Royals - Chapter 12.2

392 26 0
                                        

________________________________
____________________

C12.2 : Royal Dance

____________________
________________________________

Playlist : Ava Max - King & Queens

Playlist : Ava Max - King & Queens

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

________________________________

"Selamat malam, Spencers!" Suara riang Malika yang telah berdiri di depan mikrofon di atas panggung terdengar di seluruh penjuru aula. Lampu sorot hanya menyorot padanya. Entah sejak kapan musik telah berhenti. "Apa kalian menimati acaranya? Sudah seharusnya. Aku panitia acara ini." Ujarnya tanpa memberikan kesempatan siapapun menjawab pertanyaan yang dia utarakan sebelumnya.

Seruan protes Franz terdengar. "Serius Malika?"

"Tentu saja, jangan lupa beri penghargaan pada ketua dan wakil ketua pelaksana yang tampan." Malika bertepuk tangan pada Franz dan Romeo yang berdiri di sebelah panggung diikuti kami semua. Lampu sorot menyoroti mereka. "Rekanku, Skyla." Lagi, Malika bertepuk tangan. Untukku. Diikuti yang lainnya serta lampu sorot. "Dan para panitia lain yang juga sangat penting." Katanya dengan senyum manis. Pasti sahabatku itu tidak ingat siapa saja panitia yang terlibat. Sama sepertiku. "Terima kasih semuanya."

"Ayolah cepat! Aku ingin tahu siapa pemenang nominasinya!" Teriak Karlyn di sebelahku. Membuatku terkekeh pelan.

"Baik. Baik. Akan kubacakan." Malika mengutak-atik iPad dengan sarung hitam dihiasi gliter yang dibawanya. Membacakan pemenang nominasi. Mulai dari sepatu terbaik, tas terbaik, tatanan rambut terbaik, gaun terbaik, tuxedo terbaik, dan keseluruhan penampilan terbaik sesuai hasil penilaian kami tadi. Cukup lama hingga akhirnya dia membacakan kategori yang paling ditunggu-tunggu.

"Pemenang nominasi AFSR King tahun ini adalah..." Inilah dia. Momen kesunyian yang paling mendebarkan kedua dalam dunia High School. Bahkan para guru juga terlihat ingin tahu siapa yang menjadi pemenangnya. Untuk yang kesekian kali. Mengingat Spencers sering sekali mengadakan nominasi. "Navhaniel Cameron Grayson!"

Tepuk tangan. Pekikkan. Pujian. Semuanya bercampur menjadi satu dalam satu keributan yang memekakkan telinga. Seakan permainan Calvin Harris tadi hanya sebuah lagu yang dimainkan di ponsel.

"Bagaimana mungkin dia masuk nominasi? Kenapa aku tidak tahu?" Tanyaku pada Nichole yang berdiri di sebelahku sembari memperhatikan Navhaniel yang menaiki panggung. "Dia bukan alumni."

Nichole terkekeh. "Kau lupa? Kekasihmu itu tidak perlu masuk nominasi untuk menjadi raja. Ada petisi untuknya yang disebarkan siang tadi."

Mendengar jawaban Nichole, aku menegak champagneku hingga tandas sebelum kemudian meletakkan gelas kristal itu di meja dengan sedikit menghentakkannya. Navhaniel dan para penggemar fanatiknya. Bahkan penggemar Rhysand tidak segila ini.

THIS FEELINGSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang