70. MEMULAI RITUAL

158 11 10
                                        

Aldian, Kafi, dan Maya segera bergegas menemui Pak Darto di kediamannya. Mereka ingin cepat-cepat melakukan ritual hari itu juga untuk meminimalisir korban.

Tok tok tok

Tok tok tok

Berulang kali Aldian mengetuk pintu. Tapi tidak ada yang menyahut. Ia dan Kafi saling menatap dengan isyarat mata keheranan, bisa menebak mungkin saja terjadi sesuatu yang bukan-bukan pada Pak Darto.

"Pak? Pak Darto? Ini saya Aldian," teriak Aldian, berharap ada orang yang menyahut.

Cukup lama menunggu, seorang pria paruh baya dengan badan penuh bentol-bentol menjijikkan membuka pintu. Tentu membuat Aldian, Kafi, juga Maya terlonjak kaget bukan main. Sempat juga ketakutan sampai mundur beberapa langkah.

"Anda siapa?" tanya Aldian.

"Kamu nggak kenal saya, Nak?" pria paruh baya itu malah bertanya balik. Suaranya terdengar begitu lemah, nyaris tak ada.

"Pak Darto?" Aldian terperanjat kaget melihat penampilan Pak Darto yang sangat jauh berbeda dengan sebelumnya.

"Ke ... kenapa Pak Darto jadi seperti ini?" tanya Kafi menelan ludah, masih takut dengan begitu banyak bentol-bentol berukuran cukup besar, pun dalam jumlah banyak menempel nyaris di sekujur tubuh Pak Darto.

"Sepertinya ... kegagalan ritual kemarin menyebabkan kutukan ke saya selaku juru kunci. Jika Redi dikutuk kehilangan kewarasan, maka saya kali ini dikutuk dengan penyakit menjijikkan," ungkap Pak Darto, lalu terbatuk-batuk.

"Pak Darto, sekarang saya sudah membawa teman yang mau diajak untuk melakukan ritual. Kalau ritualnya berhasil, pasti kutukan Pak Darto dan Redi bakalan hilang, kan?" tanya Aldian cemas, teramat tak tega melihat kondisi Pak Darto saat ini.

"Iya, Nak. Apa memungkinkan ritual itu kita lakukan secepatnya? Sepertinya, kutukan ini tidak hanya mengincar kesehatan Bapak, Nak. Tapi juga ingin mengincar nyawa Bapak juga," ungkap Pak Darto, lalu kembali terbatuk.

"Gimana?" tanya Aldian pada Maya, menatap gadis itu dengan tatapan serius. "Apa lo mau ngelakuin ritual penyucian malam ini juga?"

Maya mengangguk singkat. Ia setuju untuk melakukan ritual secepat mungkin sebelum semakin banyak korban. Aldian, Kafi, Maya, dan Pak Darto segera mempersiapkan semuanya.

Tak terasa malam pun tiba. Pak Darto, Aldian, dan Kafi sudah membawa barang-barang yang dibutuhkan untuk ritual tengah malam. Sama seperti ritual sebelumnya, ada HP untuk berkomunikasi, lampu senter, dan jas hujan untuk berjaga-jaga barangkali nanti akan turun hujan.

"Sekarang, apa yang harus kita lakukan?" tanya Maya.

"Kita harus berpencar ke tiga tempat terlarang," jelas Aldian.

"Oke." Maya mengangguk. "Tiga tempat itu memang harus disucikan agar arwah mereka bisa tenang."

"Kalian bertiga harus berpencar. Kafi di ruang bawah tanah, Aldian di hutan terlarang, sementara Maya di kamar Stevi," jelas Pak Darto.

Maya meneguk ludah, mendadak gugup karena sebentar lagi akan melakukan ritual untuk menenangkan arwah-arwah yang tidak tenang.

Aldian melirik ke arah Maya. Dilihatnya tangan gadis itu tampak gemetar.

"Lo takut?" tanya Aldian.

Maya mengangguk. "Iya. Karena ini pertama kalinya aku ngelakuin hal ini."

Aldian mengangguk paham. Jangankan seorang gadis muda seperti Maya. Dirinya sendiri saja masih sangat takut untuk kembali ke tempat terlarang itu.

"Seperti ritual yang sebelumnya, tentu saja saya akan bersama Aldian menuju hutan terlarang. Karena hanya orang-orang tertentu yang bisa keluar dari hutan terlarang itu. Setelah mengantar Aldian, saya akan pergi dari tempat pembacaan mantra," jelas Pak Darto yang sukses membuat Kafi kembalu merinding bukan main seperti layaknya ritual yang pernah ia lakukan.

"Itu artinya aku harus menunggu sendirian di kamar nono Belanda itu?" tanya Maya. Intonasi suaranya mungkin terdengar tenang. Tapi terlihat jelas bibir dan tangannya gemetar takut.

"Iya." Pak Darto mengangguk.

"Aduuuh kok tiba-tiba aku takut ya " Kafi mengacak rambutnya yang tak terasa gatal. Mengingat kembali ritual yang pernah ia lakukan beberapa waktu lalu.

"Udah. Nggak usah takut," kata Aldian. "Tenang. Sudah ada Pak Darto. Asalkan kita menuruti apa yang beliau katakan, kita pasti akan baik-baik saja."

"Mana bisa tenang!" bentak Kafi. "Hantu di sini galak-galak. Marah dikit, dibikin nggak waras. Marah dikit, dibikin bentol-bentol sekujur tubuh kayak Pak Darto. Marah dikit, nyabut nyawa."

"Ini demi meminimalisir adanya korban lain."

"Iya. Gue tahu." Kafi mengangguk paham. "Kalau kita nggak segera melakukan ritual penyucian. Pasti arwah-arwah itu akan mengambil nyawa-nyawa lain."

Setelah melakukan gladi bersih cukup lama, akhirnya semua siap melakukan ritual penyucian. Mula-mula Pak Darto mengantarkan Maya ke kamar Stephani Eleonora.

Tok tok

Pak Darto mengetuk pintu, walaupun pada kenyataannya tidak ada siapa pun di dalam sana. Pak Darto sangat tahu kalau Stevi sangat tidak suka jika ada orang lain masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintu.

"Aku ngerasain hawa yang sangat dahsyat di kamar ini. Semoga hawa jahat di kamar ini segera bisa dinetralisir," batin Maya.

Pak Darto mulai memilih kunci untuk membuka pintu. Namun, sebelum ia masuk, ia teringat harus memberikan beberapa nasehat sebelum ritual dilaksanakan. Meskipun Pak Darto tahu kalau Maya tidak akan melakukan hal-hal bodoh.

"Kenapa nggak masuk, Pak?" tanya Kafi heran. Ia ingin segera diantar ke ruang bawah tanah.

"Pertama-tama, seperti sebelumnya, saya mau mengimbau Mbak Maya agar tidak menyentuh apa pun yang ada di dalam kamar," imbau Pak Darto. "Siluman ular yang menguasai tubuh Stephani sangat mencintai semua barang-barang yang ada di dalam kamar. Dia tidak suka jika ada orang lain yang menyentuh barang-barangnya. Mengerti?"

"Mengerti." Maya mengangguk paham.

Pak Darto segera membuka pintu, lalu mempersilakan Maya untuk segera masuk. Maya pun diarahkan untuk duduk bersila di atas sebuah kain putih berbentuk lingkaran. Tanpa bertanya, Maya langsung melakukan apa yang Pak Darto minta.

Setelah mengantar Maya, kini Pak Darto mengantar Kafi ke tempat selanjutnya. Mereka menuruni tangga, lalu menuju gudang penyimpanan. Lagi, Pak Darto memilih kunci, lalu membuka pintu.

"Sama seperti yang saya katakan tadi, jangan menyentuh barang apa pun, dan jangan bicara hal-hal yang tidak diperlukan," imbau Pak Darto.

"Siap." Kafi mengangguk patuh.

Ya! Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan kecuali patuh pada apa yang diperintahkan Pak Darto, mengingat kewarasannya dipertaruhkan. Tentu saja Kafi tidak mau berakhir seperti Redi.

"Semoga ritual kali ini berhasil. Dan semua aman terkendali. Nggak ada korban lagi," kata Kafi.

"Iya. Gue juga berharap begitu," timpal Aldian.

😀😀😀😀😀
Rabu, 22 Oktober 2025
Hehehe

I am back

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang