Aldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka".
Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
Pak Darto berjalan beriringan dengan Aldian menuju asrama. Sepanjang perjalan, dia bercerita sedikit tentang asrama.
"Asrama ini adalah asrama yang cukup bersejarah. Sempat beberapa kali beralih fungsi. Awalnya, asrama ini adalah tempat tinggal pejabat Belanda. Setelah Belanda kalah dari Jepang, asrama ini dijadikan rumah sakit. Kemudian, berubah fungsi menjadi asrama Mahasiswa ketika masa presiden pertama sampai sekarang," jelas Pak Darto yang dibalas anggukan singkat oleh Aldian.
Sesampainya di meja kerjanya, dia mengambil buku catatan daftar penghuni asrama. Dilihatnya nama Aldian ada di baris terakhir dan sudah mendapat tempat di kamar 201. Kemarin Pak Darto tidak berjaga di asrama. Sudah jelas Bu Lusi yang mencatat nama Aldian dalam buku tersebut.
"Mari, saya antar ke lantai 2!" ajak Pak Darto.
Aldian hanya menurut, mengikuti Pak Darto dari belakang. Dia masih setia mendengarkan celoteh pria paruh baya itu.
"Asrama ini memang agak sepi. Nanti, kalau ada tahun ajaran baru, asrama ini akan ramai kembali. Kamu tenang saja," kata Pak Darto yang kini mulai menaiki tangga.
Aldian meraba railing tangga yang terbuat dari kayu tua. Sesekali ia melihat-lihat interior ruangan yang memang berciri khas layaknya bangunan kolonial Belanda. Terdapat perabotan bernuansa klasik yang terbuat dari kayu jati dan kayu walnut. Kebanyakan perabotan nampak berdebu, semakin menambah kesan menyeramkan bagi Aldian.
"Nah, ini kamar kamu." Pak Darto membuka sebuah pintu bertuliskan 201.
"Jadi, ini kamar saya, Pak?" tanya Aldian yang masih belum puas melihat-lihat.
"Kamar ini sudah dibersihkan Bu Lusi. Untuk sementara, kamu tidur di sini sendirian. Nanti kalau tahun ajaran baru, pasti ada Mahasiswa baru yang menemani kamu di sini," jelas Pak Darto.
Aldian menaruh tas ranselnya. Dia membuka pintu lemari sekadar mengecek, lalu dia mengangguk puas, menyimpulkan bahwa asrama itu tak seburuk yang dia pikirkan selama ini.
"Oh iya. Ayo ikut saya! Ada batas-batas wilayah di asrama ini yang tidak boleh kamu lewati. Ayo! Saya tunjukkan!" ajak Pak Darto.
Lagi, Aldian hanya menurut dan hanya mengikuti langkah kaki Pak Darto yang membawanya menuju sebuah pintu megah di ujung ruangan.
"Ini adalah kamar Noni Belanda, yang bernama Stephani Eleonora. Kami biasa memanggilnya Stevi," jelas Pak Darto.
"Tunggu! Tunggu! Memanggilnya? Maksud Bapak...." Aldian mulai berpikir yang tidak-tidak.
"Bukan. Maksud saya ... untuk memudahkan saja dalam pembersihan kamar. Karena nama Stephani terlalu panjang untuk diucapkan. Jadi kami menyingkatnya."