Aldian dan Rafka menatap miris pada Redi yang kini duduk meringkuk di atas sofa. Pakaiannya compang-camping, rambutnya acak-acakan, sementara tangan dan kakinya penuh dengan luka lebam seolah usai dihardik sekumpulan orang.
"Red, apa yang terjadi sama elo?" tanya Rafka.
Mata Redi berubah waspada, melihat ke sekeliling dengan sorot ketakutan. Dia tak menjawab, seakan pertanyaan Rafka hanyalah angin lalu.
"Pak, sebenarnya apa yang terjadi pada Redi?" tanya Aldian.
"Dia tidak hanya melanggar batas wilayah larangan. Tapi dia juga mengusik ketenangan penghuni asrama ini," jelas Pak Darto.
Aldian merenung, mengingat kembali apa yang dilakukan Redi beberapa hari terakhir. Bocah itu setiap hari sibuk merekam segala aktivitasnya di dalam asrama. Tak cukup dengan itu, Redi juga merekam dan memperlihatkan ke seluruh dunia tentang keberadaan gudang penyimpanan. Wajar, jika penghuni asrama marah besar.
"Lalu apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Pak? Kita nggak bisa membiarkan Redi terus seperti ini," kata Aldian.
"Tidak ada yang bisa kita lakukan. Dia telah menyalahi aturan asrama dan membuat mereka marah," timpal Pak Darto.
"Ya nggak bisa gitu dong! Kasihan keluarganya kalau tahu keadaan Redi jadi seperti ini." Aldian mulai emosi. Ia menaikkan volume suaranya, cepat-cepat meraih kerah baju Pak Darto. "Bapak punya anak nggak? Bayangkan kalau anak Pak Darto berada di posisi Redi."
"Al, sabar," cegah Rafka yang spontan menurunkan tangan Aldian dari kerah baju Pak Darto.
"Gimana gue bisa sabar, Raf? Kalau Pak Darto tahu bahwa asrama ini berbahaya, seharusnya dia bilang ke pihak kampus buat menutup asrama ini. Jadi nggak ada korban lagi di sini," ujar Aldian ngotot.
"Saya sudah sering memohon pada pihak kampus agar mendirikan asrama lain. Tapi pihak kampus masih belum memiliki dana yang cukup untuk membangun asrama baru. Terpaksa, bangunan ini masih difungsikan," jelas Pak Darto.
"Persetan dengan alasan, Bapak!" bentak Aldian. "Kalau benar seperti itu, seharusnya Bapak memberi tahu Mahasiswa yang ingin tinggal di asrama ini kalau tempat ini adalah tempat yang berbahaya."
"Al, sudah, Al! Marah nggak akan menyelesaikan masalah," kata Rafka mencoba menenangkan Aldian.
"Lalu sekarang bagaimana dong, Raf? Kasihan si Redi. Gue nggak bakal bisa tega sama keluarga Redi saat tahu Redi menjadi seperti ini." Aldian menunjuk Redi yang tak henti-hentinya menggigiti kuku jarinya sendiri.
"Ya makanya tenang dulu!" bentak Rafka. "Masalah ini harus diselesaikan dengan kepala dingin."
Aldian terdiam menahan emosi. Dia menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskannya, memejamkan mata untuk mengendalikan emosinya.
"Sekarang, mendingan kita bawa Redi ke kamar dulu," kata Rafka. Matanya mengisyaratkan sesuatu pada Aldian, seolah-olah dia ingin mengatakan hal yang tidak boleh diketahui oleh Pak Darto.
Aldian mengangguk tipis, pertanda mengerti apa isyarat mata dari Rafka.
👻👻👻👻👻
Zaimatul Hurriyyah
Selasa, 26 November 2019
Maaf banyak typo karena males ngedit.👍 aku suka nulis tapi malas ngedit.
Update sedikit dan suka-suka. Tidak terikat waktu.
KAMU SEDANG MEMBACA
Penghuni Asrama
HorrorAldian bukan anak indigo yang bisa melihat "mereka". Tapi Aldian bisa merasakan ada sesuatu di asrama barunya. "Mereka" mengincarnya. "Mereka" menginginkannya masuk ke alam "mereka". Aldian menyimpulkan bahwa penghuni asrama bukan hanya manusia, ta...
