Seperti biasanya Feroll dan Nadia berangkat kerja bersama-sama.
Namun dari kejauhan ada sepasang mata tengah mengamati keduanya.
Dengan tatapan penuh siasat Renata menyusun rencana agar bisa menjebak Feroll.
Setelah kesuksesan Feroll pada beberapa mega proyek beberapa bulan yang lalu kini jabatannya menjadi Direktur Personalia.
Nadia sangat senang dengan pencapaian suaminya.
Nadia lebih asik menekuni pekerjaannya sebagai seorang dosen muda.
Ketika makan siang Nadia dan Feroll layaknya pasangan yang tengah melakukan kencan.
Disela-sela itu keduanya saling mengobrol tentang pekerjaan masing-masing.
" Sayang.. Aku boleh nggak kuliah lagi ? "
" Kamu mau lanjutinnya disini atau diluar negeri ? "
" Di luar negeri sayang. Aku mau melanjutkan di Universitas Cambridge. Dan aku saat ini tengah mengikuti ujian masuk. "
" Sayang,itu sangat jauh. Kamu tega ninggalin aku sendirian ? "
" Kamu kan udah gede. Ini juga salah satu impian aku untuk bisa masuk disalah satu universitas tertua didunia. "
" Baiklah jika itu sudah menjadi kemauanmu. Tapi kamu udah ngomong ke mama dan papa belum ? "
" Kalau mama dan papa aku sudah. Dan kata mereka aku harus ijin dulu sama kamu dan mama papa mu. "
" Ya sudah. Malam nanti kita coba obrolin dengan mama dan papa aku ya. "
" Makasih ya sayang atas pengertiannya. "
" Trus kerjaan kamu disini gimana ? "
" Khusus kelas ku ya tatap mukanya lewat daring aja.Nanti aku menyesuaikan dengan waktu disini. "
Singkat cerita,malam pun tiba.
Saat makan malam ada beberapa obrolan kecil diantara mereka.
Nadia memberanikan diri untuk meminta ijin untuk melanjutkan kuliahnya ke inggris.
Kedua orang tua Feroll sangat terkejut akan keputusan Nadia.
Fera sebagai ibu dari Ferroll sangat tidak setuju dengan keinginan menantunya.
Namun Demian sebagai ayah Ferroll lebih memberikan wewenang keputusan kepada anaknya.
Karena bagi Demian Ferroll sebagai suami dari menantunya itu, lebih berhak memberikan keputusan dari pada siapapun.
" Jangan Nadia. Mama mohon ke kamu. Lebih baik kamu tetep lanjutin kuliahnya disini saja."
" Mama,Nadia paham maksud mama. Mama khawatir,sayang dan peduli sama Nadia. Tapi,ini impian Nadia sejak kecil ma. Dan saat ini Nadia tengah mengikuti ujian seleksi ke tiganya. Mungkin seminggu kemudian hasilnya akan di umumkan. "
" Apapun itu alasan kamu. Mama tetep nggak ngebolehin kamu. Mama nggak ingin saat LDR nanti akan ada hal-hal yang tidak terduga akan terjadi pada hubungan kalian berdua. "
" Semoga aja nggak ma. Kan Nadia akan selalu komunikasi sama Ferroll ma. "
" Bukan itu Nadia. Maksud mama. Mama takut jika kepergianmu nanti akan di manfaatkan oleh wanita lain untuk mengambil ke untungan dalam situasi LDR kalian. Dan LDR itu berat nak. "
" Positif thinking aja ma. Dan terus berdoa semoga itu tidak akan pernah terjadi. "
" Ma..mama kok jadi seperti ini. Kasihan loh Nadia ingin mewujudkan salah satu cita-citanya untuk bisa kuliah di salah satu universitas tertua di dunia. Mama nggak usah separno itu ke Nadia. "
" Ini felling seorang ibu Ferroll. Kamu masih meragukannya ? "
" Bukan seperti itu ma. Sebagai suaminya ya Aku hanya bisa mendukung ma. Lagi pula aku percaya kok Nadia nggak akan macem-macem disana. Dan soal feeling mama. Cobalah Mama untuk lebih berpikir positif. "
" Terserah kalian saja. Kalian mau percaya atau tidak dengan semua perkataan mama atau tidak. Jangan salahkan mama bila terjadi sesuatu pada rumah tangga kalian. Mama sudah ingatkan kalian. "
Fera pun berlalu pergi dari ruang makan dan meninggalkan suami,anaknya dan juga menantunya.
" Sudah,jangan terlalu di pikirkan omongan mama. Mungkin mama lagi sensitif.
Dan mama juga belum siap ditinggal jauh sama menantu kesayangannya. "
Ucap Demian mengusap kedua pundak Nadia.
Nadia hanya bisa mengangguk membalas ucapan papa mertuanya.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
Antara Kau Aku dan Dia
Romance"Mungkin ini yang terbaik untuk kita, seiring berjalannya waktu aku akan mencoba untuk mencintainya sambil melupakanmu... Jujur sampai detik ini aku masih mengharapkanmu Renata Anindita.." ucap Feroll dengan nada lirih sambil menatap foto wanita ya...
