❝FOR THOSE WHO LOOK UP TO THE SKY.❞
____________________________________________
SKYLA ALEA CLARKE, cucu perempuan pertama dari keluarga pemilik perusahaan senjata nomor satu dunia. Cantik dan cerdik. Posisinya sebagai ratu di sekolah swasta paling...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
________________________________
Entah sudah berapa lama kami berjalan, seberapa jauh kami melangkah, aku tidak peduli. Sekarang kami menyusuri pinggiran hutan pinus yang tidak terlalu lebat. Di sebelah kiriku, hamparan salju luas membentang hingga ke pegunungan yang jauh di cakrawala. Pemandangan yang sangat indah andai saja suasana hatiku tidak sedang buruk-buruknya.
Aku membutuhkan ini untuk menenangkan diri. Setidaknya rasa sakit yang kurasakan di tubuh dan kakiku akan sedikit membuatku lupa tentang apa yang tadi terjadi.
Aku benci saat seseorang membawa-bawa keluargaku, menilai mereka di hadapanku. Aku tahu keluargaku bukan keluarga yang sempurna. Mereka punya kelebihan dan kekurangan masing-masing, tetapi tidak ada yang pantas menghakimi mereka. Terlebih Coach Aiden. Dia bukan siapa-siapa. Bahkan aku berani bertaruh keluargaku tidak tahu dia ada di dunia ini.
"Sky, cuaca tidak kunjung membaik." Kata Navhaniel yang masih setia berjalan di belakangku. "Kita bisa membeku."
"Kalau begitu kembalilah ke kastil, Navhaniel."
"Sky!"
Aku berbalik, menghadapnya yang juga berhenti lima langkah dariku. "Apa?! Kalau kau mau kembali, kembali saja! Aku tidak pernah memintamu mengikutiku."
"Lalu meninggalkanmu sendirian di sini? Di tengah hujan salju? Apa kau gila?!" Navhaniel balas meninggikan suara. "Lagipula kenapa kau harus membahayakan dirimu sendiri? Kau bisa menyendiri di tempat yang lebih aman, di dalam kastil!"
"Aku bukan Rapunzel!"
"Memang bukan! Tetapi kau gadis yang kucintai, Skyla!" Napas Navhaniel memburu, sama sepertiku. Kepulan uap menari-nari di setiap hembusan. "Kau tidak boleh terluka."
Selama beberapa saat, kami hanya diam. Menatap satu sama lain. Tumpukan emosi yang sedari tadi bersarang di benakku perlahan sirna. Angin kencang yang menggangguku selama perjalanan kuabaikan sepenuhnya.
Navhaniel, dengan langkahnya yang setenang kucing, maju mendekatiku hingga jarak kami hanya tersisa dua jengkal. Tangannya yang terbalut sarung tangan kulit hitam terangkat menangkup kedua pipiku—hangat. "Baiklah, kalau kau tidak mau kembali ke kastil, kita pergi ke rumah peristirahatan Grayson saja. Jaraknya tidak terlalu jauh dari sini."
"Bagaimana kau tahu?" Tanyaku bingung.
"Aku beberapa kali menemani Grandpa berburu." Navhaniel tersenyum samar. "Tidak saat cuaca ekstrim tentu saja."