72. AKHIRNYA!!!

102 10 1
                                        

Maya perlahan membuka matanya. Pandangannya masih buram, tapi ia bisa melihat samar-samar sosok Stephani Eleonora berdiri di hadapannya. Arwah gadis itu menatap lembut, seolah berterima kasih. Senyum tipis menghiasi wajah pucatnya sebelum tubuhnya perlahan memudar, berubah menjadi kabut tipis yang terangkat dan lenyap bersama hembusan angin malam.

Kafi hanya bisa memandangi pemandangan itu dengan tatapan kosong. Ia tidak benar-benar mengerti apa yang baru saja terjadi. Tubuhnya masih gemetar hebat, antara takut dan takjub. Aldian pun menatap sekeliling dengan napas tersengal, mencoba memastikan semuanya benar-benar berakhir.

Tak lama, suara Pak Darto terdengar dari ponsel. Suaranya tenang, namun sarat kelegaan. 

"Semua sudah selesai," ucapnya pelan. "Kutukan itu telah benar-benar terlepas."

Ucapan itu membuat ketiganya terdiam sejenak. Lalu tanpa sadar, senyum perlahan merekah di wajah mereka. Rasa lega dan haru menyelimuti dada. Maya menengok ke arah jendela, terlihat suasana malam yang mulai tenang, sementara Aldian memejamkan mata dan menarik napas panjang, lega bukan main. Kafi bahkan tertawa kecil, nyaris tak percaya bahwa semua penderitaan itu akhirnya berakhir.

"Yang bener? Kutukan udah lepas? Beneran?" Kafi melompat kegirangan.

"Iya. Semua kutukan sudah lepas. Semua arwah terserap oleh alam. Kembali ke tanah, tempat mereka berasal," timpal Pak Darto.

"Akhirnya ... akhirnya usaha gue nggak sia-sia." Aldian menitihkan air mata.

Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, udara di sekitar mereka terasa ringan. Tak ada lagi desau aneh di antara pepohonan, tak ada lagi bisikan dari dunia yang tak kasat mata. Yang tersisa hanyalah ketenangan. Mereka menjadi saksi mata akhir dari kutukan panjang yang menghantui tiga tempat terlarang.

Beberapa saat setelah kejadian itu, Aldian, Kafi, Maya, dan Pak Darto sepakat untuk bertemu kembali di asrama tua tempat awal mula semua peristiwa terjadi. Pertemuan itu bukan untuk ritual atau penyucian lagi, melainkan untuk mengucapkan salam perpisahan.

Mereka berdiri di halaman asrama yang kini terasa lebih tenang. Dari kejauhan, samar-samar mereka mendengar suara adzan Subuh. Udara pagi berhembus lembut, membawa aroma tanah basah setelah gerimis semalam. 

Pak Darto menatap ketiga anak muda itu, ada kebanggaan di matanya. "Saya sangat berterima kasih pada kalian bertiga. Berkat usaha kalian, ketiga tempat terlarang sudah disucikan."

Mata Aldian, Kafi, dan Maya melebar ketika benjolan-benjolan di sekujur tubuh Pak Darto bekas kegagalan ritual sebelumnya tiba-tiba menyusut, lalu menghilang secara ajaib. Baru pertama kali ini mereka melihat penyakit yang tidak disebabkan oleh alasan medis.

"Pak Darto udah sembuh!" teriak Kafi senang.

"Iya." Pak Darto mengangguk. "Benjolan-benjolan itu memang disebabkan kutukan. Karena kutukannya sudah hilang, benjolan-benjolan itu pasti juga hilang. Dan saya yakin, Redi juga sudah waras seperti sedia kala."

"Maksud Pak Darto ... Redi udah sembuh?" tanya Aldian memastikan.

"Iya. Redi sudah sembuh karena ketidakwarasannya juga disebabkan oleh kutukan," jawab Pak Darto.

"Lalu ... apa selanjutnya Pak Darto tetap akan menjaga asrama ini?" tanya Aldian.

"Tidak." Pak Darto menggeleng. "Mulai sekarang, saya akan mengejar mimpi saya yang sempat tertunda karena mentaati pesan kakek saya. Saya akan segera berhenti sebagai penjaga asrama."

"Terima kasih, Pak Darto." Aldian memeluk Pak Darto. "Terima kasih telah menjaga asrama ini selama puluhan tahun."

"Sama-sama," timpal Pak Darto.

"Terima kasih, Maya. Semua ini juga karena bantuan dari lo," kata Aldian. Dia mengulurkan tangannya pada Maya.

Maya tersenyum, lalu menjabat tangan Aldian. "Sama-sama. Aku juga seneng karena bisa bantu banyak orang."

Ketika Maya hendak melepaskan tangannya, Aldian masih menjabat erat tangan Maya. Seolah enggan terpisah dari gadis itu setelah semua ritual berakhir.

"Kita masih bisa jadi teman setelah ini, kan?" tanya Aldian malu-malu.

Maya tersenyum, lalu mengangguk pelan. "Iya," jawabnya.

"Gue boleh chat elo, kan?"

"Iya. Boleh." Maya kembali mengangguk.

"Cieee ... ada yang mekar tapi bukan taman bunga," kata Kafi sambil menaik turunkan kedua alisnya. "Uhuuuyyyy!"

Di sisi lain, Redi yang sebelumnya terjebak dalam kutukan tempat terlarang, kini perlahan mulai sadar. Matanya terbuka perlahan, menatap langit-langit kamar yang remang. Napasnya terengah, keringat dingin membasahi pelipis. Suara-suara aneh yang dulu menghantui kepalanya kini mulai menghilang satu per satu, meninggalkan keheningan yang asing.

"Gue ... ada di mana ini?" gumamnya lirih sambil memegangi kepala. Pandangannya berputar, mencoba mengenali ruangan. Ia duduk perlahan, mencoba mengingat apa yang sebenarnya terjadi.

Beberapa bayangan samar melintas di pikirannya — ruang bawah tanah yang gelap, suara jeritan, dan kakinya sempat terseret. Dahi Redi mengernyit, berusaha membedakan mana kenyataan dan mana halusinasi. Napasnya mulai terengah, pengalaman menakutkan itu bukan sekadar halusinasi.

"Apa semuanya udah berakhir?" Redi bertanya-tanya. "Kenapa gue masih hidup? Apa ... kutukan itu benar-benar hilang?"

Hening beberapa saat. Hanya suara detak jam di dinding yang menemani kebingungannya. Ia lalu menatap tangannya sendiri, memastikan bahwa tubuhnya benar-benar nyata, bukan sekadar bayangan dari dunia arwah.

Dalam hati, Redi merasa campur aduk antara lega dan takut. Leganya karena kesadarannya telah kembali, namun takut jika semua itu hanya sementara. Ia memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam.

"Terima kasih, Tuhan... kalau memang ini akhir dari kutukan itu, gue janji nggak bakalan kembali ke tempat terlarang itu lagi. Mulai sekarang, gue bakalan berhenti eksplor tempat-tempat angker. Karena benar-benar berbahaya."

Redi menitihkan air mata ketika ia samar-samar mengingat perjuangan Aldian yang berusaha membuatnya kembali mendapatkan kewarasannya. Ia tak tahu bagaimana cara membalas budi pada Aldian. Tanpa Aldian, mungkin ia sekarang masih seperti orang yang kurang waras.

"Gue bakalan balas budi ke Aldian. Berkat dia, gue kembali waras," kata Redi.

Di sisi lain, Erwin perlahan membuka matanya. Kepalanya terasa berat, nyeri berdenyut di pelipis akibat lemparan keras candelabra yang tadi malam mengenai dirinya. Pandangannya masih buram, namun perlahan ia mulai mengenali tempat di sekitarnya.

"Aduh... kepala gue..." gerutunya sambil mengusap dahinya yang masih perih. Potongan ingatan semalam kembali terlintas — Maya, ritual, dan dirinya yang nekat ingin melihat kamar terlarang itu. Ia mendesah panjang. "Gila, apa yang sebenernya terjadi semalam?"

Ketika berdiri, matanya tiba-tiba menangkap sesuatu yang membuat jantungnya berdegup kencang — pintu kamar Stephani Eleonora terbuka lebar. Cat kayunya mengelupas, namun ukiran-ukiran Belanda kuno di sekeliling kusen masih tampak megah, menantang waktu.

Sebagai pecinta arsitektur klasik, rasa ingin tahu Erwin langsung membuncah. Ia melangkah hati-hati, seolah diseret oleh pesona ruangan itu. "Wow... detailnya luar biasa. Lengkungan jendelanya khas gaya kolonial. Lihat ini, motif di dindingnya masih utuh," gumamnya kagum.

Tidak ada yang terjadi padanya. Karena memang kamar itu sudah selesai disucikan. Sekarang, ia bebas menjelajahi asrama sesuka dan sebanyak yang ia mau. Tidak akan ada apa-apa kecuali ia terjatuh sendiri karena kecerobohan.


-00-

26 Oktober 2025


Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang