Heiress - Chapter 21.1

348 19 1
                                        

________________________________
____________________

C21.1 : Not really a hangovers

____________________
________________________________

Playlist : Troye Sivan - Angel Baby

Playlist : Troye Sivan - Angel Baby

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

________________________________

Suara ledakkan yang memekakkan telinga kembali terdengar. Aku gemetar. Air mata dan keringat sudah membasahi wajahku entah sejak kapan. Tak hanya itu saja, rasa asin di sudut bibirku membuatku semakin ketakutan. Aku terluka. Cairan merah itu tidak kunjung hilang meskipun aku sudah menyekanya berkali-kali.

Aku mencari-cari wajah yang kukenal. Tetapi tidak ada. Yang kudapati hanya pria-pria dengan pakaian kulit serba hitam dan topeng yang menutupi wajah mereka. Aku tidak tahu mereka siapa. Aku juga tidak tahu kenapa tiba-tiba mereka ada di sini.

Tubuhku semakin bergetar. Suara teriakan demi teriakan menggema dari berbagai penjuru. Ketakutan menyelimutiku layaknya kulit kedua. Aku tidak berani berteriak. Aku bahkan menggigit keras lidahku agar suara isak tangisku tidak terdengar sama sekali. Aku tidak mau mereka menemukanku.

Tiba-tiba sebuah tangan anak laki-laki terjulur di hadapanku. Aku masih tidak bergerak. Terlalu lelah. Terlalu takut. Semuanya tampak kabur. Kepalaku sakit. Lalu perlahan aku mengangkat kepalaku yang sedari tadi tertunduk.

"Sky!" Kurasakan seseorang menepuk pelan pipiku, menggenggam jemariku. "Skyla! Bangunlah!"

Mataku terbuka diikuti dengan tarikan napas panjang. Jantungku berdetak cepat. Memburu. Keringat dingin memenuhi pelipisku. Air mataku juga sudah mengalir deras. Kedua tanganku terkepal erat. Sangat erat.

"Hanya mimpi. Hanya mimpi." Suara menenangkan itu terdengar lagi.

Aku mengerjap. Peralahan menyadari bahwa saat ini aku berada di kamarku di Spencers. Hembusan napas panjang keluar begitu saja sebelum kemudian aku menutup wajahku dengan kedua telapak tangan. Mimpi itu kembali lagi setelah beberapa bulan.

Tanganku ditarik pelan, membuatku menatap siapapun pemilik suara yang meraihku keluar dari mimpu buruk. Kekhawatiran yang sangat kentara tercetak jelas di wajah Navhaniel. Memancar dari mata biru gelapnya. Aku masih diam saat dia membantuku duduk. "Tidak apa-apa. Itu hanya mimpi." Katanya sembari menyeka air mataku sebelum kemudian membawaku ke dalam pelukannya. "Aku di sini."

Navhaniel mengusap-usap pelan punggungku sembari membisikkan kalimat-kalimat menenangkan yang tidak sepenuhnya kudengar. Menyalurkan rasa aman yang menghangatkan benakku. Perlahan tapi pasti napasku kembali teratur. Detak jantungku kembali normal. Begitu juga dengan pikiranku.

"Apa yang kau lakukan pagi-pagi sekali di sini?" Tanyaku setelah menarik diri. Navhaniel tidak langsung menjawab. Membuatku menatapnya curiga. "Jangan katakan kau—"

THIS FEELINGSTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang