Princess - Chapter 4.1

795 43 1
                                        

________________________________
____________________

C4.1 : Waking up to Spencers

____________________
________________________________

Playlist : Daylight - Maroon 5

________________________________

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

________________________________

Dering alarm menarikku keluar dari alam mimpi dengan paksa.

Sebuah erangan tercetus begitu saja saat aku semakin menguburkan tubuhku ke dalam selimut sementara satu tanganku meraih ponsel yang berada di atas nakas di sisi tempat tidur. Mataku masih setengah terbuka saat kumatikan alarm pada ponselku dan kulihat jam yang menunjukkan pukul lima pagi.

Seketika pikiranku mulai bekerja.

Hari ini, aku harus pergi ke sekolah. Waktuku hanya dua jam untuk bersiap mengingat aku sudah membuat Grace berjanji agar menjemputku tepat waktu dan tidak boleh sungkan meninggalkanku jika aku terlambat satu menit saja.

Tanpa menyia-nyiakan detik yang berharga, aku segera beranjak dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi. Tidak perlu berlama-lama, satu setengah jam kemudian aku sudah duduk di meja rias memoleskan lipbalm ke bibirku setelah menyisir rambutku.

Suara ketukan di pintu menandakan pelayan gedung ini sudah tiba untuk membawakan barang-barangku ke lobi.

Aku beranjak, berhenti sebentar di depan kaca besar dekat pintu utama untuk melihat penampilanku dalam balutan jeans biru terang, biker jacket merah tua, dan sneakers putihku, sebelum kemudian aku membuka pintu dan mendapati dua pelayan laki-laki tersenyum padaku.

"Selamat pagi, Nona Clarke." Sapa yang memegang kereta untuk mengangkut barang.

Aku tersenyum singkat pada keduanya. "Barang-barangku ada di dekat sofa."

Para pelayan itu menangguk bersamaan dengan aku yang menyingkir dari pintu untuk mempersilahkan mereka masuk.

Alih-alih mengawasi mereka, aku berjalan menuju balkon dan berdiri diam disana. Hari masih gelap sehingga lampu-lampu gedung masih menyala. Jarang sekali aku bangun sepagi ini. Menikmati segarnya udara di pagi hari.

Ibu dan ayahku pasti sudah berolahraga di sekitar mansion pada jam-jam seperti ini. Menurut mereka, sebelum matahari terbit adalah saatnya untuk bernapas sebelum dunia menyita semua perhatian. Mereka ada benarnya.

Di beberapa kesunyian setiap harinya, aku bertanya-tanya apakah keadaan akan berbeda jika nenekku tidak memaksakan keinginannya agar setiap keturunan Clarke disebar ke berbagai tempat sejak menginjakkan kaki di High School. Apakah saat ini seharusnya aku sedang sarapan bersama keluargaku, menikmati kue coklat buatan ibuku?

THIS FEELINGSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang