69. PARTNER BARU

4.6K 317 173
                                        

Tak terasa beberapa hari telah berlalu. Kini Kafi telah menyelesaikan ujiannya. Misi berikutnya hanyalah mencari partner perempuan yang masih perawan.

"Gimana? Lo udah dapat cewek perawan?" tanya Kafi sambil menyedot es tehnya.

"Udah. Hari ini katanya dia mau datang ke sini. Namanya Maya Cintyana. Kita udah janjian lewat DM kemarin." Mata Aldian menyisir di semua sudut restoran, berharap gadis bernama Maya Cintyana yang ia kenal lewat DM segera datang.

"Coba lihat foto profilnya!" Kafi merebut ponsel Redi yang dipegang Aldian.

"Foto profilnya cuma gambar anime."

"Ha? Cuma gambar anime? Dan lo percaya kalau orang ini bakalan datang?" Kafi terperanjat kaget. Tak biasanya Aldian percaya dengan orang asing yang bahkan tak berani memasang foto profil.

"Iya deh. Gue bego karena percaya sama orang yang bahkan nggak ada foto profilnya. Tapi mau bagaimana lagi? Gue udah jenuh digampar sama disiram cewek-cewek yang mau kita ajak. Jadi gue random ngajak cewek yang bernama Maya Cintyana itu," jelas Aldian panjang lebar.

Kafi menghela napas, tak menyangka jika Aldian mengambil keputusan seperti itu. Padahal biasanya Aldian selalu mengambil keputusan dengan hati-hati.

Seorang gadis tinggi semampai, bsrkulit putih mulus dengan bibir merah jambu terlihat memasuki restoran. Beberapa mata terpana akan kedatangannya.

"Tunggu! Jangan-jangan cewek itu Maya Cintyana!" Aldian menunjuk ke arah gadis cantik berambut panjang yang kini jadi sorotan.

Kafi berbalik, matanya melebar, terperangah kagum akan kecantikan gadis yang kini berjalan menuju ke arahnya.

"Kayaknya bener deh. Soalnya dia bilang mau pakek baju hitam, celana jeans. Ciri-cirinya sama banget kayak di DM," imbuh Aldian.

"Mana ada cewek cantik yang enggak memamerkan kecantikannya di sosial media!" kilah Kafi.

Gadis cantik itu kini berdiri tepat di hadapan Aldian dan Kafi, lalu mengulurkan tangan. Aldian dan Kafi seketika mematung, terkagum-kagum akan kecantikan gadis yang kini ada di depan mereka. Ternyata jauh lebih cantik bila dipandang dari dekat. Cukup lama mematung, sampai-sampai mereka lupa menjabat tangan gadis itu.

"Perkenalkan nama saya Maya Cintyana. Bisa dipanggil Maya," gadis bernama Maya itu masih mengulurkan tangannya.

Aldian mengerjap, gelagapan menjabat tangan gadis itu. "Gue Aldian, temennya Redi."

Kafi cepat-cepat memisahkan tangan Aldian dengan tangan gadis itu. Buru-buru mengambil alih jabatan tangan itu.

"Nama saya Kafi. Saya temennya Aldian." Kafi meringis, masih belum berkedip mengagumi kecantikan gadis bernama Maya Cintyana itu.

"Silakan duduk!" Aldian mempersilahkan.

Ragu-ragu, gadis bernama Maya itu akhirnya ikut duduk dalam satu meja bersama Aldian dan Kafi. Kalau dilihat-lihat, wajah kedua pemuda itu tidak seperti orang jahat menurut pengelihatannya. Itulah sebabnya ia merasa sedikit lebih tenang.

"Sebelumnya gue udah jelasin lewat DM kalau kita butuh partner untuk melakukan ritual penyucian," jelas Aldian hati-hati, trauma disiram dan digampar oleh gadis-gadis seperti sebelumnya.

"Iya." Maya mengangguk. "Saya tahu."

"Oh iya. For your information aja, kita berdua nggak pernah punya catatan kriminal atau riwayat pelanggaran hukum apa pun. Bahkan kita berdua nggak pernah kena tilang sekali pun. Jadi lo nggak usah curiga kalau kita ini orang jahat. Kalau lo perlu, gue sama temen gue bakalan siapin SKCK," papar Aldian panjang lebar, berusaha meyakinkan Maya.

Maya terkikik, tak menyangka jika orang yang selama ini berkomunikasi dengannya ternyata cukup lucu. Padahal saat berkomunikasi lewat DM, terkesan sangat dingin dan serius.

"Kok ketawa sih?" Aldian keheranan.

"Nggak apa-apa." Maya mencoba menghentikan tawanya. "Saya kira Masnya orang serius."

"Ya emang dia serius kok, Mbak," kata Kafi.

"Tapi kenapa tadi pakek acara ngelawak segala? Mau bawa SKCK pula!" Maya kembali terkikik, gagal menahan tawanya.

"Ceritanya panjang. Udah puluhan kali kita nyari partner buat ritual penyucian, tapi mereka salah sangka dan mengira kita orang aneh. Jadi gue jelasin terlebih dahulu kalau gue bukan orang jahat," papar Aldian.

"Iya. Saya tahu kok kalau Mas Aldian sama Mas Kafi bukan orang jahat. Kelihatan dari auranya," timpal Maya.

Aldian menghela napas lega, tak menyangka jika Maya akan menganggapnya seperti orang normal pada umumnya.

"Oke. Gue lega kalau lo berpikir seperti itu. Memang benar kita berdua bukan orang aneh. Tapi banyak yang salah paham aja," kata Aldian.

"Oh iya. Ngomong-ngomong, ritual seperti apa yang akan kita lakukan?" tanya Maya.

"Em ... begini, ritualnya bukan seperti nyari tuyul atau pesugihan. Ritual ini cuma buat penyucian agar arwah-arwah penasaran kembali ke alamnya dan berhenti menggaggu alam manusia," jelas Aldian.

"Iya. Maka dari itu, kita butuh gadis perawan." Kafi menambahkan.

"Oooh." Maya mengangguk paham, sama sekali tidak kaget dengan apa yang dikatakan Kafi.

"Kok elo nggak kaget sih?" tanya Aldian keheranan, mengingat ia sudah berkali-kali mendapatkan tamparan dari banyak gadis karena menanyakan keperawanan.

"Enggak." Maya menggelengkan kepalanya. "Ritual penyucian memang membutuhkan manusia-manusia suci yang belum tersentuh kesuciannya. Saya pernah mendengar cerita seperti itu dari almarhumah nenek saya."

"Oooh jadi lo pernah dengar ritual semacam itu ya?"

"Sejak umur lima tahun, saya bisa melihat banyak sosok yang tidak bisa dilihat oleh orang lain. Kemampuan turunan dari nenek," ungkap Maya. "Sebenarnya saya juga nggak mau punya kemampuan seperti itu. Udah berulangkali ditutup, tapi tetap aja kemampuan itu terus kembali."

"Kalau boleh tahu, apa motivasi lo buat ikut ritual penyucian ini?" tanya Aldian dengan mukanya yang mulai serius.

"Saya ingin menolong Kak Redi. Udah lama Kak Redi nggak upload video youtube, padahal biasanya dia upload setiap hari. Saya khawatir dengan kondisinya. Itulah sebabnya saya mau pergi ke sini untuk menemui kalian," jawab Maya.

"Kondisi Redi sangat miris. Udah lama dia kehilangan akal sehatnya. Dia udah seperti orang gila setelah memasuki tempat terlarang," jelas Kafi. "Satu-satunya cara mengembalikan kewarasan Redi adalah dengan melakukan ritual penyucian."

"Saya sudah tahu bahkan Kak Redi akan berakhir kehilangan kewarasan saat nonton part terakhir yang ia upload di youtube. Di video itu, saya melihat para arwah yang ada di asrama sudah sangat marah. Mereka hanya tidak mau diekspos," ungkap Maya yang mampu melihat apa yang tidak mampu penonton lainnya lihat.

"Maya udah ngingetin Redi. Tapi sepertinya Redi haus adsense dan nggak memedulikan saran Maya. Sejak saat itulah Redi kehilangan kewarasannya," jelas Aldian.

"Saya kasihan dengan kondisi Kak Redi. Setiap hari saya berpikir untuk menolongnya walaupun enggan. Nggak lama setelah itu, Mas Aldian menawarkan kerja sama. Memang awalnya saya ragu, tapi akhirnya saya memutuskan untuk ikut dalam ritual penyucian tempat-tempat angker yang mungkin sudah mengganggu aktivitas manusia."

Penghuni AsramaCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang