Pak Darto mulai memegang gagang pintu kamar Stephani. Namun lagi-lagi ia tercekat, teringat bawasannya Reisha tipikal orang yang sangat suka bertanya apalagi berbicara. Pak Darto menghela napas, untuk kedua kalinya, ia berbalik.
"Oh iya satu lagi. Jangan sekali-kali kamu banyak berbicara di dalam kamar Stephani. Iblis ular sangat tidak menyukai suara berisik," imbau Pak Darto.
"Oke. Saya mengerti." Reisha mengangguk paham.
Ceklek
Pak Darto mulai membuka pintu. Seketika mata Aldian, Kafi, dan Reisha melebar sejenak, takjub dengan nuansa klasik khas Belanda. Apalagi kamar itu terlihat sangat bersih dan terawat.
"Wow! Kamarnya sangat bersih dan terawat!" ujar Kafi takjub. "Gue pikir, kamar hantu seperti di film-film horor yang penuh dengan debu dan sarang laba-laba."
"Setiap Minggu, Bu Lusi membersihkan kamar Stevi. Itulah sebabnya kamar ini selalu bersih bila dibandingkan kamar-kamar yang lain yang hanya dibersihkan sebulan sekali," ungkap Pak Darto.
"Katanya tadi nggak boleh pegang barang apa pun di kamar ini. Tapi kenapa Bapak bilang ada petugas kebersihan yang membersihkan kamar ini?" Reisha mengerucutkan bibir mungilnya, protes terhadap pernyataan Pak Darto yang ia anggap bertolak belakang dengan pernyataan sebelumnya.
"Semua penghuni asrama di sini sangat tahu bahwa saya dan Lusi hanya ingin menjaga tempat ini. Itulah sebabnya kami berdua baik-baik saja," jelas Pak Darto.
Aldian memutar malas kedua bola matanya, merasa geram karena penyakit Reisha yang terlalu gemar bertanya mulai kumat lagi. "Semoga aja nih cewek nggak membuat kegaduhan saat ritual pembacaan mantra."
"Waaah nih cewek dari tadi kebanyakan protes. Kalau saja ritual ini nggak berhasil gara-gara dia terlalu cerewet. Awas saja ya!" batin Kafi.
"Oh iya. Sekali lagi saya ingatkan, jangan menyentuh barang apa pun, dan jangan bicara hal-hal yang tidak diperlukan," ulang Pak Darto. Kalau boleh jujur, Pak Darto kurang yakin setelah cukup lama berinteraksi dengan Reisha yang ia anggap memiliki karakter kekanak-kanakan.
"Baiklah." Reisha mengangguk paham.
"Iiih nih orang cerewet banget sih. Dari tadi mengulang-ulang imbauan yang sama. Emangnya dia pikir, gue ini bego apa? Emangnya dia pikir, gue nggak ngerti bahasa manusia apa?" Reisha berdecak kesal dalam hati.
Pak Darto mempersilakan Reisha untuk segera masuk. Reisha pun diarahkan untuk duduk bersila di atas sebuah kain putih berbentuk lingkaran.
"Ritual ini nggak akan lama, kan?" tanya Reisha pelan.
"Sssttt!" tegur Aldian yang bergidik takut. Barangkali iblis ular akan murka dan menyerang menyerang mereka semua seperti yang ia lakukan pada Tony dan Rafka.
Reisha seketika melipat mulutnya rapat-rapat, takut salah bicara di tempat yang terkenal mistis dan angker. Setelah mengantar Reisha, kini Pak Darto mengantar Kafi ke tempat selanjutnya. Mereka menuruni tangga, lalu menuju gudang penyimpanan. Lagi, Pak Darto memilih kunci, lalu membuka pintu. Di sana, ada beberapa rak buku yang terlihat sangat usang dan penuh debu.
"Wow!" Mulut Kafi menganga lebar. "Kenapa tempat ini berdebu sekali?"
"Memang saya dan Lusi jarang sekali membersihkan tempat ini karena para penghuni di sini lebih suka jika tempat mereka tidak tersentuh. Oleh karena itu, saya menuruti mereka," jelas Pak Darto.
"Oooh." Kafi mengangguk paham.
"Sama seperti yang saya katakan tadi, jangan menyentuh barang apa pun, dan jangan bicara hal-hal yang tidak diperlukan," imbau Pak Darto.
"Baiklah." Kafi mengangguk patuh.
Ya! Tidak ada hal lain yang bisa ia lakukan kecuali patuh pada apa yang diperintahkan Pak Darto, mengingat kewarasannya dipertaruhkan. Tentu saja Kafi tidak mau berakhir seperti Redi.
Pak Darto mulai mendorong salah satu rak buku, dan seketika rak buku tersebut bergeser memutar, menunjukkan sebuah ruangan yang sangat gelap gulita. Kafi cepat-cepat menyalakan lampu senter. Untuk sekadar berjaga-jaga, ia membawa tiga lampu senter cadangan di dalam tas yang ia bawa.
"Gelap banget ruangan ini. Semoga aja hantu-hantu di sini nggak bikin kewarasan gue ilang," pinta Kafi dalam hati.
Pak Darto melangkah mendahului Aldian dan Kafi. Ia membuka sebuah pintu yang berada di atas lantai kayu. Membuat Aldian dan Kafi meneguk ludah, baru saja mereka melongok, mereka dapat merasakan hawa makhluk lain yang sangat tidak bersahabat.
Kafi mulai menyorot sudut-sudut ruang bawah tanah. Bulu kuduknya langsung berdiri, melihat sisa-sisa jeruji besi bekas tahanan pemerintahan kolonial Belanda. Ia yang biasanya cerewet, tiba-tiba mendadak pendiam. Tak mau membuat para penghuni marah besar padanya.
"Aduuuh tempat ini nyeremin banget ya. Baru masuk beberapa langkah aja, gue udah mau kencing di celana. Apa masih ada kesempatan buat kabur?" Kafi mulai menimbang-nimbang. Apakah keputusannya menolong Aldian sudah benar atau tidak.
"Selama ini gue cuma mau hidup tenang seperti orang normal pada umumnya. Eh nggak tahunya gue punya temen yang tiba-tiba ngajakin gue buat ke tempat horor yang bisa ngilangin kewarasan. Sebenernya gue masih waras nggak sih? Kok bisa-bisanya gue mau menerima ajakan Aldian?" Kafi mulai meragukan keputusannya sendiri.
Sesampainya di tengah ruang bawah tanah, Pak Darto mulai menggelar kain putih berbentuk bulat, lalu menyuruh Kafi untuk duduk di atasnya. Tanpa bertanya apa pun, Kafi hanya bisa menuruti apa yang dikatakan Pak Darto.
"Ingat, kamu harus tenang. Jangan berisik!" imbau Pak Darto dengan suara pelan.
Kafi hanya mengangguk, bersumpah tidak akan mengatakan hal apa pun jika tidak diminta. Mengingat ia sangat sayang pada kewarasannya. Ya! Tidak ada orang di dunia ini yang mau kehilangan kewarasan.
Pak Darto dan Aldian pun meninggalkan Kafi sendirian di ruang bawah tanah. Kemudian, mereka keluar dari asrama. Namun sayangnya, gerimis turun tiba-tiba. Untung saja Pak Darto sudah menyiapkan dua jas hujan untuk ia pakai dan untuk dipakai Aldian. Dengan menggunakan motor butut Pak Darto, Aldian berkendara menuju hutan terlarang sesuai arahan Pak Darto. Di bawah rintik hujan yang perlahan semakin deras, Aldian melewati pepohonan pinus yang dedaunannya saling bergesek. Membuat suasana terasa semakin mencekam.
"Masih jauh nggak, Pak?" tanya Aldian.
"Sebentar lagi sampai kok," jawab Pak Darto mengeraskan suara karena tersaingi oleh suara hujan yang mulai deras.
Aldian meneguk ludah ketika melihat mobil tua yang tampak usang. Mobil itu tampak ditinggalkan begitu saja oleh pemiliknya.
"Kok bisa ada mobil di tengah hutan kayak gini ya?" Aldian hanya bertanya-tanya dalam hati. Mengingat imbauan Pak Darto yang melarangnya mengatakan atau menanyakan hal-hal yang tidak diperlukan.
"Ah, gue nggak boleh tanya yang nggak diperlukan. Walau gue mau nolongin orang, tetap aja gue sayang sama nyawa gue."
Aldian mengedarkan pandangan ke sekeliling, hanya berbekal penerangan dari lampu motor butut milik Pak Darto. Suara gesekan dedaunan pohon pinus terasa semakin menyeramkan. Membuat tangan Aldian mulai gemetar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HorrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
