❝FOR THOSE WHO LOOK UP TO THE SKY.❞
____________________________________________
SKYLA ALEA CLARKE, cucu perempuan pertama dari keluarga pemilik perusahaan senjata nomor satu dunia. Cantik dan cerdik. Posisinya sebagai ratu di sekolah swasta paling...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
________________________________
Sebelum Navhaniel, memikirkan apa yang ingin kupikiran, mengubur apa yang kurasakan, dan memilih reaksi apa yang kutunjukkan terasa sangat mudah. Seakan hanya seperti membalikkan telapak tangan.
Tapi sekarang, dengan kurangnya kendali yang kumiliki, aku merasa akan sangat mudah bagi siapapun untuk masuk. Membuat kekacauan.
"Kau sungguh ingin tersesat di tengah-tengah gurun?" Tanya Navhaniel yang sedari tadi mengikuti di belakangku.
Aku menghentikan langkahku, berbalik untuk menatapnya. Navhaniel terlihat sempurna dalam balutan celana panjang hitam dan jaket biru gelap yang serasi dengan matanya. Persis seperti bayanganku tentang laki-laki berhati dingin di cerita-cerita novel yang suka kubaca.
Tetapi Navhaniel tidak seperti itu. Alih-alih berhati sedingin es, Navhaniel selalu hangat. Entah mengapa dia sangat baik padaku. Dia tidak pernah sekalipun mengeluarkan kalimat-kalimat menyakitkan seperti yang biasa Rhysand lakukan. Dia tidak pernah sekalipun datang padaku hanya saat membutuhkan seperti Franz. Dia bahkan tidak pernah menghakimiku seperti kebanyakan orang yang kukenal selama ini.
"Skyla," Lagi, Navhaniel memanggilku. Sekarang dia sudah berdiri di hadapanku. Satu tangannya mengelus pipiku. "Kita sudah berjalan terlalu jauh."
"Kalau begitu berhenti mengikutiku."
Aku berbalik begitu saja. Kembali berjalan. Terus berjalan. Entah sudah berapa jauh sejak perhentian singkat tadi, aku kembali berhenti. Kali ini aku berhenti karena Bima Sakti yang terlukis menakjubkan di gelapnya langit malam menarik perhatianku. Membuatku terpaku. Cantik sekali.
Angin kencang menerbangkan rambutku yang kubiarkan terurai. Suara-suara hewan malam terdengar merdu di telingaku. Sebuah ketenangan. Lalu aku merasakan seseorang memelukku dari belakang. Menopangkan dagunya di bahuku.
"Aku tidak akan pernah berhenti mengikutimu, aku tidak akan meninggalkanmu." Kata Navhaniel sebelum dia mengambil posisi di hadapanku. Satu tangannya melingkari pinggangku sementara tangannya yang lain memainkan rambutku. "Kenapa aku harus melepaskan gadis paling keras kepala yang pernah kutemui?"
"Aku tidak keras kepala!"
"Kalau begitu," Jemari yang tadi bermain-main dengan rambutku kini menyentuh pipiku lembut. "biarkan aku mencintaimu."