Jika ada ✅ berarti SELESAI REVISI
Part 64 sampai end, author unpublish dulu
⚠FOLLOW DULU YA GUYS SEBELUM BACA⚠
☡jangan lupa vote ya di setiap chapter yang sudah kalian baca☡
Part awal² mungkin nge-bosenin, tapi semoga untuk part selanjutnya kalian s...
Satu bulan kemudian Pagi ini, Arin bangun sangat pagi. Mulai dari memandikan sang anak, menyapu beberapa ruangan, hingga saat ini, dirinya sedang memasak.
Hari ini, Varo tidak pergi ke kantor karena memang hari minggu. Weekend itu pada dasarnya adalah hari dimana kita di beri waktu untuk rilex sejenak dari rutinitas sehari-hari. Sehingga, Varo yang memang seorang CEO perusahaan terkenal, ia lebih memilih untuk bermain dengan sang baby.
"pagi mama" sapa Varo kepada Arin yang sedang memasak di dapur.
"pagiii..." sahut Arin tanpa mengalihkan pandangannya dari sayur-sayuran yang sedang ia cuci.
"lihat tuh, boy! mama kamu sibuk banget sampai kita gak di lirik sama sekali" Varo berbicara pada sang anak yang berada di stroller dekat meja makan.
model stroller yang di pakai baby Vano
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Arin melirik Varo yang sedang berbicara pada sang putra tampannya itu. Lalu, kembali fokus pada kegiatannya.
"masih pagi gak usah bikin Arin emosi ya, mas" ujar Arin dengan datar.
Varo tidak menggubris ucapan sang istri. Ia malah mendorong stroller sang anak keluar dari dapur.
"eh! eh! Vano mau di bawa kemana?" tanya Arin dan sedikit berlari mendekati Varo dan Vano.
"mau aku buang!" jawab Varo dengan enteng.
Arin melototkan matanya. "kamu jangan macem-macem ya, mas!" ucap Arin dengan tajam.
"emangnya kenapa? dia anak aku, terserahlah mau aku buang kek! mau aku bunuh kek!" ujar Varo dengan tampang tengilnya.
"astaghfir, kamu mau bunuh anak kamu sendiri, mas?" tanya Arin dengan nada khawatirnya.
"kalau iya kenapa?" Arin langsung mengambil sang anak yang berada di stroller dengan cepat.
"gak ada seorangpun yang bisa nyakitin anak aku sekalipun itu kamu ya, mas!" Arin berkata tegas.
"loh? sayang, aku cuma bercand, mana mungkin sih aku mau buang anak aku? apalagi sampai membunuhnya?" Varo panik karena sang istri ternyata marah kepadanya.