kena omel guru, lebih baik ia mengalah saja. Dengan berat hati ia bersedia berbagi buku dengan Sagara.
Indra menjelaskan satu persatu materi dengan sabar. Terlihat sangat menguasai. Sesekali ia bertanya kepada para siswa apakah mengerti, atau sebaliknya. Sorak siswa mengatakan paham, padahal, masuk ke otak saja tidak. Sepertinya, penjelasan yang Indra berikan tersangkut di langit ruangan.
Saat ini, sudah ada lima soal yang di tulis Indra di papan tulis. Seperti biasa, ia memang selalu menunjuk beberapa siswa untuk menjawab pertanyaan sebelum mengakhiri kelas.
Banyak sekali siswa yang mendadak kepalanya pegal, sehingga harus menunduk dan berpura-pura membaca buku. Sudah terbaca, itu salah satu trik bersembunyi agar namanya tidak di panggil ke depan.
Indra mengamati seluruh siswa, dari sudut hingga ke sudut. Pria itu memperhatikan dengan detail. Seketika, matanya terfokus pada Sagara yang nampak tertidur pulas.
Ya, lelaki itu sudah tidur cukup lama. Tidak lama setelah Indra mengajar, ia langsung tidur karena sangat mengantuk. Kemarin malam ia tidak bisa tidur, dan baru bisa tidur sekitar jam empat tadi pagi.
"Sagara, silakan kamu ke depan dan kerjakan soal di papan tulis," tunjuknya pada remaja lelaki yang sedang tidur pulas itu.
Sahara tersenyum puas mendengar nama Sagara di panggil. "Mampus, lo!" Batinnya dalam hati.
Gadis itu kemudian menggoyangkan tubuh Sagara dengan bantuan pulpen. Ia mencolokkan pulpen miliknya ke lengan Sagara dengan beberapa kali.
"Bangun, lo di panggil Pak Indra ke depan," ucapnya berusaha membuat Sagara sadar dari tidurnya.
Perlahan, Sagara mengangkat kepalanya. Matanya sudah sangat merah. Pulas sekali tidurnya. Kedua matanya memicing mengarah pada Indra. Kemudian, pria berusia empat puluh tahunan itu memanggil ulang Sagara dan memberi tahunya untuk mengerjakan soal di depan.
Tak butuh waktu lama, Sagara segera berjalan ke depan dan menyambar satu buah spidol di atas meja.
Lelaki itu mulai mengamati soal, meski matanya yang masih sangat mengantuk. Dengan lihai, ia mulai memainkan spidol. Lima soal langsung di babat olehnya dalam waktu yang terbilang singkat.
Hal itu membuat seisi kelas menatap keheranan, terutama Sahara. Ah mungkin semua jawabannya salah, pikir para siswa di sana.
"Jawaban kamu benar semua. Silakan kembali ke tempat duduk kamu," Indra berbicara sembari mengamati jawaban yang di berikan Sagara. Takjub, Indra bahkan sempat meragukan dan berpikir Sagara tidak akan bisa menjawab satu soal pun.
Seisi kelas mendadak ramai dengan gemuruh tepuk tangan. Mereka kagum, juga tak percaya. Bagaimana Sagara bisa mengerjakan itu? Bahkan ia tidur di kelas sedari tadi. Sedangkan, para siswa yang memperhatikan dengan serius pun masih bingung dan belum paham terkait soal yang di berikan Indra.
Sagara kembali ke tempat duduknya, ia kembali menidurkan kepalanya di meja. Benar, Sagara melanjutkan tidurnya.
Sahara di buat melongo sendiri. Ia masih menatap tak percaya. Bagaimana bisa Sagara seperti itu? Ia bahkan masih kurang mengerti meskipun memperhatikan sedari tadi.
"Kok bisa, sih?" Desisnya pelan dengan raut wajah penuh tanda tanya.
"Baiklah, Bapak rasa cukup untuk hari ini. Waktu kita juga sudah habis. Si--."
"Finally."
"Kenapa nggak dari tadi aja, sih? Kepala gue mau pecah rasanya."
"Oh, Tuhan. Terima kasih telah mengakhiri penderitaan ini."
"Buruan, Pak. Otak saya butuh healing."
Suara demi suara keluar dari mulut para siswa, membuat kelas yang awalnya senyap menjadi berisik. Seperti tidak akan bertemu matematika saja, padahal, minggu depan pun akan bertemu lagi.
"Silakan mengerjakan soal yang ada di halaman dua puluh enam. Dua ratus soal, di kerjakan dengan teman sebangku," perintah Indra dan langsung mendapat sautan tidak terima dari para siswa.
"Gila, yang bener aja dong, Pak! Satu soal aja kepala saya mau pecah."
"Nggak, Pak. Katakan kalau ini prank. Saya nggak kuat menghadapi kenyataan seperti ini."
"Kurangin dong, Pak. 50 soal aja ya, Pak?"
"Saya angkat tangan. Tolong saya, Pak."
"Ya, Tuhan. Cobaan apalagi ini?"
Indra hanya senyum-senyum melihat para siswanya kelimpungan dan berteriak minta ampun. Dengan segera ia merubah raut wajahnya menjadi sedikit sangar dan serius.
"Tidak ada komentar apapun! Silakan kalian kerjakan bersama teman sebangku, dan kumpulkan besok di meja saya. Ilham, kamu kumpulkan semua tugas besok lalu letakkan di meja saya," serunya di akhiri perintah untuk Ilham, ketua kelas 11 IPA-A.
Ilham mengangguk, meski dengan raut terpaksa. Para siswa di sana seperti kerasukan setan. Meraung-raung tidak jelas.
Tuhan, cabut saja nyawa mereka. Sepertinya, dua ratus soal matematika cukup untuk menghantarkan mereka ke depan pintu gerbang kematian.