Heiress - Chapter 22.2

298 15 0
                                        

________________________________
____________________

C22.2 : Roots of worries

____________________
________________________________

Playlist : Ellie Goulding - Burn

________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

________________________________

"Kenapa aku harus terpengaruh olehmu dan Reyna?" Untuk kesekian kalinya, Malika menanyakan hal yang sama. "Ini tidak benar. Aku mengkhianati Mike. Oh Astaga! Malika Gracia! Apa yang telah kau lakukan?!"

Karena Malika tidak berhenti merutuki dirinya sendiri, hal itu menarik perhatian siswa-siswi yang kami lewati di sepanjang jalan menuju lobi utama Achroite. Aku menatap tajam mereka semua sehingga mereka langsung mengalihkan pandangan. "Sudahlah Malika, kau tidak melakukan kesalahan apapun."

"Tapi Skyla, tidak seharusnya aku menemui laki-laki lain—"

"Kendalikan dirimu." Selaku saat kami memasuki area lobi. Mataku menelurusri ruangan besar ini sekilas. Lalu aku menemukannya. Duduk di sofa dekat kaca raksasa yang menampilkan pemandangan Spencers.

Brian tampak sangat memikat dalam balutan jaket hitamnya. Kulitnya yang sedikit kecoklatan entah mengapa menambah daya tariknya. Yah aku tidak terkejut lagi dengan hal itu mengingat dia pasti sangat menikmati hidupnya di Miami. Mata hazelnya bertemu dengan mataku. Dan dia sontak tersenyum cerah. Entah karena senang melihatku atau karena gadis cantik di sebelahku.

"S!" Sapa Brian saat aku tiba di hadapannya. "Kau semakin cantik saja."

Aku memutar bola mata jengah. "Maaf Skyla karena tidak berpamitan denganmu dulu sebelum berangkat ke Miami pagi-pagi sekali." Sindirku.

Brian menyengir. "Saat itu kau marah sekali padaku. Aku tidak mau mempertaruhkan keselamatanku sendiri."

"Terserah." Kataku malas, Lalu ekspresiku berubah santai saat aku menoleh pada Malika. "Kau ingat sahabatku ini bukan? Malika Garcia?"

"Tentu saja. Mustahil aku melupakan gadis pirang secantik dia." Brian menatap Malika. "Senang bertemu denganmu lagi, Nona Garcia."

Malika mengangguk sopan. Serasi dengan senyumnya yang manis. "Senang bertemu denganmu juga, Tuan Ashgar."

Selama beberapa saat, aku menatap Malika sedikit terkejut. Seingatku di kamar tadi dia bahkan lupa nama depan Brian. Lalu kenapa tiba-tiba sekarang dia sudah menyebut nama belakangnya? Sahabatku yang satu ini menang benar-benar tahu segalanya. Lagipula kalau dipikirkan kembali, memang sulit untuk dipercaya bahwa Malika melupakan sesuatu.

"Malika akan ikut kontes kecantikan di Miami musim semi nanti." Kataku. Mengabaikan remasan pelan Malika di tanganku. "Kuharap kau mau menemaninya di sana. Mengingat kau tahu semua sudut Miami. Terlebih pantai-pantainya."

THIS FEELINGSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang