YUHUUU UP AGAIN NIH
KUY BACA, READERS
OH YA! JANGAN LUPA PENCET BINTANGNYA DI BAGIAN BAWAH PALING KIRI YA
SEMOGA SUKA YA SAMA PART YANG AUTHOR PUBLISH INI
HAPPY READING
*****
Malam yang indah dan udara yang cukup dingin, mampu menembus kulit. Seorang pria tampan saat ini berada di kamarnya dan menatap langit malam dari jendela kamarnya. Tatapan sendu terlihat begitu jelas di kedua manik matanya.
"sayang, aku kangen kamu" ucap Varo dengan pandangan lurus ke arah bintang yang berada di atas langit sana.
"aku kangen masakan kamu, aku kangen kamu ngomelin aku, aku kangen kamu ngambek sama aku, aku kangen semua tentang kamu" ucap Varo dengan bahu yang sedikit bergetar.
"aku gak mau kehilangan kamu, sayang" satu detik kemudian, air mata Varo menetes dengan sendirinya. Ya, Varo menangis di saat langit malam yang indah.
Pintu kamar Varo memang sedikit terbuka. Sehingga, Vano dengan mudah mendorong pintu tersebut.
"papa" panggil Vano sambil melangkah masuk ke kamar sang papa.
"iya, sayang" sahut Varo.
Varo mengusap air matanya secara kasar. Lalu, berjalan menghampiri sang putra sulungnya itu.
"kok belum tidur? kenapa, hm?" tanya Varo sambil menggendong sang putra. Kemudian, ia berjalan ke sofa yang ada di kamarnya.
"gak apa-apa, Vano belum ngantuk aja, pa" jawab Vano sambil memainkan kancing kemeja milik Varo.
Memang tadi pagi, Varo sudah mengunjungi sang istri bersama keluarganya. Ketika menjelang sore, Varo kembali mengunjungi sang istri hingga pukul delapan malam. Setelah pulang dari rumah sakit, Varo belum mengganti kemejanya.
"tumben? ini kan udah jam sembilan malam, sayang? waktunya tidur" kata Varo dengan lembut.
"papa sendiri juga kenapa belum tidur?" tanya balik Vano dengan ekspresi datar, persis seperti Varo.
"papa lagi ada kerjaan tadi, sayang" alibi Varo. Padahal dirinya sedang galau memikirkan sang istri yang sampai saat ini belum juga tersadar dari komanya.
Mereka berdua saling diam beberapa detik. Hingga, Vano yang berbicara lebih dulu.
"pa" panggil Vano.
"hm?" Varo menatap sang putra yang juga sedang menatapnya.
Tiba-tiba Vano memeluk Varo dengan sangat erat dengan mata yang berembun. Varo bingung dengan sikap putranya yang sangat jarang sekali seperti ini.
"kenapa, son?" tanya Varo sambil mengusap punggung sang putra yang saat ini sedang bergetar karena menangis.
"Vano kangen mama, pa... hiks..." ucap Vano dengan isakan tangisnya.
"kan tadi pagi udah ketemu mama?" kata Varo yang masih setia mengusap punggung sang putra dengan sayang.
"Vano kangen mama" hanya kalimat itu yang Vano ucapkan pada sang papa. Tapi, Varo tau jika putranya ini sangat merindukan sosok sang istri yang entah kapan akan tersadar dari komanya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Mantanku CEO, Suami pun CEO
Fiksi RemajaJika ada ✅ berarti SELESAI REVISI Part 64 sampai end, author unpublish dulu ⚠FOLLOW DULU YA GUYS SEBELUM BACA⚠ ☡jangan lupa vote ya di setiap chapter yang sudah kalian baca☡ Part awal² mungkin nge-bosenin, tapi semoga untuk part selanjutnya kalian s...
