Suara langkah kaki itu terdengar sangat nyata. Redi mulai meneguk ludah. Kalau dipikir lagi, mana mungkin ada orang lain selain dirinya di dalam ruang segelap itu?
"Guys. Gue mulai takut nih guys," kata Redi. "Kalian dengar suara langkah kaki itu kan, guys. Kayak ada orang di dekat gue. Beneran nih guys!"
Redi melangkah ke depan, mencoba mencari sumber suara yang ia dengar. Lampu senter yang tadinya mati, tiba-tiba bisa menyala walau berkedip-kedip. Redi langsung menyorot ruangan sekitar. Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
"Halo, apa ada seseorang di sini?" tanya Redi yang terus berusaha merekam.
Hawa dingin seperti napas seseorang bisa Redi rasakan. Mata Redi menjadi waspada. Tapi ia berusaha untuk tidak takut. Baginya, hantu hanyalah sekadar makhluk fiksi yang dikarang manusia. Kalaupun ada, hantu tidak akan pernah bisa menyentuh manusia karena perbedaan alam.
Napas seseorang kembali bisa Redi rasakan dari belakang tengkuknya. Ia berbalik, namun lagi-lagi ia tidak menjumpai siapa pun.
"Aduuuh gue mikir apa sih? Mana mungkin ada hantu di sini," batin Redi, mencoba menampik rasa takut yang sudah memenuhi pikirannya. "Tapi gue harus keluar dari ruangan ini. Firasat gue nggak enak."
"Tolong! Bukain pintu dong! Tolong!" Redi menggedor pintu berulang kali.
"Siapa pun di luar sana, tolong bukain pintu dong!" teriak Redi.
Cukup lama Redi menggedor pintu, namun tak ada satu pun orang yang datang menolongnya. Sebenarnya bisa saja ia menelpon Aldian. Tapi mengingat perseteruan sebelumnya, tentu ia merasa gengsi.
"Aduuuh gue minta tolong siapa nih? Kalau gue minta tolong Aldian, gue pasti malu banget. Tadi gue sempat hina dia. Nggak mungkin dia mau nolongin gue. Kalau gue telpon Pak Darto, bisa-bisa gue dimarahi habis-habisan," pikir Redi kebingungan. "Tapi kalau gue nggak minta tolong, bisa-bisa gue terjebak di ruang ini selamanya. Apalagi cuma Aldian dan Pak Darto yang tahu ruang rahasia ini."
"Ah bodo amat! Gue telpon Aldian aja." Redi mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya. Lalu mencoba menghubungi Aldian. Namun sayangnya, sinyal di ruang itu sangat minim. Sempat beberapa detik tersambung, tapi Aldian tidak mengangkat panggilan karena sudah tertidur pulas.
"Aduuuh kenapa nggak ada sinyal sih!" Redi mengarahkan ponselnya ke langit-langit ruangan, berharap ada sinyal yang berhasil tertangkap.
Derap langkah seseorang terdengar kembali, tepat di belakang Redi. Kini Redi tahu bahwa ia tidak sendirian. Kepercayaannya selama ini salah besar. Ternyata hantu itu ada. Perlahan, ia berbalik.
"Aaarrrggghhh!" teriak Redi.
Sesosok pria transparan tanpa mata mencekik leher Redi, membuat Redi kesulitan bernapas. Pria itu mengangkat Redi tinggi-tinggi hingga kaki Redi mengayuh-ngayuh ingin menyentuh lantai.
"Ini wilayah kami...." kata pria itu.
Redi bergidik. Dia ingin menjerit ketakutan melihat betapa menyeramkannya sosok itu. Pria itu tak memiliki mata, sejumlah darah segar terus keluar dari dalam kelopaknya. Jelas, dia bukan manusia.
Braaak
Sosok tanpa mata itu membanting tubuh Redi ke atas lantai. Redi dengan cepat merangkak mundur sambil menangis ketakutan. Sosok itu juga merangkak, perlahan mendekati Redi, meraih pergelangan kaki Redi, dan mencengkramnya kuat-kuat.
"Tidak." Redi menggeleng. "Tidaaak! Lepaskan saya!"
Redi berusaha menggapai pinggiran rak untuk bertahan. Namun cengkraman makhluk itu begitu kuat. Membuat Redi tak berdaya. Sosok itu menyeret kaki Redi. Seketika sebuah pintu ruang bawah tanah terbuka.
Redi mencakar-cakar lantai kayu untuk bertahan. Namun sia-sia saja! Sosok itu berhasil menyeret Redi memasuki ruang bawah tanah. Sosok itu disambut bahagia oleh puluhan makhluk astral yang lain. Seolah mereka berhasil menemukan mangsa baru yang sudah lama tak mereka jumpai.
"Tidaaak!" Redi berusaha menggayuh apa pun yang bisa diraih. Seketika pintu ruang bawah tanah itu tertutup, hingga hanya terdengar suara Redi yang berteriak kesakitan di dalam sana.
Sementara itu di dalam kamar, Aldian mengucek mata. Mendapati Redi sudah tidak ada di sekitarnya. Sudah bisa ia tebak, kalau Redi pasti berada di ruang rahasia untuk membuat vlog youtube. Dilihatnya ada sebuah panggilan tak terjawab dari Redi.
"Kenapa bocah itu nelpon gue? Apa dia mau minta bantuan? Dasar! Apa dia nggak ingat pertengkaran yang tadi? Gue dihina miskin." Aldian berdecak.
"Ish! Pasti si bocah gila itu ke gudang lagu buat bikin vlog youtube! Tuh orang benar-benar kebangetan ya!" omel Aldian kesal.
Aldian melihat jam dinding yang menggantung di tembok. "Gila ya tuh anak! Dibilangin nggak boleh main ke gudang, masiiih aja ngeyel. Mana udah jam satu malem pula."
"Ada apa?" Rafka ikut terbangun. Kedua bola matanya masih terasa lengket.
"Itu tuh." Aldian menunjuk sebuah ranjang kosong. "Si Redi ngilang. Pasti dia main ke gudang buat bikin vlog."
"Ha?" Rafka terlonjak. "Kenapa nggak elo cegah?"
"Mana bisa nyegah. Lah dia pergi nggak bil-"
Sebelum Aldian merampungkan kalimatnya, Rafka bergegas keluar dari kamar, menuruni anak tangga, dan berlari menuju gudang penyimpanan. Dahi Aldian berkernyit. Dia dengan santai mengikuti Rafka dari belakang.
"Redi? Redi?" panggil Rafka. Dia bingung saat tak menjumpai Redi di dalam gudang.
"Paling-paling, dia ada di ruang rahasia," tebak Aldian.
"Ruang rahasia?"
"Iya. Ruang rahasia. Di gudang ini ada ruang raha-" tangan Aldian tercekat ketika hendak membuka rak buku.
"Ada apa?" tanya Rafka bingung.
"Kemarin rak buku ini bisa dibuka. Di dalamnya ada ruang rahasia."
"Sini gue bantu." Rafka mencoba mendorong rak buku itu. Tapi sayang, rak buku itu terlalu sulit dibuka.
"Nggak bisa. Gimana ini?" tanya Aldian mulai panik. Dia yakin, Redi ada di dalam.
"Apa lo yakin, kalau Redi ada di dalam?"
"Gue yakin banget. Soalnya dia kemarin kayak ngotot pengin bikin vlog lagi di youtube."
"Shit! Bikin konten youtube?" tanya Rafka tak percaya.
"I ... iya."
"Ya jelas penghuni asrama ini marah."
"Penghuni asrama?" Aldian masih tak mengerti.
"Iya. Penghuni asrama. Selain manusia, di asrama ini juga ada penghuni lain yang tak kasat mata."
"Ma ... maksud lo...." Aldian enggan menebak.
"Iya." Rafka mengangguk. "Maksud gue ... hantu. Bukan hanya Noni Belanda aja yang tinggal di asrama ini. Tapi masih banyak hantu yang lainnya."
"Lalu sekarang kita harus bagaimana?"
"Pertama-tama, kita harus nyari Pak Darto. Dia adalah juru kunci di asrama ini. Mungkin dia bisa bantu kita nyari Redi."
"Kenapa harus panggil Pak Darto? Bukankah akan lebih cepat jika kita dobrak pintunya?"
"Kita nggak bisa lakukan itu. Penghuni asrama ini bakalan tambah marah. Satu-satunya harapan hanyalah Pak Darto."
"Oke. Kalau gitu, ayo cepat kita cari Pak Darto."
👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Minggu, 24 November 2019
Jujur ya, saking seremnya nulis khayalan ini di wattpad, aku sampek kebawa mimpi lho. Gila gila. Gila parah!
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HorreurAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
