❝FOR THOSE WHO LOOK UP TO THE SKY.❞
____________________________________________
SKYLA ALEA CLARKE, cucu perempuan pertama dari keluarga pemilik perusahaan senjata nomor satu dunia. Cantik dan cerdik. Posisinya sebagai ratu di sekolah swasta paling...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
________________________________
Matahari belum sepenuhnya terbit saat aku bergegas keluar dari kamar dan mendapati Reyna menatapku jengkel dengan kedua tangan terlipat di dada di depan pintu. Dia pasti kesal karena menurutnya aku terlalu lama bersiap-siap. Padahal ketukan pertamanya di pintuku baru terjadi sepuluh menit yang lalu.
"Terkadang aku berpikir, apa mungkin kau memang ditakdirkan untuk menjadi calon pengantin seorang pangeran mahkota? Sikapmu yang lamban itu benar-benar mencerminkan seorang ratu dengan lusinan pelayan." Reyna mengomel sembari memperhatikan barang-barangku. "Apa kau yakin tidak ada yang tertinggal?"
"Tidak." Jawabku sembari tersenyum manis. "Kau kan sudah membuatkanku daftar barang apa saja yang harus dibawa. Jadi aku yakin kalau aku sudah memenuhi daftar itu, maka hidupku akan aman."
"Kau..." Reyna memicing. "Terlihat jauh lebih baik."
Mendengar ucapan Reyna, aku mengernyit bingung. "Lebih baik? Maksudmu?"
"Setelah masalahmu dengan Rhys dua tahun lalu dan kekacauan yang disebabkan grup laki-laki cupu itu, aku tidak pernah melihatmu sebahagia ini." Katanya. "Mungkin hanya berdasarkan pengamatanku, tetapi kurasa kami semua harus berterima kasih pada Nave."
"Kenapa Navhaniel? Apa hubungannya?"
"Duh, kemunculannya secara tidak langsung memberikan banyak perubahan. Terutama pada emosimu. Hanya Tuhan yang tahu apa yang akan kau lakukan jika saja Nave tidak datang dan mengalihkan pikiranmu."
Apa yang baru saja dikatakan Reyna membuatku memikirkan ulang segalanya. Aku tidak dapat menyangkal bahwa Navhaniel memang mengalihkan perhatianku. Bahkan di saat-saat seperti demo ekskul yang seharusnya aku menghancurkan Rickardo, namun entah mengapa karena Navhaniel ada di sana, aku dapat menahan gejolak emosi dalam darahku.
Tetapi hanya sebatas itu saja. Aku tidak melihat ada perubahan apapun yang signifikan karena kehadirannya. Kecuali pada rencana akhirku untuk membalas Rickardo.
"Mungkin hanya perasaanmu saja." Kataku pada akhirnya.
"Okay." Reyna mengangguk samar. Menangkap maksudku untuk tidak lebih jauh membahas Navhaniel. "Kalau begitu ayo! Sahabat-sahabat kita yang lain pasti sudah mulai berkumpul."
Sebelum kami pergi ke patio taman utama yang merupakan tempat yang kami sepakati untuk berkumpul, aku dan Reyna menuju lobi Achroite untuk menyerahkan barang-barang kami pada petugas dan panitia. Mereka yang akan mengurus semuanya.