11. RUMAH VARO✅

1.9K 54 1
                                        

HALLO READERSKU TERSAYANG



JANGAN LUPA PENCET BINTANGNYA YA SAYANG




SEMOGA SUKA SAMA PART INI YA READERS




HAPPY READING














*****

Setelahnya, Arin menyimpan peralatan sholat di tempat semula. Varo juga sudah mengganti baju kokonya dengan kaos berwarna abu-abu dan mengganti sarungnya dengan celana training.

"kamu mau kemana?" tanya Varo yang melihat Arin membuka pintu kamar.

"mau masaklah, pak, ya kali saya mau dangdutan" jawab Arin sambil terkekeh.

"jangan panggil saya, pak" kata Varo dengan tanpa ekspresi.

"terus saya harus panggil siapa? abang? kakek? aa'? abi? atau apa?" tanya Arin dengan ekspresi sedikit kesal.

"ya apa aja asal jangan bapak, saya bukan bapak kamu dan saya juga gak setua bapak-bapak!" jawab Varo yang tak mau kalah.

"bapak Varo yang terhormat, bapak kan emang lebih tua dari saya... jadi, gak ada yang salah kan kalau saya manggil 'pak'? apa mau bapak, saya panggil kakek?" pertanyaan Arin membuat Varo semakin kesal.

"terserah!" ucap Varo, yang langsung pergi ke ruang kerjanya.

Arin tidak mempedulikan Varo yang marah atau ngambek. Ia turun untuk ke dapur. Sesampainya di dapur, sudah ada ART yang sedang memasak.

"pagi, bi" sapa Arin kepada ART yang sudah bertahun-tahun bekerja di rumah keluarga Adyatama.

"eh, non, mau ngapain?" tanya ART tersebut yang bernama bi Susi.

"mau masak atuh, bi" jawab Arin sambil membuka kulkas untuk mencari bahan yang akan ia masak.

"jangan atuh, non, ini sudah tugas bibi buat masak, non duduk saja" ujar bi Susi dengan sopan.

"bibi, Arin sudah biasa di rumah masak bantuin ibu" kata Arin dengan tersenyum ramah.

"tapi, non... bibi takut nyonya tau, non" kata bi Susi dengan ekspresi paniknya.

"bibi gak usah panik, toh bukan bibi kan yang nyuruh Arin masak? tapi, emang Arin yang pengen masak" Arin mencuci sayuran yang sudah ia ambil di kulkas tadi.

Beberapa menit Arin dan bi Susi memasak, Dini turun dari lantai dua. Berjalan menghampiri menantu serta pembantunya itu, yang sedang memasak di dapur.

"lho? sayang, kamu udah bangun?" tanya Dini ketika ingin mengambil minum di dapur.

"iya, ma" jawab Arin yang masih fokus menggoreng udang yang sudah ia beri tepung crispy.

"m-maaf, nyonya... tadi saya sudah bilang sama non biar gak ikut masak tapi-" belum sempat bi Susi meyelesaikan ucapannya, Arin sudah lebih dulu menyelanya.

"ma, jangan marahin bibi karena Arin sendiri yang terbiasa masak sama ibu kalau di rumah" sela Arin dengan cepat.

"unchhh... menantu mama udah cantik, pinter masak lagi, gak salah Varo nikah sama kamu, sayang" puji Dini dengan tersenyum.

Arin hanya tersenyum manis menanggapi ucapan dari sang mama mertua. Lalu, Arin melanjutkan acara masaknya.

"ya udah, kamu lanjutin masaknya, apa mau mama bantuin?" ucap Dini sambil menawarkan bantuan untuk membantu Arin, namun Arin menolaknya.

Mantanku CEO, Suami pun CEOCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang