Mata Aldian dan Kafi terbelalak lebar setelah bertemu dengan seorang wanita bernama Reisha Sirani. Wajahnya tampak seperti anak SMA yang masih ingusan. Senyumnya lebar, dengan lipstick merah jambu.
"Ha? Ternyata Reisha Sirani itu bocil SMA? Ya ampun! Penampilannya seperti anak-anak," batin Aldian.
"Hai. Perkenalkan nama saya Reisha Sirani. Biasa dipanggil Reisha." Perempuan bernama Reisha itu mengulurkan tangannya pada Aldian.
Pipi Aldian berkedut. Tak menyangka jika Reisha yang ia ajak berkomunikasi selama ini adalah seorang bocah SMA.
"Kenalin. Gue Aldian, temannya Redi." Aldian menjabat tangan Reisha sambil tersenyum kaku.
"Mohon maaf nih, Dek. Kalau boleh tahu, kamu ini umur berapa?" tanya Kafi.
"Umurku dua puluh tahun," jawab Reisha dengan suara khasnya yang seperti anak-anak di bawah umur. Sengaja bernada manja.
Aldian dan Kafi akhirnya bisa bernapas dengan lega. Ternyata orang yang ia hubungi selama ini bukanlah anak-anak di bawah umur.
"Oke. Kita to the point aja ya, Reisha. Sebenarnya kedatangan kita kemari buat negosiasi sama kamu," jelas Kafi.
"Negosiasi tentang kerjasama bikin konten, kan?" tebak Reisha antusias.
Kafi melirik Aldian karena bingung mau menjelaskan dari mana.
"Iyain aja deh. Entar kita pura-pura syuting konten youtube," bisik Aldian yang sudah malas mencari orang lagi untuk berpartisipasi.
"Iya. Em ...." Kafi masih berpikir. "Begini, konten kali ini akan berbeda dengan konsep konten-konten sebelumnya. Kali ini ... kita akan syuting tanpa Redi."
"Hah?" Reisha terpental kaget. "Tanpa Kak Redi? Nggak bisa gitu dong! Aku itu ngefans banget sama Kak Redi. Aku bela-belain datang dari jauh cuma buat bertemu Kak Redi."
"Masalahnya, sekarang Redi nggak bisa bertemu sama siapa pun. Dia sekarang kurang waras-" Kafi tercekat, ketika Aldian menyikut lengannya.
"Ha? Kurang waras?" Reisha semakin terpental kaget. "Maksudnya?"
"Maksudku, kurang sehat," ralat Kafi.
"Aku nggak percaya. Pokoknya aku mau ketemu sama Kak Redi secara langsung apa pun yang terjadi," tuntut Reisha.
"Nggak bisa. Beneran nggak bisa. Redi sekarang kurang sehat," jelas Kafi lembut. Ia tahu cara berbicara dengan perempuan yang sedang emosi.
Reisha melipat tangan. Dia kekeh ingin bertemu dengan Redi. Pasalnya, dia sudah mempunyai niatan sejak awal untuk berfoto bersama youtuber idolanya dengan impian bisa ia pamerkan pada teman-teman di kampusnya.
"Asal kalian tahu ya. Aku ke sini jauh-jauh dari Jogja buat ketemu sama Kak Redi. Aku bahkan bolos kuliah demi ketemu sama Kak Redi. Mana mungkin aku pulang tanpa kenang-kenangan bersama Kak Redi. Dia adalah idolaku!" tuntut Reisha menaikkan oktaf suaranya.
"Tapi-"
"Apa jangan-jangan kalian ini penipu? Kalian sengaja nge-hack instagram Kak Redi untuk memanfaatkan para followers?" tuduh Reisha yang sukses memotong ucapan Kafi.
"Enggaklah! Kita ini beneran temennya Redi," kilah Kafi membela diri.
"Oke kalau lo nggak percaya sama kita. Lo cuma mau bukti kan?" kata Aldian yang sudah muak dengan pertengkaran ini.
"Iya." Reisha mengangguk. "Aku cuma mau bukti kalau kalian beneran temennya Kak Redi. Kalian buktikan kalau kalian bukan seorang penipu."
"Oke. Ikut kita!" Aldian mengiyakan permintaan Reisha.
"Eh Aldian, lo yakin mau mempertemukan Reisha sama Redi? Entar kalau nih cewek kaget, gimana?" bisik Kafi ke telinga Aldian.
"Ya udahlah. Kan kaget doang. Kalau dia kabur, entar kita cari orang lain aja," timpal Aldian berbisik. "Gue udah kesel sama nih cewek. Soalnya dari awal dia kebanyakan nanya."
Aldian dan Kafi pun mengantar Reisha ke tempat Redi berada, yang tak lain dan tak bukan adalah rumah Kafi.
"Ini di mana? Kalian nggak mau ngapa-ngapain gue, kan?" tanya Reisha penuh curiga setelah mobil Kafi terparkir di salah satu kompleks perumahan yang terlihat sepi.
Aldian memutar malas kedua bola matanya. "Di mata gue, lo itu cuma bocil. Tidak menarik sama sekali."
"Kami mau ketemu Redi nggak sih?" tanya Kafi yang kini mulai emosi. Kalau dipikir sejak tadi, Reisha terus menerus mencurigainya.
"Ya iyalah. Aku kan ngefans banget sama Kak Redi," timpal Reisha.
"Kenapa nggak percaya kita? Hm?" tanya Kafi yang sebisa mungkin menahan emosinya.
"Wajah kalian nggak meyakinkan. Seperti preman pasar di pinggir jembatan. Mana mungkin aku bisa percaya kalian?" timpal Reisha sambil bergidik.
"Apa? Preman pasar kamu bilang?" Kafi menaikkan nada suaranya. Kesabarannya kini sudah benar-benar habis. Reisha ia nilai tidak tahu sopan santun.
"Eh sabar, Kaf." Aldian menepuk-nepuk bahu Kafi. Sekadar mencoba menenangkan.
"Kita butuh bantuan dia. Lo jangan bikin keruh suasana," bisik Aldian ke telinga Kafi.
"Cepat antar aku sekarang ke Kak Redi!" tuntut Reisha.
Kafi membuka pintu rumahnya, lalu mengantar Reisha ke sebuah kamar. Seketika mata Reisha terbelalak lebar saat menjumpai idolanya yang kini tengah duduk meringkuk di pojok kamar dengan tatapan linglung.
"Kak Redi?" Reisha cepat-cepat menghampiri Redi. "Kak Redi? Kamu kenapa, Kak?"
"Dia menjadi seperti itu karena membuat konten youtube asrama berhantu," jelas Aldian.
"Kak Redi?" Reisha memaju mundurkan bahu Redi. "Kak Redi? Kenapa Kakak jadi seperti ini?"
"Awalnya dia membuat konten youtube yang nggak seharusnya di asrama berhantu. Lo sebagai subscribers sejati pasti tahu tentang konten terakhir yang pernah dibuat Redi," papar Aldian.
Reisha menoleh. "Iya. Aku tahu. Konten youtube itu tentang asrama bekas rumah Belanda, kan?"
"Iya." Aldian mengangguk. "Di sana ada tiga tempat terlarang yang nggak boleh dimasuki. Tapi ..."
"Tapi apa?" tanya Reisha.
"Tapi Redi dengan lancang memasukinya tanpa permisi. Terlebih lagi, dia membuat konten youtube. Tentu aja penghuni asrama yang tak kasat mata menjadi murka. Mereka membuat Redi menjadi linglung seperti orang yang kurang waras," jelas Aldian.
Reisha menatap iba wajah Redi yang tampak pucat dengan tatapan ke sana kemari, tak tentu arah. Padahal, sebelumnya di mata Reisha, Redi adalah youtuber paling keren yang pernah ia tonton. Selain pemberani, Redi juga terlihat pintar dengan kacamata tebal.
"Apa ... apa Kak Redi bisa sembuh?" tanya Reisha.
"Iya." Aldian mengangguk. "Itulah sebabnya kita butuh bantuan lo."
"Bantuan yang kita minta cukup berbahaya karena terkait dengan makhluk astral yang tak kasat mata. Jadi ... kita akan bayar kamu, Reisha," imbuh Kafi.
"Iya. Pekerjaan ini cukup beresiko," tambah Aldian.
"Asalkan Kak Redi sembuh, aku rela ngelakuin apa aja demi Kak Redi," ujar Reisha.
"Tapi ... apa nggak apa-apa kalau lo bolos kuliah terlalu lama?" tanya Aldian memastikan, mengingat Resiha adalah seorang Mahasiswi yang memiliki tanggungan kelas perkuliahan. "Soalnya kita butuh bantuan lo seenggaknya seminggu penuh, barangkali ada kesalahan di percobaan pertama."
"Demi Kak Redi, aku rela mengulang semester," ujar Reisha penuh keyakinan.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HorrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
