56. LANGKAH AWAL PART 3

2.9K 247 15
                                        

Aldian meraih bahu Kafi. Pemuda itu mencoba meyakinkan temannya bahwa kutukan tiga tempat terlarang itu bisa dihilangkan dengan cara membaca mantra sederhana yang dilakukan oleh dua orang perjaka dan satu orang perawan.

"Kaf, udah banyak banget korban asrama berhantu. Apa lo nggak kasihan sama korban-korban selanjutnya? Hm?" tanya Aldian.

Kafi memejamkan mata rapat-rapat, merasa usulan Aldian benar-benar tak masuk pada logikanya. "Al, kan sejak awal gue udah bilang sama lo kalau asrama itu ada hantunya. Tapi lo selalu ngeyel. Sekarang lo tiba-tiba datang ke rumah gue malem-malem bawa orang linglung sambil minta gue baca mantra. Lo pikir, gue ini Mbah dukun?"

"Tapi ini satu-satunya cara, Kaf!"

"Mungkin ini satu-satunya cara, Al. Tapi kita juga harus memikirkan diri kita sendiri. Lo tahu prinsip gue, kan? Prinsip gue cuma hidup tenang tanpa gangguan. Itu doang. Dan sekarang? Sekarang lo tiba-tiba datang minta bantuan buat ngusir hantu."

"Kaf, udah banyak korban di asrama itu. Kalau bukan kita yang menetralisirnya, siapa lagi?" bujuk Aldian.

"Al, sudah terbukti banyak korban, dan lo masih mau lanjutin? Lo gila ya!" bentak Kafi. "Apa lo mau kita jadi korban selanjutnya?"

"Ini panggilan hati, Kaf. Gue nggak bisa biarin ada korban-korban selanjutnya setelah Redi sama Rafka. Please, Kaf! Hanya lo yang bisa gue percayai."

"Cari orang lain ajalah, Al! Jangan gue! Gue cuma mau hidup tenang," tolak Kafi.

"Tapi hanya lo yang gue punya, Kaf. Please!" Aldian mengiba, perlahan membuat hati Kafi melunak.

Hening. Entah mengapa suasana saat itu menghening sejenak, tidak ada suara di antara Aldian dan Kafi. Aldian membiarkan Kafi berpikir untuk beberapa saat. Wajar jika Kafi ragu membantu Aldian dalam upacara penetralan. Mengingat banyak korban yang sudah tercatat.

"O ... oke." Kafi akhirnya mengangguk. "Gue bakalan bantuin lo. Tapi kalau ada apa-apa, jangan heran kalau gue kabur duluan."

"Makasih banyak, Kaf." Aldian meraih tangan Kafi lalu mengayunkannya berulang kali. Sungguh senang bila ada titik cerah.

Keesokan harinya, Aldian bersama Kafi datang ke rumah Pak Darto untuk mendiskusikan langkah apa lagi yang harus mereka lakukan.

Tok tok tok

Pak Darto membuka pintu setelah mendengar bunyi ketukan. Ia mempersilahkan Aldian dan Kafi untuk masuk ke rumahnya yang sederhana.

"Pak, ini teman saya namanya Kafi. Dia siap menjadi perantara pembacaan mantra," jelas Aldian tanpa basa-basi.

Pak Darto mengangguk paham. "Oooh."

"Lalu, sekarang kita harus bagaimana, Pak?" tanya Aldian. Ia hanya ingin segera mengakhiri kutukan yang terjadi.

"Tentu saja kalian harus mencari seorang perawan untuk membantu kalian membaca mantra. Ada tiga tempat terlarang. Tentu saja kita membutuhkan tiga orang yang masih suci untuk menyucikannya."

"Tapi ... di mana kita bisa menemukan orang yang seperti itu, Pak?"

"Entahlah. Anak jaman sekarang sudah banyak yang tidak perawan. Kalaupun ada, mana mau mereka diajak melakukan ritual yang menakutkan."

"Ya sudah kalau gitu, kita nggak usah melakukan ritual itu aja. Kan kita nggak ada partner yang bantuin kita," saran Kafi. Tentu saja dalam hatinya, ia ketakutan bukan main.

"Nggak bisa gitu dong, Kaf!" bentak Aldian. "Nggak boleh ada lagi korban-korban selanjutnya! Titik!"

"Terus, gimana kita nyari cewek yang mau melakukan ritual aneh di tempat yang menakutkan?"

"Kita cari cara dulu. Untuk saat ini, gue nggak bisa berpikir jernih."

***

Kafi adalah salah seorang subscriber setia channel youtube milik Redi. Terkadang, ia iseng membaca komentar-komentar di kolom komentar karena menurutnya, membaca komentar seperti itu adalah hal yang asyik.

Zivana : Kok nggak update lagi sih?

Kuna : Kak, udah lama nggak update. Kangen nih sama konten Kakak.

Zoni : Bang, up dong, Bang.

Kafi berdecak kesal setelah membaca komentar-komentar itu. Kalau mereka tahu bahwa sekarang Redi sedang linglung karena memasuki tempat-tempat terlarang, mungkin saja mereka akan merasa bersalah.

"Heleh kok bisa-bisanya subscriber Redi minta update video sih. Kalau aja mereka tahu keadaan Redi sekarang, gue jamin mereka bakalan kasihan," kata Kafi sambil terus membaca komentar-komentar di kolom video.

Yuan : Nungguin update nih. Tapi nggak update-update

PP Hitam : Ah nggak seru. Auto unsubscribe nih

Kang Bolang : Waaah ngilang tanpa kabar aja nih orang

PP Putih : Fix auto unsubscribe nih

"Kenapa sih orang-orang pada nungguin videonya Redi?" Lagi, Kafi kembali berdecak kesal.

"Gue yakin lo juga menikmati kontennya si Redi, kan?" tebak Aldian seraya menaik turunkan kedua alisnya. Ia kemudian menyeruput secangkir teh hangat.

"I ... iya sih." Kafi mengaku. "Tapi gue akui kontennya Redi emang nyeremin banget sih. Dia berani banget masuk ke tempat-tempat angker."

"Ya semoga saja kalau Redi waras, dia nggak kembali jadi youtuber tempat angker lagi. Kalau sampai dia waras terus linglung lagi, gue ogah nolongin dia."

Naira : Update lagi dong!

Iyani : Kangen ... udah lama nggak update. Kakak sakit ya??

Ronaldo : Bang, yuk up yuk, Bang.

Setelah membaca sekian banyak komentar, tiba-tiba terbesit di pikiran Kafi untuk memanfaatkan salah satu subscriber Redi. Siapa tahu di antara sekian banyak subscriber perempuan, pasti ada yang mau membantu mereka menetralisir tiga tempat terlarang.

"Eh Aldian! Gue ada ide bagus nih!" ujar Kafi sambil memperlihatkan layar ponselnya pada Aldian.

"Ide apa?" Salah satu alis Aldian terangkat.

"Gimana kalau kita minta salah satu subscriber Redi buat bantuin kita. Kan mereka penggemar horor, pasti di antara mereka ada yang nggak takut sama hal-hal yang berbau mistis seperti ritual. Lihat deh komentar yang ini." Kafi menunjuk beberapa komentar.

Reisha Sirani : Bang, ajak aku menjadi partner jelajah tempat angker dong

Liana Hiana : Aku pengen mampir ke asrama berhantuuuuuu

Mata Aldian terbelalak lebar ketika melihat ada sejumlah komentar yang mengatakan bahwa mereka ingin menjelajah tempat-tempat berhantu. Kafi benar! Sepertinya, Aldian bisa memanfaatkan para fans Redi untuk membantunya memulihkan kondisi Redi yang kini tak kunjung sembuh.

"Ide bagus, Kaf!" Aldian tersenyum sambil menepuk bahu Kafi dua kali. "Kita bisa menghubungi beberapa di antara mereka buat minta bantuan."

"Tapi ... kalau minta bantuan, apa kita nggak butuh duit? Lo tahu sendiri, kan? Cewek sukanya sama duit. Apalagi kita meminta bantuan yang bisa dibilang nggak wajar," celetuk Kafi yang berhasil membuat Aldian tercenung sejenak.

"Lo benar, Kaf! Siapa juga yang mau bantuin kita tanpa imbalan sepeser pun. Apalagi kita minta bantuan yang nggak wajar."

"Maka dari itu. Gue juga bingung. Duitnya dari mana?" tanya Kafi. "Kalau lo tanya gue, udah jelas gue kagak punya duit. Buat jajan es boba aja, gue nggak mampu."

"Tapi ... duit Redi kan banyak. Kita gunain aja sedikit. Gue pernah lihat dia menyimpan banyak duit di dalam lemarinya. Lagian, duit itu juga untuk menyelamatkan jiwanya kan?"

"Nyolong, dong!"

"Ya mau gimana lagi?"

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang