71. HAMBATAN RITUAL

132 11 5
                                        

Erwin sudah sering mendengar cerita bahwa kamar noni belanda yang ada di asramanya itu terlarang untuk dimasuki siapa pun. Namun, rasa penasarannya terhadap arsitektur khas Belanda di dalam ruangan itu membuat hatinya gelisah. Ia ingin menikmati setiap bangunan kuno yang ia jelajahi.

"Konon, kamar itu punya langit-langit melengkung dan kaca patri dari Rotterdam," bisik Erwin sambil menyentuh gagang pintu yang terasa dingin.

Dari dalam kamar, Maya terkesiap. Ia menyadari ada langkah kaki yang mendekat ke arahnya. Dan ia yakin langkah kaki itu bukan ciri khas dari Aldian, Kafi ataupun Pak Darto. Suara langkah kaki itu terdengar asing. 

Erwin mencoba membukan pintu kamar yang biasanya terkunci rapat. Kedua alisnya terangkat kaget ketika ia berhasil membuka pintu itu. Terlebih lagi, ia melihat seorang gadis cantik yang duduk bersila di atas kain putih.

"Lo siapa?" tanya Erwin yang masih mencoba meredam kekagetannya.

"Ya harusnya aku yang tanya. Kamu siapa?" Maya malah bertanya balik.

"Gue anak yang ngekos di sini. Sekarang, lo jawab! Lo siapa?"

Maya melirik jam digital yang ada di layar ponselnya. Sebentar lagi, ritual pembacaan mantra akan segera dimulai. Tidak ada waktu untuk menjelaskan panjang lebar pada orang yang tidak ada kaitannya dengan ritual ini.

"Kenapa kamu ke sini. Bukannya Pak Darto sudah melarang seluruh penghuni asrama buat masuk ke kamar ini?" Maya mencoba mengalihkan pembicaraan

"Gue cuma pengen lihat-lihat doang. Dinding, jendela, atapnya—semua tampak unik. Ya kalau boleh jujur, gue suka eksplor tempat-tempat kuno."

"Kamar ini bukan sekadar ruang. Setiap ukiran dan jendelanya dibuat untuk menjaga keseimbangan antara cahaya dan kehidupan. Masuk tanpa izin bisa mengganggu penghuni kamar ini yang dijaga selama puluhan tahun," jelas Maya.

Erwin terdiam. Ia menatap kaca patri yang memantulkan cahaya lampu remang-remang, menciptakan bayangan indah di wajah Maya. Ada keanggunan dan misteri yang berpadu di kamar itu.

"Pergilah. Kamar ini perlu disucikan," kata Maya.

"Gue cuma mau masuk doang kok!" Erwin mencoba melangkah masuk. "Cuma mau lihat-lihat bentar."

Maya cepat-cepat mengambil candelabra dari atas meja, lalu memukulkannya ke kepala Erwin sebelum pemuda itu berhasil memasuki kamar Stevi. Seketika Erwin jatuh pingsan tak sadarkan diri. Sebagai anak indigo, Maya tahu betul kalau arwah Stevi sudah mulai tidak nyaman dengan keberadaan Erwin. 

Maya melirik ke arah ponselnya, ia bernapas lega ketika melihat jam digital belum menunjukkan pukul 12 malam. Cepat-cepat ia mengeluarkan tubuh Erwin yang tergeletak di dekat pintu. Setelah membereskannya, Maya bergegas kembali duduk bersila di atas kain putih.

Sementara di tempat lain, Aldian dan Pak Darto telah tiba di area hutan yang oleh warga sekitar disebut "tanah terlarang." Tidak ada kata yang keluar dari mulut mereka selama perjalanan. Udara malam terasa lembap, dan aroma tanah basah menyergap begitu mereka menghentikan motor di dekat batu besar berlumut.

Tanpa banyak bicara, Pak Darto turun lebih dulu. Ia membuka lipatan kain putih yang dibawanya, lalu membentangkannya membentuk lingkaran tepat di atas batu besar itu. 

"Duduklah di sini, seperti yang sudah-sudah," ujarnya datar. "Kali ini, aku akan meninggalkanmu sendirian untuk sementara waktu."

Aldian hanya mengangguk paham. Ia lalu duduk di atas batu dingin itu dengan bekal seadanya — sebuah senter kecil dan ponsel di tangan. Pak Darto menatapnya sesaat, memastikan posisi Aldian sesuai petunjuk, lalu kembali menyalakan motor dan melaju perlahan meninggalkan lokasi sejauh kurang lebih satu kilometer.

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang